College Papers

Pengaruh Aksesibilitas terhadap Kondisi Sosial Ekonomi di Kecamatan Banjarmasin Selatan

Pengaruh Aksesibilitas terhadap Kondisi Sosial Ekonomi di Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin
Asma Zuhro
Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
Email: [email protected]
Abstrak. Perkembangan kondisi sosial dan ekonomi wilayah dapat dilihat dari pembangunan dan laju pertumbuhan sosial ekonomi yang meningkat. Aksesibilitas merupakan suatu ukuran kemudahan pencapaian lokasi dan salah satu faktor berkembangnya suatu wilayah. Sarana transportasi dan jaringan jalan menjadi sangat penting di wilayah yang sedang berkembang, karena menyediakan akses bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa sehari-hari, serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi. Salah satu kecamatan di Kota Banjarmasin yang memiliki dua sistem jaringan transportasi dan kepadatan penduduk yang tinggi yaitu kecamatan Banjarmasin Selatan dengan kepadatan penduduk 4.175 juta jiwa per km². kepadatan penduduk yang tinggi menjadikan kondisi sosial dan ekonomi wilayah kecamatan ini dipengaruhi ketersediaan sarana dan prasarana aksesibilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran tingkat aksesibilitas dan seberapa besar pengaruh aksesibilitas terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin dengan analisis spasial. Pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur, observasi lapangan, dan kuisioner. Variabel yang digunakan antara lain kondisi jaringan jalan, ketersediaan transportasi umum, jenis mata pencaharian,, pendapatan keluarga, dan pendidikan terakhir. Hasil penelitian adalah peta sebaran pengaruh tingkat aksesibilitas terhadap kondisi sosial ekonomi (overlay) peta tingkat aksesibilitas dengan wilayah kondisi sosial ekonomi). Aksesibilitas cenderung mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat dimana kawasan yang berada disekitar pusat perekonomian dengan sarana dan prasarana transportasi yang sangat memadai cenderung memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi.

Kata kunci : aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, Kecamatan Banjarmasin Selatan
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Perkembangan pembangunan di Indonesia cenderung berpusat di kawasan perkotaan daripada kawasan pedesaan. Kebijakan pembangunan yang tidak merata dapat menimbulkan perbedaan kondisi sosial ekonomi antara perkotaan dan pedesaan. Perencanaan pembangunan transportasi dapat meningkatkan aksesibilitas masyarakat. Sarana dan prasarana transportasi yang minim menimbulkan sulitnya akses bagi masyarakat. Konsep aksesibilitas adalah konsep yang menggabungkan sistem tata guna lahan secara geografis dengan sistem jaringan transportasi yang menghubungkannya (J,Black, 1981). Ketersediaan sarana dan prasarana transportasi dapat memicu meningkatnya aksesibilitas yang menyebabkan bertumbuhnya pusat-pusat perekonomian desa serta peningkatan kondisi sosial masyarakat. Pembangunan transportasi sebagai promotor pembangunan dan aksesibilitas dapat memperbaiki kegiatan perekonomian yang berdampak pada meningkatnya kondisi sosial ekonomi (Hirschman, 1958).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Kecamatan Banjarmasin Selatan merupakan salah satu daerah bagian Kota Banjarmasin yang memiliki kondisi sosial ekonomi yang bervariasi. Hal ini dapat diperhatikan pada jenis sistem jaringan transportasi yaitu transportasi darat serta perbedaan kepadatan penduduk antar desa yang cukup signifikan. Berdasarkan berita yang dilansir dari banjarmasinpost.co.id pada 4 Maret 2018, akses jalan ke Kantor Kelurahan Pemurus Baru, puskesmas, dan sekolah terendam air dan beberapa jalan mengalami kerusakan selama dua minggu terakhir. Kondisi ini menyulitkan pengendara yang melalui jalan tersebut dan menghambat aktivitas perekonomian maupun sosial. Perbedaan kondisi sosial ekonomi di Kecamatan Banjarmasin Selatan ini salah satunya dipengaruhi faktor aksesibilitas. Kawasan dengan aksesibilitas yang tinggi memiliki kondisi sosial ekonomi lebih berkembang dan beragam daripada kawasaan dengan aksesibilitas yang lebih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aksesibilitas terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin.

