College Papers

HAKIKAT INTERAKSI EDUKATIF PENDAHULUAN Manusia

HAKIKAT INTERAKSI EDUKATIF PENDAHULUAN Manusia, sebagai mahluk sosial membutuhkan hubungan dengan manusia lainnya. Kebutuhan yang berbeda-beda dan saling membutuhkan membuat manusia cenderung untuk melayani kebutuhan manusia lainnya selain demi kepentingan pribadi. Manusia memiliki sifat multidimensional sebagai mahluk ciptaan Allah SWT. Sifat multidimensional tersebut adalah bahwa manusia selain sebagai mahluk individual sekaligus mahluk sosial. Manusia sebagai mahluk individual mengandung makna bahwa manusia memiliki keberagaman potensi. Setiap individu tumbuh dan berkembang secara unik, yaitu memiliki kecerdasan, pikiran, bakat, perasaan, minat, sikap, paradigma dan filosofi hidup yang berbeda dengan individu lain. Meskipun mempelajari pengetahuan, norma dan keterampilan secara bersamaan dan sama. Selain sebagai mahluk individual, manusia juga mempunyai fiitrah sebagai mahluk sosial. Mengapa manusia melaksanakan aktivitas belajar Jawabannya adalah karena belajar itu salah satu kebutuhan manusia. Bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa manusia adalah makhluk belajar. H. W. Burton, sebagaimana yang dikutip oleh Usman (19955) mendefinisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Ernest R. Hilgord menambahkan bahwa belajar adalah suatu proses dimana di timbulkan atau diubahnya suatu kegiatan karena mereaksi suatu keadaan. Namun harus diperhatikan bahwa perubahan itu tidak disebabkan oleh proses pertumbuhan (kematangan) atau keadaan organisme yang sementara seperti kelelahan atau karena pengaruh obatobatan. Sedangkan H.C. Witherington mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian. Senada dengan pernyataan Witherington, Nana Sudjana menambahkan bahwa belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang yang bisa berupa berubah pengetahuannya, sikappun bertingkah lakunya, ketrampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan aspek aspek lain yang ada pada diri individu. Oleh karena manusia adalah makhluk belajar maka sebenarnya di dalam dirinya terdapat potensi untuk diajar. Pada masa sekarang ini, belajar menjadi sesuatu yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Hampir di sepanjang waktunya, manusia banyak melaksanakan ritual-ritual belajar. Apa sebenarnya belajar itu, banyak ahli yang memberikan batasan. Belajar mempunyai sejumlah ciri yang tak dapat dibedakan dengan kegiatan-kegiatan lain yang bukan belajar. Oleh karena itu, tidak semua kegiatan yang meskipun mirip belajar dapat disebut dengan belajar. Dari pengertian belajar dan mengajar yang telah dikemukakan oleh para ahli, dapatlah dikatakan bahwa proses belajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar. Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang penting/ vital. Mengajar adalah proses membimbing kegiatan belajar, dan kegiatan mengajar hanya bermaksan bila terjadi kegiatan belajar siswa. Oleh karena itu, adalah penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar siswa, agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi siswa. Dari uraian di atas, memunculkan istilah guru dan siswa didik. Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan posisi, tugas dan tanggungjawab yang berbeda, namun bersama-sama mencapai tujuan. Guru bertanggungjawab mengantarkan siswa didik ke arah kedewasaan susila yang cakap dengan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan dan membimbingnya. Dan siswa didik berusaha mencapai tujuan itu dengan bantuan dan pembinaan dari guru. Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif. Semua unsur interaksi edukatif harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. Karena itu, interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan siswa didk yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan (Achmadi dan Shuyadi, 198547). Proses interaksi edukatif adalah suatu proses yang mengandung sejumlah norma. Semua norma itu harus ditransfer ke siswa didik. Oleh sebab itu proses interaksi edukatif tidak dalam kehampaan tetapi jelas penuh makna. Interaksi edukatif sebagai jembatan yang menghidupkan persenyawaan antara pengetahuan dan perbuatan, yang mengantarkan tingka laku siswa didik sesuai dengan pengetahuan yang diterima. Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan, interaksi edukatif adalah hubungan dua arah antara guru dan siswa didik dengan sejumlah norma sebagai mediumnya untuk mencapai tujuan pendidikan. Belajar mengajar adalah suatu proses yang dilakukan dengan sadar dan bertujuan. Tujuan adalah sebagai pedoman kearah mana akan dibawa proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar akan berhasil bila hasilnya mampu membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap dalam diri anak didik. Dalam interaksi edukatif unsur guru dan anak didik harus aktif, tidak mungkin terjadi proses interaksi edukatif bila hanya satu unsur yang aktif. Menurut Dr Nana Sudjana (1989), ada tiga pola komunikasi antara guru dan anak didik dalam proses interaksi edukatif yaitu Komunikasi sebagai aksi komunikasi satu arah, menemapatkan guru sebagai pemberi aksi, anak didik sebagai penerima aksi, guru aktif dan anak didik pasif. Komunikasi sebagai interaksi komunikasi dua arah, guru berperan sebagai pemberi aksi atau penerima aksi, anak didik bisa sebagai penerima aksi dan pemberi aksi, antara guru dan anak didik terjadi dialog. Komunikasi sebagai transaksi komunikasi banyak arah, anak dituntut lebih aktif daripada guru, guru berfungsi sebagi sumber belajar, Situasi pengajaran atau proses interaksi belajar mengajar bisa terjadi dalam berbagai pola komunikasi, tetapi komunikasi sebagai transaksi yang dianggap sebagai sesuai dengan konsep cara belajar siswa aktif sebagaimana yang dikehendaki oleh para ahli dalam pendidikan modern. Ciri-Ciri Interaksi Belajar Mengajar Sebagai interaksi yang bernilai normatif, maka interaksi edukatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut Interaksi edukatif mempunyai tujuan Tujuan dalam interaksi edukatif adalah untuk membantu anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. Interaksi edukatif sadar akan tujuan dengan menempatkan anak didik sebagai pusat perhatian, sedangkan unsur lainnya sebagai pengantar dan pendukung. Mempunyai prosedur yang direncanakan untuk mencapai tujuan Prosedur yang sistematik dan relevan diperlukan untuk mencapai tujuan secara optimal. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang satu dengan yang lain, mungkin membutuhkan prosedur dan desain yang berbeda-beda. Interaksi edukatif ditandai dengan penggarapan materi khusus Materi didesain agar cocok untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan komponen-komponen pengajaran yang lain. Materi ini didesian sebelum berlangsungnya interaksi edukatif. Ditandai dengan aktifitas anak didik Aktivitas anak didik merupakan syarat mutlak berlangsungnya interaksi edukatif baik secara fisik maupun mental aktif sesuai dengan konsep CBSA Guru berperan sebagai pembimbing Guru berperan sebagai Pembimbing, harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interksi edukatif yang kondusif Mediator, merupakan tokoh yang akan dilihat dan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik Desainer, memimpin terjadinya interaksi edukatif Interaksi edukatif membutuhkan disiplin Adakah suatu pola tingkah laku yang diatur menurut ketentuan yang sudah ditaati denga sadar oleh pihak guru maupun anak didik. Mekanisme nyata dari ketaatan pada ketentuan atau tata tertib akan terlihat dari pelaksanaan prosedur. Penyimpangan dari prosedur berarti suatu indikator pelanggaran disiplin. Mempunyai batas waktu Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu dan kapan tujuan harus sudah tercapai. Diakhiri dengan evaluasi Evaluasi dilakukan untuk mengetahui tercapainya atau tidak tujuan pengajaran yang telah ditentukan. Komponen Interaksi Belajar Mengajar Interaksi edukatif mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat/ peralatan, sumber dan evaluasi. Tujuan Kegiatan interaksi edukatif adalah suatu kegiatan yang secara sadar dilakukan oleh guru. Oleh sebab itu guru melakukan kegiatan pembuatan program pembelajaran dengan prosedur dan langkah langkah yang sistematik. Yang perlu dilakukan adalah pembuatan tujuan pembelajaran. Tujuan mempunyai arti penting dalam kegiatan interaksi edukatif karena dapat memberikan arah yang jelas dan pasti kemana kegiatan pembelajaran akan dibawa oleh guru serta berpedoman meyeleksi tindakan yang harus dilakukan atau ditinggalkan. Di dalam tujuan pembelajaran terhimpun sejumlah norma yang akan ditanamkan ke dalam diri setiap anak didik. Oleh karenanya didalam tujuan terpatri sejumlah norma . Bahan pelajaran/ Materi Bahan adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi edukatif. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti mempelajari dan mempersiapkan bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada anak didik. Guru harus menguasai bahan pelajaran yaitu Penguasaan bahan pelajaran pokok Adakah bahan pelajaran yang menyangkut mata pelajaran yang dipegang guru sesuai dengan profesinya. Bahan pelajaran pelengkap atau penunjang Adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan pelajaran adalah unsur inti dalam kegiatan interaksi edukatif, oleh karena itu harus diusahakan untuk dikuasai oleh anak didik. Kegiatan belajar mengajar / Cara Belajar Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidkan. Semua komponen pengajaran akan berproses di dalamnya. Komponen inti yaitu manusiawi, guru dan anak didik melakukan kegiatan dengan tugas dan tanggung jawab dalam kebersamaan berlandaskan interaksi normatif untuk bersama-sama mecapai tujuan pembelajaran. Dalam pengelolaan kelas dan pengelolan pengajaran perlu diperhatikan adalah perbedaan anak didik pada aspek Aspek Biologis Aspek Intelektual Aspek Psikologis. Ketiga aspek ini diperlukan dalam pengelompokan anak didik dalam kelas. Aktivitas optimal belajar anak didik sangat menetukan kualitas interaksi yang terjadi di dalam kelas. Metode Adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode diperlukan untuk kepentingan pembelajaran. Dalam melaksanakan tugas guru menggunakan lebih dari satu metode. Karena karakteristik metode yang memiliki kelebihan dan kelemahan menuntut guru untuk menggunakan metode yang bervariasi. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan metode mengajar yaitu tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya, anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya, situasi dengan berbagai keadaannya, fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya serta pribadi guru dengan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda. Alat/ Peralatan Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Alat tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan. Alat dapat dibagi menjadi dua yaitu Alat Non-material Berupa suruhan, perintah, larangan, nasihat dan sebagainya. Alat material Berupa globe, papan tulis, batu kapur, gambar, diagram, lukisan, slide, dan sebagainya. Alat material termasuk alat bantu audiovisual. Penggunaan alat bantu audiovisual dalam proses interaksi edukatifsangat didukung oleh Dwyer (1967) salah satu toko aliran realisme. Aliran realisme berasumsi bahwa belajar yang sempurna hanya dapat tercapai jika digunakan bahan-bahan audiovisual yang mendekati realitas. Menurut Miller dan kawan-kawan (1957) lebih banyak sifat bahan audiovisual yang meyerupai realitas, makin mudah belajar. Sumber Pelajaran Interaksi edukatif tidaklah berproses dalam kehampaan, tetapi ia berproses dalam kemaknaan. Didalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi diambil dari berbagai sumber guna dipakai dalam proses interaksi edukatif. Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreativitas guru, waktu, biaya serta kebijakan-kebijakan lainnya. Evaluasi Adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan data tentang sejauh mana keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam mengajar. Pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh guru dengan memakai seperangkat istrumen penggali data seperti tes perbuatan, tes tertulis, dan tes lisan. Tujuan evaluasi adalah untuk mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan dan memungkinkan guru menilai aktifitas/ pengalaman yang didapat dan menilai metode mengajar yang dipergunakan. PENGERTIAN BELAJAR Pengertian Umum Belajar Dalam pengertian yang umum atau populer, belajar adalah mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Belajar, sederhananya, adalah kegiatan yang dilakukan untuk menguasai pengetahuan, kebiasaan, kemampuan, keterampilan dan sikap melalui hubungan timbal balik antara proses belajar dengan lingkungannya. Pengetahuan tersebut diperoleh dari seseorang yang lebih tahu atau yang sekarang ini dikenal dengan guru. Dalam belajar, pengetahuan tersebut dikumpulkan sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi banyak. Orang yang banyak pengetahuannya diidentifikasi sebagai orang yang banyak belajar, sementara orang yang sedikit pengetahuannya diidentifikasi sebagai orang yang sedikit belajar, dan orang yang tidak berpengetahuan dipandang sebagai orang yang tidak belajar. Belajar dalam pengertian mengumpulkan sejumlah pengetahuan demikian, tampaknya masih diikuti juga sampai sekarang. Orang baru dikatakan belajar msiswaala sedang membaca bacaan, membaca sejumlah tugas mata kuliah atau mata pelajaran, membaca buku pelajaran. Seorang siswa yang sedang mengerjakan tugas-tugas Bahasa Indonesia biasa disebut sedang belajar. Orang yang sedang menimba pengetahuan pada bangku sekolah lazim juga dikenal sebagai pelajar. Bahkan orang yang banyak menguasai ilmu pengetahuan lazim dikenal dengan kaum terpelajar. Singkat perkataan, belajar dalam pengertian umum atau populer adalah suatu upaya yang dimaksudkan untuk menguasai sejumlah pengetahuan. Pengetahuan belajar demikian, secara konseptual tampaknya sudah mulai ditinggalkan orang, meskipun secara praktikal masih banyak yang menganut. Ini karena berkembang pesatnya teknologi informasi seperti sekarang ini. Guru tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber informasi yang dapat memberikan informasi apa saja kepada para pembelajar. Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar. Sering kai pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama lain. Dalam uraian ini kita akan berkenalan dengan beberapa perumusan saja, guna melengkapi dna memperluas pandangan kita tentang mengajar. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakukan melalui pengalaman. (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experincing). Menurut pengertian ini, belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan. Soejanto (199721) menyatakan bahwa belajar adalah segenap rangkaian aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan yang menyangkut banyak aspek, baik karena kematangan maupun karena latihan. Perubahan ini memang dapat diamati dan berlaku dalam waktu relatif lama. Perubahan yang relatif lama tersebut disertai dengan berbagai usaha, sehingga Hudoyo (199013) mengatakan bahwa belajar itu merupakan suatu usaha yang berupa kegiatan hingga terjadinya perubahan tingkah laku yang relatif lama atau tetap. Pengertian ini sangat berbeda dengan pengertian lain tentang belajar, yang mengatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis, dan seterusnya. Sejalan dengan perumusan di atas, ada pula tafsiran mendalam tentang belajar yang menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Belajar adalah perubahan individu dalam kebiasaan, pengetahuan, dan sikap (Crow dan Crowe 1982). Dalam defenisi ini dikatakan bahwa seseorang mengalami proses belajar kalau ada perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dalam menguasai ilmu pengetahuan. Belajar disini merupakan suatu proses dimana guru terutama melihat apa yang terjadi selama siswa menjalani pengalaman edukatif, untuk mencapai suatu tujuan. Yang kita perhatikan ialah pola perubahan pada pengetahuan selama pengalaman belajar itu berlangsung. Winkel (1986 36) menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersikap secara relatif, konstan dan berbekas. Belajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk menguasai pengetahuan, kebiasaan, kemampuan, keterampilan dan sikap melalui hubungan timbal balik antara proses belajar dengan lingkungannya. Proses belajar mengajar merupakan proses yang dilakukan oleh guru dan siswa. Dalam melakukan suatu kegiatan pembelajaran, guru melaksanakan tugas sebagai pendidik dan menyampaikan ilmu yang dimilikinya kepada siswa, sedangkan siswa mengolah informasi yang diterima dari guru dalam proses kegiatan pembelajaran. Dibandingkan dengan pengertian pertama maka jelas, tujuan belajar itu prinsipnya sama, yakni perubahan tingkah laku, hanya berbeda cara atau usaha pencapaiannya. Pengeritan ini menitik beratkan pada interaksi antara individu dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar. W. H. Burton mengemukakan bahwa A good learning situation consist of a varied series of learning experiences unified around a vigorous purpose, and carried on in interaction with a varied and provocative environment. Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Situasi belajar harus bertujuan dan tujuan-tujuan itu diterima baik oleh masyarakat. Tujuan merupakan salah satu aspek dari belajar. Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan siswa sendiri. Di dalam mencapai tujuan itu, siswa senantiasa akan menemui kesulitan, rintangan-rintangan dan situasi-situasi yang tidak menyenangkan. Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat. Proses belajar terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya. Belajar apa yang diperbuat dan mengerjakan apa yang dipelajari. Kegiatan-kegiatan dan hasil-hasil belajar dipersatukan dan dihubungkan dengan tujuan dalam situasi belajar. Siswa memberikan reaksi secara keseluruhan. Siswa mereaksi sesuatu aspek dari lingkungan yang bermakna baginya. Siswa diarahkan dan dibantu oleh orang-orang yang berada dalam lingkungan itu. Siswa diarahkan ke tujuan-tujuan lain, baik yang berkaitan maupun yang tidak berkaitan dengan tujuan utama dalam situasi belajar. Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandangan psikologi belajar tertentu. Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan maka berbarengan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Justru dapat dikatakan, bahwa dengan tumbuhnya pengetahuan tentang belajar maka psikologi dalam pendidikan menjadi berkembang secara pesat. Di dalam masa perkembangan psikologi pendidikan di jaman mutakhir ini muncullah secara beruntun aliran psikologi pendidikan masing-masing yaitu Psikologi behavioristik Psikologi kognitif Psikologi humanistik Ketiga aliran psikologi pendidikan di atas tumbuh dan berkembang secara beruntun, dari periode ke periode berikutnya. Dalam setiap periode perkembangan aliran psikologi tersebut bermunculan teori-teori tentang belajar. Bertolak dari kenyataan itu maka berbagai teori belajar yang ada dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok teori belajar, masing-masing yaitu Teori-teori belajar dari psikologi behavioristik. Teori-teori belajar dari psikologi kognitif Teori-teori belajar dari psikologi humanistik. Para penulis buku psikologi belajar, umumnya mendefinisikan belajar sbagai suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang yang relatif menetap sebagai hasil dari sebuah pengalaman. Selain itu, ahli-ahli psikologi mempunyai pandangan yang berada mengenai apa belajar itu. Dalam pandangan psikologis, setidak-tidaknya ada empat pandangan mengenai belajar. Pertama, pandangan yang berasal dari aliran psikologi behavioristik. Menurut pandangan ini, belajar dilaksanakan dengan kontrol instrumental dari lingkungan. Guru mengkondisikan sedemikian sehingga pembelajar atau siswa mau belajar. Mengajar dengan demikian dilaksanakan dengan conditioning, pembiasaan, peniruan. Hadian dan hukuman sering ditawarkan dalam mengajar dan belajar demikian. Kedaulatan guru dalam belajar demikian relatif tinggi, sementara kedaulatan siswa sebalikya, relatif rendah. Kedua, pandangan yang berasal dari psikologi humanistik. Pandangan humanistik ini merupakan anti tesa pandangan behavioristik. Dalam pandangan demikian, belajar dapat dilakukan sendiri oleh siswa. Dalam belajar demikian siswa senantiasa menemukan sendiri mengenai sesuatu tanpa banyak campur tangan dari guru. Peranan guru dalam mengajar dan belajar demikian relatif rendah, sementara kedaulatan guru relatif rendah. Ketiga, pandangan yang berasal dari psikologi kognitif. Pandangan ini merupakan konvergensi dari pandangan behavioristik dan humanistik. Menurut pandangan demikian belajar merupakan perpaduan dari usaha pribadi dengan kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Oleh karena itu, metode belajar yang cocok dalam pandangan ini adalah eksperimentasi. Berdasarkan pandangan psikologi behavioristik, tanggungjawab siswa dalam belajar rendah, sedangkan tanggungjawab guru dalam mengajar tinggi. Sebaliknya, dalam pandangan psikologi humanistik, tanggungjawab guru rendah sedangkan tanggungjawab siswa tinggi. Sementara itu, dalam pandangan psikologi kognitif, tanggungjawab guru dan siswa sama-sama sedang. Selain ketiga pandangan tersebut, ada pandangan keempat dari psikologi gestalt. Menurut pandangan psikologi gestalt, belajar adalah usaha yang bersifat totalitas dari individu, oleh karena totalitas lebih bermakna dibandingkan dengan sebagian-sebagian. Pengertian belajar menurut psikologi behavioristik Behaviorisme adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Timbulnya aliran ini disebabkan rasa tidak puas terhadap teori psikologi daya dan teori mental state. Sebabnya ialah karena aliran-aliran terdahulu hanya menekankan pada segi kesadaran saja. Berkat pandangan dalam psikologi dan naturalism science maka timbullah aliran baru ini. Jiwa atau sensasi atau image tak dapat diterangkan melalui jiwa itu sendiri karena sesungguhnya jiwa itu adalah respons-respons psikologis. Aliran lama memandang badan adalah sekunder, padahal sebenarnya justru menjadi titik pangkal bertolak. Natural science melihat semua realita sebagai gerakan-gerakan (movemant), dan pandangan ini mempengaruji timbulnya behaviorisme. Metode instrospeksi sesungguhnya tidak tepat, sebab menimbulkan pandangan yang berbeda-beda terhadap objek luar. Karena itu harus dkarai metode yang objektif dan ilmiah. Dari eksperimen menunjukkan bahwa tikus dapat membedakan antara wama hijau dan wama merah dan dapat pula dilatih. Jadi kesadaran itu tiada gunanya. Dalam behaviorisme, masalah materi (zat) menempati kedudukan yang utama. Dengan tingkah laku segala sesuatu tentang jiwa dapat diterangkan. Behaviorisme dapat menjelaskan segala kelakuan manusia secara seksama dan menyediakan perogram pendidikan yang efektif. Dari uraian tersebut, ternyata konsepsi behaviorisme besar pengaruhnya terhadap masalah belajar. Belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. Dengan memberikan rangsangan (stimulus) maka siswa akan mereaksi dengan respons. Hubungan situmulus – respons ini akan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan otomatis pada belajar, jadi pada dasamya kelakuan siswa adalah terdiri atas respons-respons tertentu terhadap stimulus-stimulus tertentu. Dengan latihan-latihan pembentukan maka hubungan-hubungan itu akan semakin menjadi kuat. Inilah yang disebut S-R Bond Theory. Beberapa teori belajar dari psikologi behavioristik dikemukakakn oleh para psikolog behavioristik. Mereka ini sering disebut Contemporary Behaviorists atau jg disebut S-R Psychologists. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian, dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-rekasi behavioral dengan stimulasinya. Guru-guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku siswa-siswa merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan bahwa segenap tingkah laku adalah merupakan hasil belajar. Kita dapat menganalisis kejadian tingkah laku dengan jalan mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tingkah laku tersebut. Teori-teori yang mengawali perkembangan psikologi behavioristik Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung kepada faktor-faktor kondisional yang diberikan oleh lingkungan. Oleh karena itu, teori ini juga dikenal dengan teori conditioning. Tokoh-tokoh psikologi behavioristik mengenai belajar ini antara lain adalah Pavlov, Watson, Gutrie dan Skinner. Psikologi aliran behavioristik mulai mengalami perkembangan dengan lahimya teori-teori tentang belajar yang dipelopori oleh Thorndikee, Pavlov, Wabon, dan Ghuyhrie. Mereka masing-masing telah mengadakan penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang berharga mengenai hal belajar. Pada mulanya pendidikan dan pengajaran di Amerika serikat di dominasi oleh pengaruh Thorndikee (1874-1949). Teori belajar Thorndikee disebut connectionism, karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respons. Teori ini sering disebut trial dan error learning individu yang belajar melakukan kegiatan melalui proses trial and error dalam rangka memilih respon yang tepat bagi stimulus tertentu. Thorndikee mendasarkan teorinya atas hasil-hasil penelitiannya terhadap tingkah laku berbagai binatang antara lain kucing, tingkah laku siswa-siswa dan orang dewasa. Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan membiarkan objek melakukan berbagai pada aktivitas untuk merespon situasi itu. Dalam hal itu, objek mencoba berbagai cara beraksi sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu rekasi dengan stimulasinya. Ciri-ciri belajar dengan trial and error yaitu Ada motif pendorong aktivitas Ada berbagai respon terhadap situasi Ada eliminasi respon-respon yang gagal / salah dan Ada kemajuan rekasi-reaksi mencapai tujuan. Dari penelitiannya itu Thorndikee menemukan hukum hukum law of readiness, jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan untuk bertindak atau bereaksi itu maka reaksi menjadi memuaskan law of exercise, makin banyak dipraktekkan atau digunakannya hubungan stimulus respon, makin kuat hubungan itu. Praktek perlu disertai dengan reward. law of effect , bilamana terjadi hubungan antara stimulus dan respon dan dibarengi dengan state of affairs yang memuaskan maka hubungan itu menjadi lebih kuat. Bilamana hubungan dibarengi state of affairs yang mengganggu maka kekuatan hubungan menjadi berkurang. Sementara Thorndikee mengadakan penelitiannya, di Rusia Ivan Pavlov (1849-1936) juga menghasilkan teori belajar yang disebut classical conditioning atau stimulus substitution. Mula-mula teori conditioning ini dikembangnkan oleh Pavlov (1972). Teori Pavlov berkembang dari percobaan laboratoris terhadap anjing. Dalam percobaan ini, anjing diberi stimulus bersyarat sehingga terjadi reaksi bersyarat pada anjing. Ia melakukan percobaan terhadap anjing. Anjing tersebut diberi makanan dan diberi lampu. Pada saat diberi makanan dan lampu keluarkan respon anjing tersebut berupa keluamya air liur. Demikian juga jika dalam pemberikan makanan tersebut disertai dengan bel, air liur tersebut juga keluar. Pada saat bel atau lampu diberikan mendahului makanan, anjing tersebut juga mengeluarkan air liur. Makanan yang diberikan tersebut oleh Pavlov disebutu sebagai perangsangan yang bersyarat, sementara bel atau lampu yang menyertai disebut sebagai perangsang bersyarat. Terhadap perangsang tak bersyarat yang disertai dengan perangsang bersyarat tersebut, anjing memberikan respons berupa keluamya air liur. Selanjutnya, ketika perangsang bersyarat (bel, lampu) diberikan tanpa perangsang tak bersyarat anjing tersebut tetap memberikan respon dalam bentuk keluamya air liur. Oleh karena perangsang bersyarat (sebagai pengganti perangsang tak bersyarat makanan) ini ternyata dapat menimbulakn respons maka dapat berfungsi sebagai conditioned. Karena itu, teori Pavlov ini dikenal teori classical conditioning. Menurut Pavlov pengkondisian yang dilakukan pada anjing demikian ini, dapat juga berlaku pada manusia. Teori conditioning Pavlov tersebut dapat dimodelkan sebagai berikut Bel / lampu makan ( air liur (berulang-ulang) Bel / lampu ( air liur Teori conditioning ini lebih lanjut dikembangkan oleh Watson (1970) adalah orang pertama di Amerika Serikat yang mengembangkan teori belajar berdasarkan hasil penelitian Pavlov. Watson berpendapat, bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons-respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan-hubungan stimulus-respon baru melalui conditioning. Salah satu percobaannya adalah terhadap siswa umur 11 bulan dengan seekor tikus putih. Rasa takut dapat timbul tanpa dipelajari dengan proses ekstinksi, dengan mengulang stimulus bersyarat tanpa di barengi stimulus tak bersyarat. E.R. Guthrie memperluas penemuan Watson tentang belajar. Ia mengemukakan prinsip belajar yang disebut the law of association yang berbunyi suatu kombinasi stimulus yang telah menyertai suatu gerakan, cenderung akan menimbulkan gerakan itu, apabila kombinasi stimulus itu muncul kembali. Dengan kata lain, jika anda mengerjakan sesuatu dalam situasi tertentu maka nantinya dalam situasi yang sama anda akan mengerjakan hal serupa lagi. Menurut Gutrie, belajar memerlukan reward dan kedekatan antara stimulus dan respon. Gutrie berpendapat, bahwa hukuman itu tidak baik dan tidak pula buruk. Efektif tidaknya hukuman tergantung pada apakah hukuman itu menyebabkan siswa belajar ataukah tidak. Teori belajar conditioning ini kemudian dikembangkan oleh Gutrie (1935-1942). Gutrie berpendapat bahwa tingkah laku manusia dapat diubah tingkah laku jelek dapat diubah menjadi baik. Teori Gutrie berdasarkan atas model penggantian stimulus saut ke stimulus yang lain. Responsi atas suatu situasi cenderung di ulang msiswaala individu menghadapi situasi yang sama. Inilah yang disebut dengan asosiasi. Menurut Gutrie, setiap situasi belajar merupakan gabungan berbagai stimulus (dapat intemal dan dapat ekstemal) dan respon. Dalam situasi tertentu, banyak stimulus yang berasosiasi dengan banyak respon. Asosiasi tersebut, dapat benar dan dapat juga salah. Ada tiga metode pengubahan tingkah laku menurut teori ini, yaitu Metode respon bertentangan. Misalnya saja, jika siswa jijik terhadap sesuatu, sebutlah misalkan saja boneka maka permainan siswa yang disukai tersebut diletakkan di dekat boneka. Dengan meletakkan permainan di dekat boneka, dan ternyata boneka tersebut sebenarnya tidak menjijikkan, lambat laun siswa tersebut tidak jijik lagi kepada boneka. Peletakan permainan yang paling disukai tersebut dapat dilakukan secara berulang-ulang. Metode membosankan. Misalnya saja siswa kecil suka mengisap rokok. Ia disuruh merokok terus sampai bosan dan setelah bosan, ia akan berhenti merokok dengan sendirinya. Metode mengubah lingkungan. Jika siswa bosan belajar maka lingkungan belajarnya dapat diubah-ubah sehingga ada suasana lain dan memungkinkan ia betah belajar. Selanjutnya, Skinner mengembangkan teori conditioning dengan menggunakan tikus sebagai kelinci percobaan. Dari hasil percobaannya Skinner membedakan respon menjadi dua, ialah respon yang timbul dari stimulus tertentu dan operant (instrumental) respons yang timbul dan berkembang karena diikuti oleh perangsang tertentu. Oleh karena itu, teori Skinner ini dikenal dengan operant conditioning. Seperti halnya Thorndikee, Skinner menganggap reward atau reinforcement sebagai faktor terpenting dalam proses belajar. Skinner berpendapat, bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku. Skinner membagi dua jenis respon dalam proses belajar, yakni (1). Responsents respon yang terjadi karena stimulus khusus misalnya Pavlov (2). Operants respon yang terjadi karena situasi random Perbedaan penting antara Pavlovs classical conditioning dan Skinners operant conditioning ialah dalam classical conditioning, akibat-akibat suatu tingkah laku itu. Reinforcement tidak diperlakukan karena stimulusnya menimbulkan respon yang diinginkan. Operant conditioning, suatu situasi belajar dimana suatu respons dibuat lebih kuat akibat reinforcement langsung. Dalam percobaannya terhadap tikus-tikus dalam sangkar, digunakan suatu diskriminative stimulus (tanda untuk memperkuat respons) misalnya tombol, lampu, pemindah makanan. Disamping itu, digunakan pula suatu reinforcemen stimulus, berupa makanan. Dalam pengajaran, operants conditioning menjamin respon-respon terhadap stimulus. Apabila siswa tidak menunjukkan reaksi-reaksi terhadap stimulus guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya ke arah tujuan behavior. Guru berperan penting di dlaam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan. Jenis-jenis stimulus Jenis-jenis stimulus Positive reinforcement Penyajian stimulus yang meningkatkan probabilitas suatu respon Negative rinforcement Pembatasan stimulus yang tidak menyenangkan, yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respon Hukuman pemberian stimulus yang tidak menyenangkan. Bentuk hukuman lain berupa penangguhan stimulus yang menyenangkan (removing adalah pleasant or reinforcing stimulus). Primary reinforcement stimulus pemenuhan kebutuhan-kebutuhan fisiologis Modifikasi tingkah laku guru Perlakuan guru terhadap siswa-siswa berdasarkan minat dan kesenangan mereka. Jadwal reinforcement