1.2 Tinjauan PustakaKondisi Sosial EkonomiPerkembangan suatu kawasan dapat ditinjau dari kondisi sosial ekonominya. Kualitas hidup atau kondisi sosial ekonomi dapat diukur berdasakan pendapatan, pendidikan, dan jenis mata pencaharian (Doppler, 2010). Pendapatan yang diterima merupakan hasil usaha seseorang dalam bentuk uang yang dihasilkan dari penjualan barang maupun jasa pada periode tertentu. Tingkat pendapatan smenurut Badan Pusat Statistik tahun 2012 yaitu :Golongan atas dengan pendapatan rata-rata Rp 2.500.000 – Rp 3.500.000 per bulan.

Golongan menengah dengan pendaptan rata-rata Rp 1.500.000 – Rp 2.500.000 per bulan.

Golongan bawah dengan pendapatan rata-rata kurang dari Rp 1.500.000 per bulan.

Menurut Daldjoeni (1987), mata pencaharian merupakan kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan kehidupan yang layak, dimana daerah satu dengan daerah lainnya memiliki karakteristik berbeda sesuai dengan keadaan demografi dan kualitas penduduk. Berdasarkan definisi mata pencaharian tersebut, maka mata pencaharian adalah pekerjaan pokok yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup dan meningkatkan taraf hidup dengan memanfaatkan sumber daya pada lingkungan. Mata pencaharian dibedakan menjadi mata pencaharian pokok dan mata pencaharian sampingan (Susanto, 1993). Adapula jenis mata pencaharian yang dibagi dalam bidang pertanian dan non-pertanian. Jenis mata pencaharian menurut Mubyarto (1985) antara lain petani, nelayan, buruh, pedagang, pekerja angkutan, pekerja bangunan, pekerja professional, dan pekerja jasa.
Pendidikan merupakan suatu proses memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan tingkah laku pribadi. Menurut BPS (2013), pendidikan merupakan salah satu bidang utama pembangunan selain kesehatan dan ekonomi. Kualitas pendidikan seseorang dapat mempengaruhi status sosial ekonominya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin mudah dalam memperoleh pekerjaan serta penghasilan yang semakin tinggi. Golongan tingkat pendidikan rendah yaitu tidak tamat SD dan tamat SD, tingkat pendidikan menengah yaitu SMP dan SMA, dan tingkat pendidikan tinggi yaitu perguruan tinggi. Jalur pendidikan menurut UU RI No. 20 Tahun 2003 yaitu jalur formal (Pendidikan dasar, menengah dan tinggi).
AksesibilitasAksesibilitas merupakan suatu ukuran kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain dan kemudahannya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi (Black, 1981). Salah satu variabel yang dapat dinyatakan apakah tingkat aksesibilitas itu tinggi atau rendah dapat dilihat dari banyaknya sistem jaringan dan angkutan yang tersedia pada daerah tersebut. Pengembangan sarana dan prasarana transportasi dapat menghasilkan beberapa keuntungan diantaranya kemudahan akses ke berbagai fasilitas dan keuntungan penghematan waktu, usaha, dan biaya transportasi. Menurut Tamin (1997: 5), transportasi mempunyai peran sebagai alat bantu untuk mengarahkan pembangunan di daerah, sehingga pada kondisi tersebut ketersediaan sarana dan prasarana transportasi menjadi hal yang penting untuk meningkatkan aksesibilitas dan berdampak pada tingginya minat masyarakat untuk melakukan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi dan transportasi memiliki hubungan yang erat, karena transportasi dapat mendorong kegiatan ekonomi dengan tersedianya infrastruktur transportasi yang meningkatkan mobilitas penduduk. Selain berperan dalam kegiatan ekonomi, transportasi juga memiliki peran dalam bidang pendidikan. Kesulitan aksesibilitas pendidikan mengakibatkan masyarakat sulit untuk memperoleh pendidikan.

Jenis angkutan transportasi secara umum menurut Vuchic (1981) berdasarkan cara operasi dan penggunaannya terbagi menjadi tiga kategori yaitu :
Transportasi pribadi, yaitu kendaraan milik pribadi dan dioperasikan oleh pemiliknya untuk tujuan pribadi. kendaraan kategori ini adalah seluruh kendaraan milik pribadi.

Paratransit atau transportasi sewa adalah kendaraan yang disediakan operator dan dapat digunakan oleh pihak yang menyewa untuk tujuan individu. Misalnya, taksi, bis panggilan, dan angkot.

Angkutan perkotaan (urban transit), angkutan massal (mass transit) atau angkutan umum (public transportation) yang tersedia dengan tarif dan jadwal rute yang telah ditentukan.

Sistem jaringan jalan merupakan prasarana transportasi yang mendukung terjadinya pergerakan. Jalan merupakan prasaranan darat yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pengguna jalan dalam berlalu lintas. Semakin tinggi kuantitas dan kualitas jaringan jalan maka makin tinggi kualitas dan kuantitas pergerakan yang dihasilkan (Kusbiantoro, dkk., 2005).

Dalam beberapa hal lalu lintas dinyatakan dengan Average Annual Daily Traffic (AADT) atau Lalu lintas Harian Rata-rata (LHR), bila periode pengamatannya kurang dari satu tahun (Oglesby, 1998). Menurut UU No.38 Tahun 2004 pasal 7, klasifikasi jalan berdasarkan pelayanan jasanya terdiri dari :Sistem Jaringan Jalan Primer
Sistem jaringan jalam primer, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah ditingkat nasional dengan semua simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud pusatpusat kegiatan.
Sistem Jaringan Jalan Sekunder
Sistem jaringan jalan sekunder, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan. Sedangkan pengelompokan jalan berdasarkan peranannya dapat digolongkan menjadi :
a. Jalan arteri, yaitu jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, dengan kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.
b. Jalan kolektor, yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpul dan pembagi dengan ciri-ciri merupakan perjalanan jarak dekat, dengan kecepatan rata-rata rendah dan jumlah masuk dibatasi.
c. Jalan lokal, yaitu jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dengan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

Metodologi Penelitian
Wilayah Penelitian

Gambar 1. Wilayah Administrasi Kecamatan Banjarmasin Selatan
Kecamatan Banjarmasin Selatan terletak 3°20’45.42″ – 3°20’50.88″ lintang selatan dan 114°32’46.35″ – 114°37’28.28″ bujur timur dengan curah hujan bulanan rata-rata 249 mm, ketinggian 0,16 mdpl dan kondisi daerah relatif datar sehingga pada waktu pasang hampir seluruh wilayah digenangi air. Wilayah ini terletak di pinggiran Kota Banjarmasin yang duabelas kelurahannya dilalui sungai. Pemanfaatan air sungai tersebut sebagian digunakan untuk sumber air minum dan transportasi penduduk. Kecamatan Banjarmasin Selatan berbatasan dengan Kecamatan Banjarmasin Barat dan Tengah disebelah Utara, kecamatan Banjarmasin Timur disebelah Timur, Kabupaten Banjar disebelah selatan, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Banjarmasin Barat dan Kabupaten Barito Kuala.