menguraikan tentang kapan dan bagaimana suatu respon diperbuat Ada empat cara penjadwalan reinforcement Fixed-ratio schedule yang didasarkan pada penyajian bahan pelajaran, yang mana pemberi reinforcement baru memberikan penguatan respon setelah terjadi jumlah tertentu dari respon. Variable ratio schedule yang didasarkan penyajian bahan pelajaran dengan penguat setelah rata-rata respon Fixed interval schedule yang didasarkan atas satuan waktu tetapi diantara reinforcement Variable interval schedule pemberian renforcement menurut respon betul yang pertama setelah terjadi kesalahan-kesalahan respon. Paling tidak tidak, ada enam konsep operant conditioning ini yaitu Penguatan positif dan negatif Shopping, ialah proses pembentukan tingkah laku yang makin mendekati tingkah laku yang diharapkan. Pendekatan suksesif, ialah proses pembentukan tingkah laku yang menggunakan penguatan pada saat tepat hingga respon pun sesuai dengan yang diisyaratkan. Extention, ialah proses penghentian kegiatan sebagai akibat dari ditiadakannya penguatan. Chaining of respons, ialah respon dan stimulus yang berangkaian satu sama lain Jadwal penguatan ialah variasi pemberian peguatan rasio tetap dan bervariasi, interval tetap dan bervariasi. Menurut Thorndikee, belajar dapat dilakukan dengan mencoba-coba (trial and error) mencoba-coba ini dilakukan, msiswaala seseorang tidak tahu bagaimana harus memberikan respon atas sesuatu. Dalam mencoba-coba ini seseorang mungkin akan menemukan respon yang tepat berkaitan dengan persoalan yang dihadapinya. Karakteristik belajar trial dan error adalah sebagai berikut Adanya motivasi pada diri seseorang yang mendorong untuk melakukan sesuatu Seseorang berusaha melakukan berbagai macam respons dalam rangka memenuhi motif-motifnya. Respons-respons yang dirasakan tidak bersesuaian dengan motifnya dihilangkan Akhirnya seseorang mendapatkan jenis respon yang paling tepat. Beberapa hukum belajar yang ditemukan oleh Thorndikee adalah sebagai berikut Hukum kesiapan (law of readiness). Jika seseorang siap melakukan sesuatu, dan ia melakukannya maka ia puas. Sebaliknya, jika ia siap melakukan sesuatu, tetapi tidak melakukannya maka ia tidak puas. Implikasi dari hukum ini adalah, bahwa motivasi sangat penting dalam belajar. Sebab pemuas yang antara lain berupa terpemenuhinya motif-motif seseorang, menjadikan seseorang belajar berulang-ulang. Hukum latihan (low of exercise). Jika seseorang mengulang-ulang respons terhadap suatu stimulus maka akan memperkuat hubungan antara respon dan stimulus. Sebaliknya jika respons tersebut tidak digunakan, hubungannya dengan stimulus semakin lemah. Tetapi lemah dan kuatnya hubungan antara respons dan stimulus tersebut tergantung kepada memuaskan tidaknya respons yang diberikan. Implikasi hukum ini adalah baha belajar dimulai dari tingkatan yang mudah berangsur-angsur menuju yang sukat. Berangkat dari yang sederhana berangsur-angsur menuju ke yang kompelks. Hukum akibat (law of effect). Msiswaala hubungan antara respon dengan stimulus menimbulkan kepuasan maka tingkatan penguatannya kian besar. Sebaliknya jika hubungan antara respon dengan stimulus menimbulkan ketidak puasan maka tingkatan penguatannya kian lemah. Dengan perkataan lain, hukum akibat ini punya keyakinan bahwa orang punya kecenderungan mengulang respon yang memuaskan dengan menghindari respon yang tidak memuaskan. Hukum ini membawa implikasi kebenaran bagi diadakannya eksperimentasi dalam belajar. Selain mengemukakan tiga hukum belajar, Tondike mengemukakan prinsip-prinsip belajar, yaitu Pada saat seseorang berhadapan dengan sebuah situasi yang bagi dia termasuk baru, berbagai ragam respon ia lakukan. Respon tersebut ada kalanya berbeda-beda sampai yang bersangkutan memperoleh respon yang benar. Apa yang ada pada diri seseorang, baik itu berupa pengalaman, kepercayaan, sikap dan hal-hal lain yang telah ada pada dirinya, turut menentukan tercapainya tujuan yang ingin dicapai. Pada diri seseorang sebenarnya terdapat potensi untuk mengadakan seleksi terhadap unsur-unsur penting dari yang kurang atau penting hingga akhirnya dapat menentukan respon yang tepat. Orang cenderung memberikan respon yang sama terhadap situasi yang sama. Orang cenderung mengadakan assosiative shiffing, ialah menghubungkan respon yang ia kuasai dengan situasi tertentu tatkala menyadari bahwa respon yang ia kuasai dengan situasi tersebut mempunyai hubungan. Msiswaala suatu respon cocok dengan situasinya relatif mudah untuk dipelajari (concept belongingness). 1.3. Pengertian Belajar Menurut Psikologi Kognitif Ada beberapa ahli yang belum merasa puas terhadap penemuan-penemuan para ahli sebelumnya mengenai belajar sebagai proses hubungan stimulus-respon-reinforcement. Mereka berpendapat, bahwa tingkahlaku seseorang tidak hanya dikontrol oleh reward dan reinforcement. Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran kognitif. Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan seseorang terlibat langsung dalam situsi itu dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah. Jadi kaum kognitif berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada hubungan-hubungan yang ada dalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih dari bagian-bagiannya. Mereka memberi tekanan pada organisasi pengamatan atas stimulus di dalam lingkungan serta faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan. Menurut psikologi kognitif, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti tentang sesuatu. Usaha untuk mengerti tentang sesuatu tersebut, dilakukan secara aktif oleh pembelajar. Keaktifan tersebut dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan. Mempraktekkan, mengabaikan dan respon-respon yang lainnya guna mencapai tujuan. Para psikolog kognitif berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dipunyai sebelumnya, sangat menentukan terhadap perolehan belajar yang berhasil dipelajari yang berhasil diingat dan yang mudah dilupakan. Salah satu teori belajar yang berasal dari psikologi kognitif adalah teori pemerosesan informasi. Menurut teori ini, belajar dipandang sebagaoi proses pengolahan informasi dalam otak manusia. Sedangkan pengolahan oleh otak manusia sendiri dimulai dengan pengatan (penginderaan) atas informasi yang berada dalam lingkungan manusia, penyimpanan (baik untuk jangka waktu pendek maupun panjang), penyimpanan/ pengkodean/ penyadian terhadap informasi-informasi yang tersimpan, dan setelah membentuk pengertian, kemudian dikeluarkan kembali oleh pembelajar. Menurut teori ini suatu informasi yang berasal dari lingkungan pembelajar pada awalnya diterima oleh reseptor. Reseptor-reseptor tersebut memberikan simbol-simbol informasi yang ia terima, dan kemudian diteruskan ke registor penginderaan yang terdapat pada saraf pusat. Dengan demikian, informasi-informasi yang diterima oleh registor penginderaan telah mengalami transformasi. Informasi yang masuk ke dalam syaraf pusat tersdebut kemudian disimpan dalam waktu pendek. Informasi-informasi yang disimpan dalam waktu sebentar ini, sebagian diantaranya diteruskan ke memori jangka pendek, sedangkan selebihnya hilang dari sistem. Proses pereduksian seperti ini dikenal juga dengan persepsi selektif. Sementara memori jangka pendek lazim juga dikenal dengan memori kerja dan kesadaran. Kapasitas memori jangka pendek ini amat terbatas, waktunya juga pendek. Informasi dalam memori jangka pendek dapat ditransformasi dalam bentuk kode-kode dan selanjutnya, diteruskan ke memori jangka panjang. Saat transformasi, informasi-informasi baru terintegrasi dengan informasi-informasi lama yang sudah tersimpan dalam memori jangka panjang bertahan lama, dan disiapkan untuk dipergunakan di kemudian hari. Pengeluaran kembali atas informasi-informasi yang terseimpan dalam memori jangka panjang adalah dengan pemanggilan. Dalam pikiran yang sadar, informasi mengalir dari memori jangka panjang ke memori jangka pendek, dan kemudian ke generator respon. Sementara untuk respon otomatis, informasi mengalir langsung dari memori jangka panjang ke generator respon selama pemanggilan.menurut psikologi belajar kognitif, reinforcement sangat penting juga dalam belajar, meskipun alasan yang dikemukakan berbeda dengan psikologi behavioristik. Sebab, msiswaala menurut psikolog behavioristik reinforcement berfungsi sebagai pemerkuat respon atau tingkah laku maka menurut psikolog kognitif, berfungsi sebagai sumber umpan balik, mengurangi keragu-raguan hingga mengarah kepada pengertian. Teori kognitif berpijak pada tiga hal yaitu Perantara sentral (central intermediaries) Proses-proses pusat otak (central brain), misalnya ingatan atau ekpektasi merupakan integrator tingkah laku yang bertujuan. Pendapat ini berdasarkan pada inferensi tingkah laku yang tampak (diamati) Pertanyaan tentang apa yang dipelajari Jawabannya adalah struktur kognitif, bahwa yang dipelajari adalah fakta, kita mengetahui dimana adanya, yang mengetahui altemate routes illustratis cognitive structure, variabel tingkah laku non habitual adalah struktur kognitif sebagai bagian dari apa yang dipelajari. Pemahaman dalam pemecahan masalah. Pemecahan suatu masalah ialah dengan cara menyajikan pengalaman lampau dalam bentuk struktur perseptual yang mendasari terjadinya pemahaman di mana adanya pemgetian mengenai hubungan-hubungan yang essensial. Perferensi yang digunakan adalah the contemporary structuring of the problem. Prinsip-prinsip belajar teori kognitif Gambaran perseptual sesuai dengan masalah yang dipertunjukkan kepada siswa adalah kondisi belajar yang penting. Suatu masalah belajar yang trstruktur dan disajikan upaya gambaran-gambaran yang esensial terbuka terhadap inspeksi dari siswa. Organisasi pengetahuan harus merupakan sesuatu mendasar bagi guru atau perencana pendidikan. Susunanya dari yang sederhana ke yang kompleks, dalam arti dari keseluruhan yang sederhana ke keseluruhan yang lebih kompleks. Masalah bagian keseluruhan adalah masalah organisasi dan tidak bertalian dengan teori pola kompleksitas. Sesuai dengan pandangan mengenai pertumbuhan kognitif maka organisasi pengetahuan tergantung pada tingkat perkembangan siswa. Belajar dengan pemahaman (understanding) adalah lebih permanen (menetap) dan lebih memungkinkan untuk ditransferkan, dibandingkan dengan belajar dengan formula. Berbeda dengan teori stimulus respon, teori yang menitikberatkan pada pentingnya kebermaknaan dalam belajar dan mengingat (retention). Umpan balik kognitif mempertunjukkan pengetahuan yang benar dan tepat dan mengoreksi kesalahan belajar. Siswa menerima atau menolak sesuatu berdasarkan konsekuensi dari apa yang telah diperbuatnya. Dalam hal ini kognitif setara dengan penguatan (reinforcementt) pada S-R theory, tetapi teori kognitif cenderung menempatkan titik beratnya pada pengujian hipotesis melalui umpan balik. Penetapan tujuan (goal setting) penting sebagai motivasi belajar. Keberhasilan dan kegagalan menjadi hal yang menentukan cara menetapkan tujuan untuk waktu yang akan datang. Berfikir defergen menuju ke ditemukannya pemecahan masalah atau terciptanya produk yang bernilai dan menyenangkan. Berbeda dengan berfikir konvergen yang menuju ke mendapatkan jawaban-jawaban yang benar secara logika. Berfikir defergen menuntut dukungan (umpan balik) bagi upaya tentatif seseorang yang orisinil agar supaya dia dapat mengamati dirinya sebagai kreatif potensial. Teori Belajar Cognitive-Field dari Lewin Bertolak dari penemuan Gestalt Psychology, Kurt Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar cognitive field dengan menaruh perhatian kepadakepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang masing-mading individu berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis. Medan kekuatan psikologis dimana individu bereaksi disebut life space. Life space mencakup perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya orang-orang yang ia jumpai, objek materiil yang ia hadapi, serta fungsi-fungsi kejiwaan yang ia miliki. Lewin berpendapat, bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan, baik dalam diri individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan, maupun dari luar diri individu seperti sebagai akibat dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi intemal individu. Lewin memberikan peranan yang lehih penting pada motivasi dari reward. Teori Belajar Cognitive Development dari Piaget Dalam teorinya Piaget memandang bahwa proses berfikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah seorang psikolog developmental karena penelitiannya mengenai tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Dia adalah salah seorang psikolog suatu teori komperhensif tentang perkembangan intelegensi atau proses berfikir. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Apabila ahli biologi menekankan penjelasan tentang pertumbuhan struktur memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungna maka Piaget tekanan penyelidikannya lain. Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian/ adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan. Piage memakai istilah scheme secara bergantian, Piaget memakai istilah scheme secara bergantian dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku yang dapat diulangulang. Scheme berhubungan dengan Refleks-refleks pembawaan, misalnya bemafas makan, minum Scheme mental, misalnya scheme of classification, scheme of operation (pola tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap), scheme of operation (pola tingkah laku yang dapat diamati). Menurut Piaget, intelegensiitu sendiri terdiri dari tiga aspek yaitu Struktur, disebut juga scheme seperti yang dikemukakan di atas. Isi disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu menghadapi sesuatu masalah. Fungsi, disebut juga function, yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai kemajuan intelektual, fungsi itu sendiri terdiri dari dua macam fungsi invarian, yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi, berupa kecakapan seseorang/ organisme dalam menyusun proses-proses fisik dan psikis dalam bentu sistem-sistem yang koheren. Adaptasi, yaitu adaptasi individu terhadap lingkungannya. Adaptasi ini terdiri dari dua macam proses komplementer yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi Proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk menghadapi masalah dalam lingkungannya. Akomodasi Proses perubahanrespon individu terhadap stimuli lingkungannya. Dengan penjelasan seperti di atas dapatlah kita ketahui tentang bagaimana terjadinya pertumbuhan dan perkembangan individu. Pertumbuhan intelektual terjadi karena adanya proses yang kontinu dari adanya equlibrium-equilibrium. Bila individu dapat menjaga adanya equilibrium, individu akan dapat mencapai tingkat perkembangan intelektual yang lebih tinggi. Pengaplikasian di dalam belajar, perkembangan kognitif bergantung kepada akomodasi. Kepada siswa harus diberikan suatu area yang belum diketahui agar ia dapat belajar, karena ia tak dapat belajar dari apa yang telah diketahuinya saja. Ia tak dapat menggantungkan diri pada asimilasi. Dengan adanya area baru ini siswa akan mengadakan usaha untuk dapat mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang akan mempermudah pertumbuhan kognitif. Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan intelektual siswa mengandung tiga aspek, yaitu structure, content, dan function. Siswa yang sedang mengalami perkembangan. Struktur dan kontent intelektualnya berubah/ berkembang. Fungsi dan adaptasi akan mtersusun sehingga berubah/ berkembang. Fungsi dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan suatu rangkaian perkembangan, masing-masing mempunyai struktur psikologis khusus yang menentukan kecakapan pikir siswa. Maka Piaget mengartikan inteligensi adalah sejumlah struktur piskologis yang ada pada tingkat perkembangan khusus. Tahap-tahap Perkembangan Piaget mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan siswa, yaitu Kematangan pengalaman fisik/ lingkungan transmisi sosial equilibrium atau self regulation Selanjutnya ia membagi tingkat-tingkat perkembangan Tingkat sensori motoris 0.0 2.0 Tingkat preoperasinal 2.0 7.0 Tingkat operasi konkret 7.0 11.0 Tingkat operasi formal 11.0 Penjelasan Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks. Pada masa ksiswa-ksiswa ini, siswa belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan inderanya. Tingkat preoperasional siswa mulai timbul pertumbuhan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang dapat ia jumpai (dilihat) di dalam lingkungannya saja. Baru pada menjelang akhir tahun ke-2 siswa telah mulai mengenal simbol/ nama. Dalam hubungan ini Philips (1969) membagi atas concreteness interversibility centering, (ini tampak adanya egocentisme) state vs transformation, dan transductive reasoning Tingkat Operasi Konkret Siswa telah dapat mengetahui simbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal yang abstrak. Kecakapan kognitif siswa Combinativy classification Reversibility Associativity Identity Serializing Siswa mulai kurang egocentrisme-nya dan lebih sociocentris (siswa mulai membentuk peer group) Tingkat Operasi Formal Siswa telah mempunyai pemikiran abstrak pada bentuk-bentuk kompleks. Flavell (1963) memberikan ciri-ciri sebagai berikut Pada pemikiran siswa remaja adalah hypothetico-deductive. Ia telah dapat membuat hipotesis-hipotesis dari suatu problema dan membuat keputusan terhadap problema itu secara tepat, tetapi siswa kecil belum dapat menyimpulkan apakah hipotesisnya ditolak atau diterima. Periode propositional thinking Remaja telah dapat meberikan statement atau proposisi berdasarkan pada data yang konkret. Tetapi kadang-kadang ia berhadapan dengan proporsi yang bertentangan dengan fakta. Periode combinatorial thinking Bila remaja itu mempertimbangkan tentang pemecahan problem ia telah dapat memisahkan faktor-faktor yang menyangkut dirinya dan mengkombinasi faktor-faktor itu. Jerome bruner dengan Discovely Learning-nya Yang menjadi dasar ide J. Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa siswa harus berperan secara aktif di dalam belajar di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa yang disebutnya discovery learning, yaitu dimana siswa mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir. Prosedur ini berbeda dengan reception learning atau expository teaching, dimana guru menerangkan informasi dan siswa harus mempelajari semua bahan/ informasi itu. Banyak pendapat yang mendukung discovery learning itu, diantaranya J. Dewey (1933) dengan complete art of reflective activity atau dikenal dengan problem solving. Ide Bruner itu ditulis dalam bukunya Process of Education. Di dalam buku itu ia melaporkan hasil dari suatu konferensi diantara suatu para ahli science. Ahli sekolah/ pengajaran dan pendidik tentang pengajaran science. Dalam hal ini, ia mengemukakan pendapatnya, bahwa mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Pada tingkat permulaan pengajaran hendaknya dapat diberikan melalui cara-cara yang bermakna, dan makin meningkat ke arah yang abstrak. Bruner mendapat pertanyaan, bagaimana kita dapat mengembangkan program pengajaran yang lebih efektif bagi siswa yang muda Jawaban Bruner ialah dengan mengkoordinasikan metode penyajian bahan itu, yang sesuai dengan tingkat kemajuan siswa. Tingkat-tingkat kemajuan siswa dari tingkat kemajuan siswa ke representasi konkret dan akhirnya ke tingkat representasi yang abstrak (symbolic). Demikian juga dalam penyesuaian kurikulum. Pernyataan lain dan process of education ialah tentang bagaimana mata pelajaran itu harus diajarkan. Kurikulum dari suatu mata pelajaran harus ditentukan oleh pengertian yang sangat fundamental bahwa hal itu dapat dicapai berdasarkan prinsip-prinsip yang memberikan struktur bagi mata pelajaran itu. Maka di dalam mengajar harus dapat diberikan kepada siswa struktur dari mata pelajaran itu, siswa harus mempelajari prinsip-prinsip itu sehingga terbentuklah suatu disiplin. Sekali siswa mengetahui prinsip itu ia problem di dalam disiplin itu. Bruner menyebutkan hendaknya guru harus memberikan kesempatan kepada siswanya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historian, atau ahli matematika. Biarkanlah siswa-siswa menemukan arti bagi diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti oleh mereka. The act of discovery dari Bruner Adanya suatu kenaikan berkala di dalam potensi intelektual. Ganjaran intrinsik lebih ditekankan daripada intrinsik. Siswa yang mempelajari bagaimana menemukan berarti siswa itu menguasai metode discovery learning. Siswa lebilh senang mengingat-ingat informasi. 