Kecamatan Banjarmasin Salatan terdiri dari 12 kelurahan. Kepadatan penduduk Kecamatan Banjarmasin Selatan sebesar 4.175 penduduk/km2. Kelurahan terluas yaitu Kelurahan Mantuil dengan luas sekitar 29,79 % dari luas wilayah kecamatan Banjarmasin Selatan dan wilayah terkecil dengan luas wilayah 0,50 % dari luas wilayah kecamatan Banjarmasin Selatan.
Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder (Tabel 1 dan 2)
Tabel 1. Data Primer
No Data Jenis Metode Keterangan
3 Kondisi jaringan jalan Tabel Observasi dan dokumentasi3 Pendidikan Tabel Kuisioner Kepala rumah tangga
4 Pendapatan per bulan Tabel Kuisioner 5 Jenis mata pencaharian Tabel Kuisioner Data primer diperoleh melalui survei lapangan dengan melakukan observasi dan wawancara kuisioner guna memperoleh data-data yang mendukung dalam penilaian, seperti kondisi sosial ekonomi keluarga yang terdiri dari tingkat pendidikan terakhir, pendapatan per bulan, jenis mata pencaharian. Perolehan data primer dilakukan dengan pengambilan sampel dari beberapa kelurahan dengan menggunakan metode sampel stratified random sampling. Perolehan data primer dilakukan pada beberapa kelurahan yang mewakili jenis jaringan jalan arteri, jalan lokal dan jalan lain. Observasi dan dokumentasi dilakukan untuk mengamati kondisi jaringan jalan.
Tabel 2. Data Sekunder
No Data Jenis Sumber/Instansi
1 Administrasi Kecamatan Banjar Selatan Peta Peta Administrasi skala 1:45000
2 Jaringan jalan Kecamatan Banjar Selatan Peta Peta Jaringan jalan tahun 2017 skala 1:45000 (BIG)
3 Sebaran Pemukiman Peta Peta Penggunaan Tanah tahun 2017 skala 1:45000 (BIG)
4 Jenis angkutan transportasi umumTabel Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Pemerintah Kota Banjarmasin
5 Rute dan jadwal angkutan transportasi umum Tabel Metode
Metode pengolahan data penelitian ini terdiri dari pembuatan peta dasar (peta administrasi kecamatan, jaringan jalan, dan penggunaan tanah), peta aksesibilitas yang dilakukan dengan menghitung indeks aksesibilitas yang menjelaskan tingkat kemudahan dalam melakukan perjalanan dari suatu daerah ke daerah lainnya dengan menggunakan parameter banyaknya jalur jalan, ketersediaan transportasi, kondisi fisik jaringan jalan, dan banyaknya kendaraan yang dapat melalui jaringan jalan. Selanjutnya membuat peta zona kondisi sosial ekonomi yang dibuat berdasarkan tiga variabel yang berhubungan (pendidikan, pendapatan, jenis mata pencaharian) yang kemudian diklasifikasi menjadi tiga zona sosial ekonomi.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis overlay dan analisis spasial. Analisis overlay digunakan untuk mengetahui pengaruh antara tingkat aksesibilitas terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kecamatan Banjarmasin Selatan.
-390525226060Kecamatan Banjarmasin Selatan
AksesibilitasKondisi Sosial EkonomiKondisi Jaringan JalanKetersediaan Angkutan TransportasiPendapatanPendidikan terakhirJenis Mata PencaharianKecamatan Banjarmasin Selatan
Aksesibilitas
Kondisi Sosial Ekonomi
Kondisi Jaringan Jalan
Ketersediaan Angkutan Transportasi
Pendapatan
Pendidikan terakhir
Jenis Mata Pencaharian

Gambar 3. Diagram Alur Pikir Penelitian
Hasil dan Pembahasan
Analisis Kondisi Sosial Ekonomi
Pendapatan
Berdasarkan data olah kuisioner maupun statistik, keluarga petani maupun non-petani rata-rata pendapatan masyarakat dari bidang non pertanian lebih banyak dibandingkan rata-rata pendapatan dari bidang pertanian. Sebanyak 28% memiliki pendapatan rendah (< Rp 1.000.000), 30% masyarakat memiliki pendapatan sedang (Rp 1.000.000 – Rp 3.000.000) dan 42% pendapatan tinggi (> Rp 3.000.000). Sebagian besar masyarakat non petani memiliki pendapatan lebih dari Rp 3.000.000,00. Jumlah pendapatan ini didapatkan dari pendapatan kepala keluarga per bulan dari mata pencaharian utama. Sementara dari bidang pertanian sebagian masyarakat memiliki pendapatan Rp.1.000.000 – Rp.3.000.000. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat bergantung dari bidang non pertanian. Jika dilihat pendapatan total keluarga bidang pertanian maupun non pertanian, pendapatan total keluarga tergolong rendah. Rata-rata pendapatan masyarakat Kecamatan Banjarmasin Selatan per bulan berkisar antara Rp.1.500.000 hingga Rp.2.500.000.

Berdasarkan distribusinya, pendapatan dari bidang non pertanian memiliki rata-rata pendapatan yang tinggi antara lain di Kelurahan Kelayan Barat, Pekauman, Kelayan Tengah, Kelayan Dalam, Murung Raya, Kelayan Timur, dan Pemurus Baru, dimana kelurahan-kelurahan tersebut berada dipinggiran pusat kota Banjarmasin dan perkembangan ekonomi di bidang perdagangan, jasa, dan industri. Sedangkan pendapatan masyarakat dari bidang pertanian berada di kelurahan lainnya.

Pendidikan
Berdasarkan tingkat pendidikannya, sebagian besar keluarga di Kecamatan Banjarmasin Selatan memiliki tingkat pendidikan sedang. Rata-rata masyarakat berpendidikan SMP hingga SMA sebanyak 80% dari data responden kuisioner. Sebanyak 47% kepala keluarga berpendidikan tamat SMP, 23% tamat SMA, 15% tamat SD, 10% berpendidikan tamat perguruan tinggi, dan 5% tidak tamat SD. Dengan rendahnya pendidikan ini menyebabkan sebagian besar masyarakat tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan yang lebih tinggi sehingga golongan pekerjaan mereka tidak terlalu membutuhkan pengetahuan seperti petani, pedagang, dan buruh.
Secara spasial, tingkat pendidikan masyarakat memiliki pendidikan tingkat SMP hingga SMA. Daerah dengan tingkat pendidikan menengah keatas berpusat di dekat pinggiran Kota Banjarmasin yaitu Kelurahan Kelayan Baru, Kelayan Dalam, Kelayan Tengah Pemurus Baru, dan Kelayan Timur sedangkan kawasan dengan tingkat pendidikan rendah berada di kawasan Kelurahan Mantuil, Basirih, Tanjung Pagar, Pekauman, Murung Raya, Kelayan Selatan dan Pemurus Dalam.
Jenis Mata Pencaharian
Masyarakat Kecamatan Banjarmasin Selatan sebagian besar berumur 15 – 60 tahun dengan presentasi 62% laki–laki dan 38% perempuan. Hal ini menunjukkan masyarakat dikatakan produktif karena sebagian besar penduduk memili potensi untuk bekerja atau beraktivitas ekonomi. Berdasarkan BPS 2018, sebagian besar kepala keluarga bekerja di bidang buruh yaitu sebesar 42% dan perdagangan sebesar 31%.Hal ini menujukkan bahwa sebagian besar penduduk Kecamatan Banjarmasin Selatan bekerja pada sektor perdagangan dan jasa buruh dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Berdasarkan luasan penggunaan lahannya, lahan di Kecamatan Banjarmasin Selatan sebagian besar berupa pemukiman. Dari total luas wilayah 1995 ha, sebanyak 52% dari wilayahnya merupakan lahan terbangun. Selain lahan terbangun, terdapat sawah yang dimanfaatkan masyarakat untuk bertani dengan sistem sewa. Wilayah kecamatan ini berada di dekat sungai , dan pusat Kota Banjarmasin menjadikan kawasan ini banyak bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Pada daerah sebelah utara, sebagian besar penduduk bekerja sebagai pedagang dan supir angkutan maupun buruh. Pengaruh ketinggian tempat maupun kemiringan lereng tidak mempengaruhi aktivitas sosial ekonomi masyarakat karena wilayah Kecamatan Banjarmasin Selatan berada pada ketinggian yang rendah dan landai, sehingga tidak ditemukan hambaan secara fisik dalam beraktivitas.
Aksesibilitas
Tingkat aksesibilitas dihitung berdasarkan kondisi jaringan jalan, dan ketersediaan sarana transportasi. Kondisi topografi dan kemiringan lereng tidak dimasukkan sebagai faktor penghambat karena tidak ada perbedaan ketinggian yang signifikan pada tiap kelurahan. Aksesibilitas juga dilihat dari faktor jarak lokasi kawasan dengan pusat kegiatan masyarakat yaitu pasar sebagai pusat aktivitas sosial ekonomi. Di Kecamatan Banjarmasin Selatan terdapat dua pusat perdagangan yaitu pasar pekauman dan pasar gawi manuntung. Kedua pasar ini terletak pada bagian utara Kecamatan Banjarmasin Selatan, dekat perbatasan dengan Kota Banjarmasin. Jangkauan kedua pasar hanya dapat menjangkau lima kelurahan di Kecamatan. Hal ini dapat disebabkan letak pasar yang terdapat di wilayah pemukiman padat penduduk.
3.2.1. Kondisi Jaringan Jalan
-56032119113500Tabel 3. Kondisi Jaringan Jalan Kecamatan Banjarmasin Selatan
Sumber : BPS 2017 Kecamatan Banjarmasin Selatan
Secara keselutuhan menurut data BPS 2017, jenis permukaan jalan di Banjarmasin Selatan yaitu aspal dan kerikil/beton. Jenis permukan jalan tanah tidak ada, namun masih ada jalan yang dalam kondisi rusak hingga rusak berat dengan persentase 21,39 %. Jaringan jalan rusak hingga rusak berat memiliki kondisi yang berlubang, berkerikil atau sebagian tidak beraspal. Sebagian besar kondisi jaringan jalan yang baik hingga sedang sebesar 78,61%. Kondisi jaringan jalan secara keseluruhan di Kecamatan Banjarmasin Selatan sudah cukup baik dibandingkan kondisi jaringan jalan 5 tahun lalu, dimana menurut salah satu responden mengatakan kondisi jalan di Banjarmasin Selatan masih berupa kerikil hingga tanah yang cukup berlubang sehingga menghambat perjalanan untuk beraktivitas, terlebih lagi jika dalam kondisi cuaca hujan terus menerus hingga banjir. Hal tersebut menghambat aktivitas masyarakat.
232986161925
Gambar 2. Kondisi jaringan jalan kolektor (kiri), jalan lokal (tengah), jalan lain (kanan).

Jaringan jalan di Kecamatan Banjarmasin Selatan dibagi menjadi 3 kelas yaitu jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lain yang menghubungkan antar kelurahan. Jalan kolektor hanya terdapat dua ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Banjarmasin Selatan dengan Kecamatan Banjarmasin Barat, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin Timur, dan Kabupaten Barito Kuala. Jalan kolektor ini melewati tujuh kelurahan antara lain, kelurahan handil baru, handil bujur, kelayan selatan, kelayan timur, tanjung pagar, pemurus baru dan pemurus dalam. Jalan ini berfungsi sebagai jalur alternatif antar kecamatan maupun desa. Lebar jalan kolektor berkisar antara 7 – 8 meter dengan jalan berupa aspal, dan dilewati kendaraan beroda dua, beroda empat, dan beroda enam. Jalan lokal di Kecamatan Banjarmasin Selatan terdapat beberapa ruas yang menghubungkan antar kelurahan. Lebar jalan berkisar antara 4 – 5 meter dengan kondisi jalan beraspal dan beton serta dapat dilewati kendaraan beroda dua maupun empat. Sedangkan jalan lain atau jalan lingkungan berfungsi sebagai penghubung antar RW didalam kelurahan tersebut. Jalan lain memeiliki lebar berkisar 3 – 4 meter berupa batuan/kerikil dan aspal. Beberapa jalan lain ada yang lebarnya 2 meter dengan kondisi jalan beraspal dan berlubang. Hal ini menghambat kendaraan untuk menuju kawasan, terutama ke dalam wilayah desa yang terpencil.
3.2.2. Ketersediaan Angkutan Transportasi
Penggunaan angkutan transportasi masyarakat Kecamatan Banjarmasin Selatan dibagi ke dalam transportasi pribadi dan transportasi umum. Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai transportasi pribadi dan transportasi umum darat. Transportasi umum darat terdapat beberapa tipe antara lain angkutan umum bus mini, ojek, becak, dan bajaj. Transportasi umum dibagi dua yaitu angkutan formal dan informal. Angkutan formal seperti angkutan bus mini dan bajaj secara resmi diatur oleh dinas perhubungan Kota Banjarmasin sedangkan angkutan informal seperti ojek dan becak bergerak secara mandiri.
Salah satu angkutan formal yaitu bajaj beroperasi di sebagian kecil wilayah Banjarmasin Selatan. jumlah armada yang aktif beroperasi 9 kendaraan dengan titik kumpul angkutan bajaj hanya berada di terminal km 6 dan terminal pekauman yang menjangkau penumpang di Pasar Pekauman, dan kelurahan pemurus dalam dan baru. Selain bajaj, angkutan umum pedesaan adalah angkutan kota atau angkutan pedesaan yang memasuki wilayah kecamatan yang berbatasan langsung pada kabupaten atau kota lainnya. Angkutan yang digunakan yaitu kendaraan jenis carry yang berkapasitas 12 hingga 14 orang. Trayek angkutan ini berpola melingkar, pintu keluar dan masuk angkutan kota berada di satu titik. Di Kota Banjarmasin terdapat 16 trayek yang beroperasi, tetapi di Kecamatan Banjarmasin Selatan hanya 3 trayek yang aktif beroperasi. Warna angkutan perkotaan yaitu angkutan kuning polos dengan nomor angkutan A.08, A.17 dan angkutan kuning putih dengan kode trayek B.04. Tarif angkutan yang dipungut kepada penumpang dibagi menjadi dua yaitu penumpang umum jarak jauh atau dekat dalam batas kota sebesar Rp.5.000,00 dan penumpang pelajar/mahasiswa jarak jauh atau dekat dalam batas kota sebesar Rp.2.000,00. Secara rinci nomor, nama, rute trayek, dan jumlah armada angkutan yang beroperasi di Kecamatan Banjarmaisn Selatan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3. Trayek Angkutan umum bus mini Kecamatan Banjarmasin Selatan
No Kode Trayek Nama Trayek RUTE Jumlah Armada beroperasi
1 A.08 (Kuning Polos) Terminal Antasari – Terminal Pal 8 Rute Berangkat :
Terminal Antasari – Jl. P. Antasari – Jl. P. Samudra – Jl. Bank Rakyat – Jl. Hasanudin – Jl. A. Yani – Terminal. Pal 6;
Rute Kembali :
Terminal Pal 6 – Jl. A. Yani – Jl. P. Antasari – Terminal Antasari. 22
2 A.17 (Kuning Polos) Terminal Antasari – Pasar Pemurus Baru Rute Berangkat :
Terminal Antasari – Jl. P. Antasari – Jl.Kol. Sugiono – Jl. A. Yani – Komp. Sasana Santi – Jl. Bumi Mas Raya – Jl. Prona I – Pasar Pemurus Baru
Rute Kembali :
Pasar Pemurus Baru – Jl. Prona I – Jl. Bumi Mas Raya – Komp. Sasana Santi – Jl. A. Yani – Jl. P. Antasari – Terminal Antasari. 23
3. B.04 (Kuning Putih) Terminal Antasari – KM. 6 (Via Gatot S) Rute Berangkat :
Terminal Antasari – Jl. P. Antasari – Jl. Kol. Sugiono – Jl. A. Yani – Jl. Gatot Subroto – Jl. Veteran – Jl. Pramuka – Terminal KM. 6
Rute kembali :
Terminal KM. 6 – Jl. Pramuka – Jl. Veteran – Jl. Gatot Subroto – Jl. A. Yani – Jl. P. Antasari – Terminal Antasari. 9
Sumber : Pengolahan data sekunderAngkutan kota Banjarmasin atau disebut taksi oleh masyarakat memiliki kelompok pada setiap kode trayek, kelompok tersebut melaukan pergantian trayek setiap harinya. Pergantian kelompok diatur oleh ketua organisasi supir angkutan kota Banjarmasin. Pelayanan angkutan kota per harinya berdasarkan permintaan akan jasa angkutan (jumlah penumpang) pada masing-masing trayek. Jumlah armada yang beroperasi aktif hanya 50% dari jumlah armada yang diberi izin. Hal ini menunjukkan angkutan kota Banjarmasin mengalami penurunan kuantitas pelayanan, dikarenakan jumlah angkutan yang sedikit dan kecenderungan masyarakat yang sebagian besar menggunakan transportasi pribadi seperti sepeda motor.
Analisis Tingkat Pengaruh Aksesibilitas terhadap Kondisi Sosial Ekonomi
Analisis penelitian ini menggunakan dua metode yaitu analisis overlay untuk mengetahui pengaruh aksesibilitas terhadap kondisi sosial ekonomi. Zona sosial ekonomi akan dilakukan overlay dengan peta jaringan jalan yang menunjukkan tingkat aksesibilitas pada masing-masing jalur jaringan jalan. Nilai tingkat aksesibilitas dihitung dengan teknik skoring berdasarkan kelas jalan, kondisi jalan, dan keberadaan angkutan transportasi yang melewati jalur tersbut.

Gambar 3. Peta Pengaruh Aksesibilitas terhadap Kondisi Sosial Ekonomi.

Berdasarkan peta tersebut, dapat dilihat bahwa sebagian besar wilayah dengan tingkat aksesibilitas berpengaruh terhadap karakteristik kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah sekitarnya. Dari peta (Gambar 2) dapat diperhatikan bahwa daerah dengan nilai aksesibilitas 10 hingga 15 cenderung berada di wilayah dengan kondisi sosial ekonomi yang lebih maju. Daerah tersebut berada di pemukiman padat penduduk dan dekat dengan perbatasan pusat Kota Banjarmasin Tengah yaitu kelurahan Kelayan Barat, Kelayan Tengah, Kelayan Dalam, dan Pekauman. Daerah dengan tingkat aksesibilitas relatif rendah antara 3 hingga 5, wilayahnya cenderung memiliki kondisi sosial ekonomi kelas menengah ke bawah seperti di kelurahan Mantuil, Kelayan Timur, dan Murung Raya. Berdasarkan pola yang terbentuk juga dapat dilihat bahwa daerah yang berada dekat pusat pertumbuhan memiliki kondisi sosial ekonomi yang lebih maju dibandingkan dengan kawasan lainnya. Namun, Jarak kawasan dari pusat kota juga dapat berpengaruh terhadap karakteristik sosial ekonomi masyarakat. Kelurahan kelayan dan pekauman yang dekat dengan pusat Kota Banjarmasin cenderung memiliki kondisi sosial ekonomi yang lebih maju dibanding kawasan lainnya. Selain karena faktor aksesibilitas, hal ini juga dikarenakan berkembangnya kegiatan perdagangan dan jasa yang mampu mengembangkan kegiatan perekonomian masyarakat sekitar. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat adalah masih rendahnya tingkat pergerakan masyarakat pedesaan/jauh dari pusat kota dibandingkan masyarakat yang dekat pusat kota dimana masyarakat pedesaan sebagian besar hanya melakukan pergerakan ke lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka, serta kebiasaan masyarakat yang lebih sering memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai lokasi aktivitas mereka.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis didapatkan kesimpulan bahwa secara umum aksesibilitas cenderung mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat. hal ini dapat dijelaskan dari peta hasil overlay tingkat aksesibilitas (kondisi jaringan jalan, ketersediaan angkutan transportasi) dengan peta zona sosial ekonomi (pendidikan, pendapatan, dan jenis mata pencaharian). Pada kelurahan dengan nilai aksesibilitas tinggi cenderung memiliki kondisi sosial ekonomi yang lebih berkembang daripada kelurahan dengan aksesibilitas rendah cenderung memiliki kondisi sosial ekonomi yang rendah.
Daftar Pustaka
Adiana, Pande dan Karmini, Ni Luh. 2015. Pengaruh Pendapatan, Jumlah Anggota Keluarga, dan Pendidikan terhadap Pola Konsumsi Rumah Tangga Miskin di Kecamatan Gianyar. Jurnal Ekonomi Pembangunan.
Badan Pusat Statistik. 2017. Kecamatan Banjarmasin Selatan Dalam Angka 2017. Badan Pusat Statistik : Banjarmasin.

Bagoes Mantra, Ida. 2003. Demografi Umum. Yogyakarta.Pustaka Pelajar.
Black, J.A. (1981), Urban Transport Planning: Theory and Practice, London, Cromm Helm.

Daldjoeni, N. 1987. Geografi Kota Dan Desa. Bandung : Alumni.

Farida, Umrotul. 2013. Pengaruh Aksesibilitas Terhadap Karakteristik Sosial Ekonomi Masyarakat Pedesaan Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal. Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol.1 No.1, April 2013, 49 – 66
Hirschman. 1958. The Strategy of Economic Development, Yale University Press, New Haven.
Kusbiantoro, BS, dkk. 2005. Perencanaan Transportasi. ITB Planologi.

Magribi, La Ode M. dan Suhardjp, Aj. 2004. Aksesibilitas dan Pengaruhnya terhdap Pembangunan di Perdesaan: Konsep Model Sustainable Accessibility pada Kawasan Perdesaan di Propinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Transportasi Vol.4 No.2 Desember, 2004: 149-160.

Tamin, Ofyar Z. (1997). Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Bandung. Penerbit ITB.

UU No.38 tahun 2004 pasal 7 tentang Jalan.

x

Hi!
I'm Mindy!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out