1.4. Pengertian Belajar Menurut Psikologi Humanistik Pada akhir tahun 1940-an muncul suatu perspektif psikologi baru. Orang-orang yang terlibat dalam penerapan psikologilah yang berjasa dalam perkembangan ini, misalnya ahli-ahli psikologi klinik, pekerja-pekerja sosial, dan konseler. Gerakan ini erkembang, dan kemudian dikenal sebagai psikologi humanistik, eksestensial, perceptual, atau fenomenologikal. Psikologi ini berusaha untuk memahami perilaku seseorang dari sudut si pelaku (behaver), bukan dari pengamat (observer). Dalam dunia pendidikan, aliran humanistik muncul pada tahun 1960 sampai 1970-an dan mungkin perubahan-perubahan dan inovasi yang terjadi selama dua dekade yang terakhir pada abad 20 ini pun juga akan menuju pada arah ini (John Jarolimak ek, Cliffor D Foste, 1976, halaman 330) Perhatian psikologi humanistik yang terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik aliran humanistik penyusunan dan penyajian materi pelajaran barus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa. Tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka (Hamachek, 1977, p. 148). Psikologi humanistik berkeyakinan bahwa siswa termasuk makhluk yang unik, beragam, berbeda antara satu dengan yang lain. Keberagaman yang ada pada diri siswa, hendaknya dikukuhkan. Dengan demikian, seorang pendidik atau guru bukanlah bertugas untuk membentuk siswa menjadi manusia sesuai yang ia kehendaki, melainkan memantapkan visi yang telah ada pada siswa itu sendiri untuk itu, seorang pendidik pertama kali membantu siswa untuk memahami diri mereka sendiri, dan tidak memaksakan pemahamannya sendiri mengenai diri siswa. Keberagaman siswa tidak saja dari segi lahir, melainkan yang terutama adalah dari segi batinnya. Oleh karena itu, jika ingin memahami siswa, tidak dapat dengan menggunakan perspektif orang yang memahami, melainkan dengan menggunakan perspektif orang yang dipahami. Behaviorisme Versus Humanistik Dalam menyoroti masalah perilaku, ahli-ahli psikologi behavioral dan humanistik mempunyai pandangan yang sangat berbeda. Perbedaan ini dikenal sebagai freedom of determination issue. Para behaviorest memandang orang sebagai makhluk reaktif yang memberikan responsnya terhadap lingkungannya. Pengalaman lampau dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Sebaliknya para humanistik mempunyai pendapat bahwa tiap orang itu menentukan perilaku mereka sendiri. Mereka bebas dalam memilih kualitas hidup mereka, tidak terikat oleh lingkungannya. Sebagaimana disebtakan di atas, bahwa pandangan psikologi humanistik merupakan anti tesa dari pandangan psikologi behavioristik. Eka dalam pandangan psikologi behavioristik, belajar merupakan kontrol instrumental yang dilakukan oleh lingkungan maka dalam pandangan psikologi humanistik justru sebaliknya. Belajar dilakukan dengan cara memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya kepada individu. Tokoh-Tokoh Humanistik Ada beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistik seperti Combs, Maslov, dan Rogers Combs Combs dan kawan-kawan menyatakan apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Apabila kita ingin mengubah perilaku seseorang, kita harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan orang itu, perilaku dalamlah yang membedakan seseorang dari yang lain. Combs dan koleganya selanjutnya mengatakan bahwa perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Apabila seorang guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu, ini sesungguhnya berarti, bahwa siswa itu tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu. Apabila guru itu memberikan aktivitas yang lain, mungkin sekali siswa akan memberikan reaksi yang positif. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada kegiatan belajar, yaitu Pemerolehan informasi baru, dan Personalisasi informasi ini pada tingkat individu. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila subjek materi-nya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada subjek materi itu, dengan kata lain di individulah yang memberikan arti tadi kepada subjek materi itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana caranya membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari subjek materi itu, bagaimana siswa itu menghubungkan subjek materi itu dengan kehidupannya (Principles of Instruction Design oleh Robert M. Gayne Leshe J. Briggs, halaman 212). Combs memberikan lukisan persepsi diri dan persepsi dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkaran besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhya pada individu dan makin dekat peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin besar pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan. Maslov Teori didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal Suatu usaha yang positif untuk berkembang Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu, (maslov, 1968) Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. Tetapi mendorong untuk maju ke arah keutuhan, keunikan diri, menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendifi (self). Maslov membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di tasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslov ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar siswa-siswa. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi. Carl Rogers Salah seorang tokoh psikologi humanistik adalah Carl Rogers, seorang ahli psikoterapi. la mempunyai pandangan bahwa siswa yang belajar hendaknya tidak dipaksa, melainkan dibiarkan belajar bebas. Tidak itu saja, siswa juga diharapkan dapat membebaskan dirinya hingga ia dapat mengambil keputusan sendiri dan berani bertanggungjawab atas keputusan-keputusan yang ia ambil atau pilih. Dalam belajar demikian, siswa tidak dketak menjadi oran lain melainkan dibiarkan dan dipupuk untuk menjadi dirinya sendiri. la tidak direkayasa agar terikat kepada orang lain, bergantung kepada pihak lain dan memenuhi harapan orang lain. la dibiarkan agar tetap bisa menjadi arsitek buat dirinya sendiri. Rogers mengemukakan prinsip-prinsip belajar humanistik sebagai berikut Hasrat untuk belajar Hasrat untuk belajar merupakan suatu hal yang bersifat alamiah bagi manusia. Ini disebabkan adanya hasrat ingin tahu manusia yang terus menerus terhadap dunia dengan segala isinya. Hasrat ingin tahu yang demikian terhadap dunia sekelilingnya, menjadikan penyebab seseorang senantiasa berusaha mencari jawabannya. Dalam proses mencari jawaban inilah, seseorang mengalami aktivitas-aktivitas belajar. Belajar bermakna. Dalam pandangan psikologi humanistik makna sangat penting dalam belajar. Seorang beraktivitas atau tidak senantiasa akan menimbang-nimbang apakah aktivitas tersebut mempunyai makna buat dirinya. Sebab, sesuatu yang tak bermakna bagi dirinya, tentu tidak akan ia lakukan. Belajar tanpa hukuman. Hukuman memang dapat saja membuat seseorang untuk belajar. Tetapi, hasil belajar demikian tidak akan bertahan lama. la melakukan aktivitas sekedar menghindari ancaman hukuman. Pada hal, msiswaala hukuman tak ada, aktivitaspun tidak akan dilakukan. Oleh karena itu, agar siswa belajar justru harus dibebaskan dari ancaman hukuman. Belajar yang terbebas dari ancaman hukuman demikian im menjadikan penyebab siswa bebas melakukan apa saja, mencoba-coba sesuatu yang bermanfaat buat dirinya. mengadakan eksperimentasi-eksperimentasi hingga siswa dapat menemukan sendiri mengenai sesuatu yang baru. Kreativitas siswa dalam belajar yang bebas dari ancaman hukuman dengan sendirinya juga akan meningkat. Belajar dengan inisiatif sendiri. Belajar dengan inisiatif sendiri pada diri pembelajar sebenarnya menyiratkan betapa tingginya motivasi internal yang dipunyai. Pembelajar yang banyak berinisiatif tatkala belajar, senantiasa mencari cara-cara hingga dia berhasil dalam belajarnya. Inisiatif yang lahir dari diri sendiri im juga menunjukkan rendalmya dependensi pembelajar terhadap orang lain. la akan bebas melakukan apa saja dalam belajarnya. dan tidak terikat oleh rekayasa-rekayasa yang berasal dari lingkungannya. Pada diri pembelajar yang kaya inisiatif, terdapat kemampuan untuk mengarahkan dirinya sendiri, menentukan pilihannya sendiri serta berusaha menimbang-nimbang sendiri mana hal yang baik bagi dirinya. la akan berusaha dengan totalitas pribadinya untuk mencapai sesuatu yang ia cita-citakan. Belajar dan perubahan. Dunia terus berubah, dan siapapun di dunia ini tak ada yang dapat menangkal perobahan. Oleh karena itu, pembelajar haruslah dapat belajar dalam segala kondisi dan situasi yang serba berubah. Kalau tidak, ia akan terlindas oleh perubahan. Dengan demikian, belajar yang sekedar mengingat fakta, menghafal sesuatu, dipandang tidak cukup. Orang harus dapat menyesuaikan dalam sebuah dunia yang senantiasa berubah. Dalam bukunya freedom to learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistik yang penting, di antaranya adalah Manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami. Belajar yang signifikan terjadi apabila subjek materi di rasakan siswa mempunyai relevansi dengan maksud-maksudnya sendiri. Belajar yang menyangkut suatu perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebilh mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman- ancaman dari luar itu semakin kecil Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung-jawab terhadap proses belajar itu. Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan basil yang mendalam dan lestari. Kepercayaan tehadap diri sendiri, kemerdekaan. kreativitas lebih mudah dicapai terutama siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik dirinya sendiri dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang penting. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar. suatu keterbukaan yang terus-menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenai proses perubahan itu. 1.5. Pengertian Belajar Menurut Psikologi Gestalt. Dalam aliran ini ada beberapa istilah yang artinya sama ialah field, pattern, organisme, closure, integration, wholistik, configuration, dan gestalt. Karena itu psikologi gestalt sering disebut psikologi organisme atau field theory. Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur. Suatu keseluruhan bukan terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur. Unsur-unsur itu berada dalam keseluruhan menurut struktur yang telah tertentu dan saling berinteralisi satu sama lain, Contoh kepala manusia bukan merupakan penjumlahan daripada batok kepala, telinga, bidung, mata, mulut, rambut, dagu, dan sebagainya, melainkan kepala itu adalah suatu keseluruhan yang bermakna, di mana unsur-unsur tadi teletak pada struktumya masing-masing. Mata tidak mungkin terletak di ibu jari, hidung tidak mungkin terletak di tengah-tengah dada dan seterusnya. Pada struktumya masing-masing itulah bagian-bagian dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam hubungan keseluruhan itu. Lagi pula sesuatu hal, perbuatan, benda lain-lain hanya bermakna dalam hubungan dengan situasi tertentu. Misalnya emas (perhiasan) hanya bermakna dalam situasi di mana ada pesta. Para tamu umumnya memakai perhiasan yang indah-indah, akan tetapi tidak bermakna dalam situasi padang pasir di mana seseorang sedang mengalami rasa haus dan dahaga. Pandangan ini sangat berpengaruh terhadap tafsiran tentang belajar. Beberapa pokok yang perlu mendapat perhatian antara lain ialah Timbulnya kelakuan adalah berkat interaksi, antara individu dan lingkungan dimana faktor apa yang telah dimiliki (natural endowment) lebih menonjol. Bahwa individu berada dalam keadaan keseimbangan dinamis, adanya gangguan terhadap keseimbangan itu akan mendorong timbulnya kelakuan. Mengutamakan segi pemahaman (insight) Menekankan kepada adanya situasi sekarang, dimana individu menemukan dirinya Yang utama dan pertama adalah keseluruhan, dan bagian-bagian hanya bermakna jika berada dalam keseluruhan itu. Prinsip-prinsip Belajar Gestalt (field theory) Belajar dimulai dari suatu keseluruhan. Keseluruhan yang menjadi permulaan, baru menuju ke bagian-bagian. Dari keseluruhan organisasi mata pelajaran menuju tugas-tugas harian yang beruntun. Belajar dimulai dari satu unit yang kompleks menuju ke hal-hal yang mudah dimengerti, deferensiasi pengetahuan dan kecakapan. Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian. Bagian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tadi. Dengan demikian keseluruhan yang memberikan makna terhadap suatu bagian, misal sebuah ban mobil hanya bemakna kalau menjadi bagian dari mobil, sebagai roda. Sebuah papan tulis hanya bermakna sebagai papan tulis kalau ia berada dalam kelas, sebuah tiang kayu hanya bermakna sebagai tiang kalau menjadi satu dari rumah dan sebagainya. Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan. Mula-mula siswa melihat sesuatu sebagai keseluruhan. Bagian-bagian dilihat dalam hubungan fungsional dengan keseluruhan. Tetapi lambat laun ia mengadakan deferensiasi bagian-bagian itu dari keseluruhan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau kesatuan yang lebih kecil contoh mula-mula siswa melihat mengenal wajah ibunya sebagai keseluruhan kesatuan. Lambat laun dia dapat memisahkan mana mata ibu, mana hidung ibu, mana telinga ibu, kemudian ia melihat bahwa wajah ibunya itu cantik atau jelek, atau menarik dan sebagainya. Siswa belajar dengan menggunakan pemahaman atau insight. Pemahaman adalah kemampuan melihat hubungan-hubungan antara berbagai faktor atau unsur dalam situasi yang problematis, seperti simpanse dapat melihat hubungan antara beberapa buah kotak menjadi sebuah tangan untuk mengambil buah pisang karena ia sedang lapar. Tokoh psikologi gestalt ini antara lain adalah Kohler, Koffka dan Wertheimer. Menurut pandangan psikologi gestalt, belajar terdiri atas hubungan stimulus respon yang sederhana tanpa adanya pengulangan ide atau proses berfikir. Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahimya teori belajar Gestalt ini. Peletak dasar psikologi gestalt adalah Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya ini diikuti oleh Kurt koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wollgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpanse. Penelitian-penelitian mereka menumbuhkan psikologi gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur dan pemetaan dalam pengalaman. Kaum gestalt berpendapat, bahwa pengalaman itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan. Orang yang belajar, mengamati stimuli dalam keseluruhan yang terorganisasi, bukan dalam bagian-bagian yang terpisah. Suatu konsep yang penting dalam teori gestalt adalah tentang insight, yaitu pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Insight itu sering dihubungkan dengan Pernyataan spontan seperti aha atau oh. Kohler (1927) menemukan tumbuhnya insight pada seekor simpanse dengan menghadapkan simpanse pada masalah bagaimana memperoleh pisang yang terletak di luar kurungan atau tergantung di atas kurungan. Dalam eksperimen itu Kohler mengamati, bahwa kadangkala simpanse dapat memecahkan masalah secara mendadak, kadangkala gagal meraih pisang, kadang kala duduk merenungkan masalah, dan kemudian secara tiba-tiba menemukan pemecahan masalah. Wertheimer (1945) menjadi orang gestalt yang mula-mula menghubungkan pekerjaannya dengan proses belajar di kelas. Dari pengamatannya itu. Ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah dan menghendaki agar siswa belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis. Menurut pandangan gestaltis, semua kegiatan belajar (baik pada simpanse maupun pada manusia) menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan-hubungan antara bagian dengan keseluruhan. Menurut psikologi gestalt, tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukuman dan ganjaran. Menurut psikologi gestalt setiap pengalaman itu senantiasa struktur. Setiap respon yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulan, sebenarnya tidak tertuju kepada suatu bagian melainkan teriuju kepada sesuatu yang bersifat kompleks. Adapun hukum-hukum belajar menurut psikologi adalah sebagai berikut Hukum kesamaan (law of similarity). Menurut hukum ini, sesuatu yang sama cenderung membentuk satu kesatuan. Perhatikan gambar berikut ini Y @ h Y @ h Y @ h Hukum penuh makna (law of pragnanz). Menurut hukum ini, pengamatan terhadap sesuatu objek cenderung dikaitkan dengan makna objek tersebut bagi seseorang. Makna objek tersebut bagi seseorang, bisa berupa bentuknya, ukurannya, warnanya dan sebagainya. Hukum kedekatan (law of proximity). Menurut hukum ini, sesuatu yang berdekatan cenderung membentuk satu kesatuan, periksa gambar berikut ini (( (( (( (( (( (( (( (( ab cd ef gh Hukum ketutupan (law of closure). Menurut hukum ini, hal-hal yang tertutup membentuk suatu kesatuan. Perhatikan gambar berikut ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( ( a b c d e f Hukum-hukum kontinyutas (law of goof continuation) Menurut hukum ini, hal-hal yang merupakan kontinyuitas membentuk suatu kesatuan. Menurut psikologi gestalt, wawasan atau yang lazim disebut sebagai insight dipandang sebagai inti belajar. Oleh karena itu, dalam belajar yang mestinya ditanamkan adalah pengertian siswa mengenai sesuatu yang harus dipelajari. 2. CIRI – CIRI BELAJAR Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya pengalaman. Oleh karena itu, ada sejumlah ciri belajar yang dapat dibedakan dengan kegiatan-kegiatan lain selain belajar. Pertama, belajar dibedakan dengan kematangan. Kedua, belajar dibedakan dengan perubahan kondisi fisik dan mental. Ketiga hasil belajar bersifat relatif menetap. Berdasarkan pengertian belajar di atas maka pada hakikatnya belajar menunjuk ke perubahan dalam tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu berkat pengalamannya yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah taku tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecendrungan-kecendrungan respon bawaan, kematangan atau keadaan temporer dari subjek (misalnya keletihan, dsb). Belajar berbeda dari kematangan. Kematangan adalah sesuatu yang dialami oleh manusia karena perkembangan-perkembangan bawaan. Tanpa melalui aktivitas belajarpun, pada saat tertentu, orang akan mengalami kematangan. Oleh karena itu, kematangan akan dialami oleh seseorang, meskipun ia sendiri tidak mensengaja. Kematangan yang ada pada diri seseorang juga bukan karena satu upaya yang dilakukan oleh orang lain (misalnya saja guru). Kematangan umumnya ditandai oleh adanya perubahan-perubahan pada diri seseorang, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Adanya perubahan pada diri seseorang semisal dari belum bisa berjalan pada umur tertentu menjadi bisa berjalan pada umur selanjutnya, tidaklah akibat dari aktivitas belajar. Demikian juga, dari seseorang belum bisa berbkara kemudian menjadi bisa berbkara, juga bukan karena aktivitas belajar melainkan karena adanya proses kematangan. Berbeda dengan belajar, ia adalah suatu proses yang disengaja dan secara sadar. Belajar adalah suatu aktivitas yang dirancang, atau sebagai akibat interaksi antara individu dengan lingkungannya. Belajar dibedakan dari perubahan kondisi fisik dan mental. Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang disengaja. Perubahan tersebut bisa berupa dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak dapat mengerjakan sesuatu menjadi dapat mengedakan sesuatu, dari memberikan respon yang salah atas stimulus-stimulus ke arah memberikan respon yang benar. Berarti perubahan fisik dari kecil menjadi besar, dari kurus menjadi gemuk, dan pendek menjadi semakin tinggi bukanlah karena proses belajar, dan oleh karena itu tidak dapat disebut sebagai proses belajar. Hasil belajar relatif menetap Hasil belajar relatif menetap, dan tidak berubah-ubah. Perubahan tingkah laku yang sifatnya relatif tidak menetap, bukanlah karena proses belajar. Orang setiap kali dapat berubah. Perubahan-perubahan demikian, tidak sama dengan perubahan-perubahan dalam belajar. Oleh karena itu, tidak semua perubahan yang ada pada diri seseorang dianggap sebagai hasil belajar. Hanya perubahan-perubahan tertentu saja yang memenuhi syarat untuk disebut sebagai belajar. 3. TUJUAN DAN UNSUR-UNSUR DINAMIS DALAM BELAJAR Tujuan dan unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah dua hal yang sangat penting dalam belajar. Tujuan umumnya mengarahkan seseorang yang sedang belajar ke arah kegiatan tertentu. Sementara unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah suatu perangkat yang turut menghantarkan sesemang yang sedang mencapai tujuan belajar. Tujuan Belajar Setiap manusia kreativitas, sepanjang aktivitas tersebut disadari, senantiasa dimaksudkan bagi pencapaian tujuan tertentu. Demikian juga seseorang yang sedang berkreativitas belajar. tentulah dimaksudkan bagi pencapaian tujuan. Paling tidak ada empat alasan mengapa tujuan belajar ini perlu dirumuskan oleh pembelajar. Pertama, agar ia mempunyai arah dalam berkreativitas belajar. Kedua, agar ia dapat menilai seberapa target belajar telah ia capai atau belum. Ketiga, agar waktu dan tenaganya tidak tersita untuk kegiatan selain belajar. 3.1. Tujuan belajar dalam hubungannya dengan perubahan tingkah laku. Salah satu ciri belajar pada diri seseorang adalah terdapatnya perubahan tingkah laku pada dirinya. Adanya perubahan tingkah laku ini menjadikan seorang pembelajar berubah dari suatu kondisi ke kondisi tertentu. Perubahan tingkah laku dalam diri pembelajar umumnya dapat diamati (observable). Oleh karena itu, ketika pembelajar mau mengadakan aktivitas belajarnya, perlu merumuskan tujuan belajar buat dirinya sendiri. Dalam merumuskan tujuan belajar yang terkait dengan perubahan tingkah laku ini, seseorang pembelajar pertama kali haruslah mengenali mengenai dirinya sendiri. Pengenalan terhadap dirinya sendiri ini sangat penting guna merumuskan kebutuhan kebutuhan belajarnya. Pengenalan mengenai diri sendiri ini juga bisa terhindar dari mempelajari sesuatu yang sudah dikuasai, disamping dapat terhindar juga dari mempelajari sesuatu yang tidak dimaksudkan untuk dipelajari. Tujuan belajar yang dikaitkan dengan perubahan tingkah laku ini mengandung unsur-unsur sebagai berikut Jelas siapa yang berubah (dalam hal ini adalah pembelajar sendiri, dan bukan pengajar). Jelas perubahannya, dari tidak bisa sesuatu menjadi bisa sesuatu. Jelas waktunya, yaitu kapan perubahan tingkah laku tersebut berlangsung dan tercapai. Jelas ukuran perubahannya, yang lazim ditunjukkan secara kuantitatif. Jelas cara menghukumya, yaitu perubahan tersebut dapat diukur dengan cara bagaimana. Dirumuskan dengan kata-kata yang kongkrit (observable). Sebagai contoh, setelah menelaah Bab I, pembelajar dapat menjelaskan 4 ciri-ciri tingkah laku menyimpang secara lisan. Kata pertama, pembelajar, menunjukkan dengan jelas siapa yang berubah tingkah lakunya setelah melakukan aktivitas, dalam hal ini adalah pembelajar bukan pengajar (unsur pertama). Kata-kata dapat menjelaskan menunjukkan terdapatnya perubahan tingkah laku pada diri pembelajar dari tidak bisa menjelaskan menjadi bisa menjelaskan (unsur kedua). Kata-kata setelah menelaah bab I menunjukkan waktu perubahan (unsur ketiga). Kata-kata 4 ciri-ciri tingkah laku menyimpang menunjukkan ukuran perubahan. Bandingkan misalnya dengan kata-kata ciri-ciri tingkah laku menyimpang. Kata-kata ini tidak menunjukkan berapa jumlah ciri tingkah laku menyimpang (unsur keempat). Kata secara lisan menunjukkan bagaimana perubahan tingkah laku tersebut diukur. Sebab, pengukuran terhadap bisa tidaknya seseorang menjelaskan secara lisan dan secara tertulis. membutuhkan cara pengukuran tersendiri. Oleh karena itu, bentuk perubahan tingkah laku tesebut haruslah jelas (unsur kelima). Kata menjelaskan pada rumusan tujuan menunjukkan bahwa ia dapat diamati secara konkrit. Bandingkan misaInya dengan kata memahami, mengerti. merasakan, menikmati. Kata-kata disebutkan terakhir ini tidak dapat diamati (tidak observable). Bloom dan kawan-kawan (1956) membuat taksonomi tujuan belajar yang terkait dengan perubahan tingkah laku ini. Ia mengkategorisasikan tujuan (bukan memisahkan, karena semestinya tidak untuk dipisah-dipisahkan) menjadi tiga kawasan, ialah kawasan tersebut, masing-masing mempunyai sub kawasan masing-masing yang disusun mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Kawasan pertama, cognitive terdiri dari knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis dan evaluation. secara berturut-turut akan dijelaskan sebagai berikut Knowledge dapat diartikan dengan pengetahuan. Sub kawasan ini mementingkan aspek ingatan. Oleh karena itu, sub kawasan ini lebih tepat untuk diartikan mengingat terhadap materi-materi yang pernah dipelajari. Mengingat kembali terhadap fakta-fakta yang pernah dipelajari, teori-teori yang pernah ditelaah. Dalam kawasan kognitif ini dipandang berada pada tingkat terendah. Comprehension dapat diartikan dengan kemampuan untuk menangkap pengertian mengenai sesuatu. Pada sub kawasan ini, seseorang dapat menterjemahkan sesuatu, mengambil kata lain dari suatu kata atau pengertian, mengambil inti dari suatu bacaaan dan membuat prakiraan-prakiraan. Application lazim diberi makna sebagai suatu kemampuan untuk menerapkan apa-apa yang pernah dipelajari ke dalam situasi yang senyatanya. Pada sub kawasan ini, seseorang yang sedang belajar mampu menerapkan, mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori dalam situasi praktis. Analysis adalah suatu keterampilan untuk merinci, menghubungkan, menguraikan rincian dan saling hubungan antara bagian satu dengan bagian lainnya. Synthesis adalah suatu kemamptian untuk menyatukan hal-hal yang tak menyatu menjadi sebuah kesatuan yang utuh. Dengan kemampuan synthesis ini sesuatu yang sebelumnya terbelah-belah terkristal dan kemudian dapat diformulasikan ke dalam forinula yang tak terbelah. Evaluation adalah suatu kemampuan untuk menentukan baik-buruk, berharga-tidak berharga, bernilai-tidak bernilai mengenai suatu hal. Penentuan tersebut didasarkan atas patokan-patokan yang dilmat pada masa sebelumnya. Kemampuan mengadakan evaluasi ini termasuk jenis kemampuan yang tertinggi dalam kawasan kognitif ini. Kawasan kedua, affective, meliputi empat sub kawasan berikut receiving, responding, valuing, organization, characteristization by a value or value complex. Secara berturut-turut dapat dijelaskan sebagai berikut Receiving atau penerimaan, adalah kemampuan seseorang untuk menghadirkan kediriannya pada sebuah event atau stimulus-stimulus yang ia terima. Menghadirkan diri demikian ini, meskipun dalam tataran rendah, telah dapat meliput kesadaran seseorang. Hasil belajar pada sub kawasan ini telah memunculkan sebuah kesadaran yang paling simpel sampai dengan hadirnya perhatian yang terpilih. Responding atau pemberian tanggapan. Kemampuan ini relatif febih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan sub kawasan receiving. Jika pada sub kawasan receiving seseorang menghadirkan kediriannya pada sebuah event maka dalam sub kawasan responding ini seseorang memberikan tanggapan/ respon/ jawaban atas event-event yang ia terima. Valuing atau pemberian nilai. Yang dimaksud dengan pemberian nilai di sini adalah memberikan harga terhadap suatu fenomena, benda, kejadian atau event, Sub kawasan ini menjadikan seseorang bisa menerima nilai tertentu dan menunjukkan komitmennya pada nilai tertentu. Oleh karena itu, pada sub kawasan ini seseoarang tampak tingkatan integritasnya keajegan dan integritas. Organization atau pengorganisasian adalah upaya untuk memadukan berbagai jenis nilai yang berbeda-beda. Dari nilai-nilai yang berbeda tersebut, kemudian dibangun menjadi suatu sistem nilai. Ada semacam sintesa nilai-nilai yang beragam, hingga menjadi suatu kesatuan nilai. Antara nilai satu dengan yang lain dicoba hubungkan. Bila terdapat konflik di antara nilai-nilai tersebut dicoba pecahkan. Characterization of value or value complex atau karakterisasi dengan suatu nilai. Pada sub kawasan ini seseorang mempunyai sistem nilai yang dapat mengendalikan tingkah lakunya dalam kehidupan hingga dapat membentuk gaya hidup yang khas, berbeda dengan orang lain. Hasil belajar pada sub kawasan ini bisa menjadikan seseorang menyesuaikan diri secara personal, sosial dan emosional. Kawasan ketiga, psychomotor mencakup tujuh sub kawasan dari yang tingkatan terendah hingga tingleatan tertinggi. Ke tujuh sub kawasan ini adalah perception, set, guided respon, mechanism, complex overt respon, adaptation dan origination. Sub-sub kawasan ini dapat dijelaskan sebagai berikut Perception atau persepsi. Yang dimaksud dengan persepsi di sini adalah penggunaan indera untuk memperoleh petunjuk ke arah motorik. Pada sub kawasan ini, seseorang mengindera stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungannya guna persiapan untuk membimbing aktivitas-aktivitas motoriknya. Set atau kesiapan. Sub kawasan ini meliputi mental set, physical set dan emotional set. Pada sub kawasan ini, seseorang bersedia mengambil tindakan-tindakan berdasarkan persepsinya terhadap stimulus atau fenomena-fenomena yang berasal dari lingkungannya. Guided respon atau respon terpimpin. Pada sub kawasan ini seseorang mulai berada pada proses belajar keterampilan yang lebib komplek. Pada sub kawasan ini seseorang terlibat dalam proses peniruan yang diperformansikan, selanjutnya mencoba menggunakan tanggapan dalam menangkap suatu motorik. Mechanism atau mekanisme. Pada sub kawasan ini respon-respon yang telah dipelajari oleh seseorang telah berubah menjadi kebiasaan dan gerakan-gerakan yang ditampilkan, dilakukan dengan penuh kepercayaan dan kemahiran. Complex over respons atau respon nyata yang kompleks. Pada sub kawasan ini seseorang yang lagi belajar, melakukan gerakan dengan mudah disamping mempunyai kontrol yang baik. Kadar motorik pada sub kawasan ini relatif cukup tinggi. Sebab, gerakan-gerakan pada sub kawasan ini relatif cepat, cermat termasuk pada hal-hal yang rumit dan tepat meskipun disertai dengan energi yang minimal. Adaptation atau penyesuaian. Yang dimaksud dengan penyesuaian adalah sebuah keterampilan dimana seseorang dapat mengolah gerakan hingga sesuai dengan tuntutan kondisional dan situational, termasuk yang problematis sekalipun. Origination atu penciptaan. Sub kawasan ini termasuk paling tinggi tingkatannya dibandingkan dengan sub kawasan sebelumnya, oleh karena unsur kreativitas sudah masuk di sini. Performansi seseorang yang belajar pada sub kawasan ini umumnya ditandai dengan hal-hal yang serba baru, misaInya membuat pola-pola baru, merancang hal-hal baru. 3.2. Tujuan belajar sebagai pembentukan pemahaman nilai dan sikap. Tujuan belajar sebagai sasaran pembentukan pemahaman Tujuan belajar memang merupakan sasaran bagi pembentukan pemahaman seseorang terhadap hal-hal yang dipelajari. Pemahaman seseorang terhadap hal-hal yang dipelajari, sebutlah saja dunia dengan segala isinya, sangatlah penting artinya bagi pembelajar. Pemahaman pembelajar tehadap dunia dengan segala isinya tidak saja mendatangkan kepuasan bagi pembelajar, melainkan dapat menempatkan diri pembelajar pada posisi strategik. la akan mempunyai peta dimana ia harus menempatkan diri, ia akan mengetahui apa yang harus ia perbuat dan apa yang tidak ia perbuat. Terjadinya bentrokan-bentrokan di dunia, sebenarnya disebabkan kurang adanya saling pemahaman di antara mereka. TimbuInya saling curiga, juga dapat disebabkan kurang adanva saling pemahaman. Oleh karena itu terbentuknya pemahaman pembelajaran terhadap sesuatu yang dipelajari, tidak saja bermanfaat bagi dirinya sendiri, melainkan bermanfaat juga bagi lingkungannya. Pemahaman seseorang terhadap orang lain, malahan dapat menjadikan seseorang melihat orang lain tidak semata dengan menggunakan perspektif sendiri. la mencoba menangkap seseorang dengan menggunakan perspektif orang yang dipandang. Dengan cara pandangan demikian, ia akan mengenal orang yang dipandang tersebut dalam keadaan yang senyatanya dan tidak terbatas pada persepsinya sendiri. Pemahaman terhadap orang lain, juga menjadikan seseorang tidak risau, jika melihat orang lain berbeda dengan dirinya. la. juga sekaligus tidak membuat dirinya agar seperti orang lain, dan sebaliknya tidak menuntut orang lain agar seperti dirinya. la akan menjadi dirinya sendiri, dan memahami jika orang lain juga seperti dirinya. Singkat kata, pemahaman adalah suatu dasar bagi segala akan seseorang. Ia memberikan kontribusi yang besar bagi sukses tidaknya seseorang. Lebih jauh pemahaman menjadikan seseorang saling mengerti, dan lehih lanjut lagi saling menghargai. Pemahaman sekaligus mencegah timbuInya saling curiga, dan lebih jauh lagi mencegah timbuInya saling bentrokan. Tujuan belajar sebagai sasaran pembentukan nilai dan sikap. Setiap masyarakat, masyarakat manapun, pasti menganut sebuah nilai. Nilai dimaksud, adakalanya merupakan produk masyarakat pada kurun waktu yang sejaman dengan mereka. Malahan, pada masa sekarang ini, nilai-nilai yang dianut oleh sebuah masyarakat, dapat merupakan kristalisasi dari hasil dialog antara nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya dengan yang sejaman dengan mereka. Di era globalisasi seperti saat sekarang, sebagai akibat dari melesatnya perkembangan teknologi komunikasi, nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, dapat merupakan kristalisasi hasil dialog antara nilai-nilai yang selama ini dianut dengan nilai-nilai baru yang datang dari dunia luar. Oleh karenanya, nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat dewasa ini semakin beragam. Dalam belajar, ada nilai-nilai tertentu yang harus diupayakan terbentuk pada diri pembelajar. Nilai-nilai yang dibentukkan pada diri pembelajar tersebut, tentu nilai-nilai luhur yang secara universal dianut oleh hampir setiap masyarakat, disamping nilai-nilai luhur yang spesifik dianut oleh masyarakat dimana pembelajar tersebut berada. Nilai-nilai luhur yang hampir dianut oleh setiap masyarakat secara universal misaInya adalah kebenaran, kejujuran, keindaban, kemerdekaan, saling membantu dan memberi manfaat. Sementara nilai-nilai luhur yang dianut oleh masyarakat secara spesifik khususnya di lingkungan pembelajar banyak ragamnya, seberagam jumlah pembelajar. Disamping tujuan belajar terkait dengan pembentukan nilai, sekaligus juga terkait dengan pembentukan sikap. Terbentuknya sebuah sikap, lazim juga didasarkan atas sehuah nilai. Meskipun nilai bukanlah satu-satunya yang menentukan sikap. Berbedanya nilai-nilai yang dianut oleb seseorang lazim menjadikan penyebab berbedanya seseorang dalam menyikapi sesuatu. Sebab, nilai-nilai yang dianut seseorang turut menentukan persepsi seseorang tentang sesuatu. Pada hal persepsi seseorang terhadap sesuatu lazimnya juga turut menentukan sikap seseorang terhadap sesuatu. Tujuan belajar sebagai sasaran pembentukan, keterampilan-keterampilan personil-sosial, kognitif dan instrumental. Setiap pembelajar, tentu memiliki kekhasan tertentu yang berbeda dengan pembelajar lain. Oleb karena itu, dalam belaiar seorang pembelajar haruslah mengembangkan kekhasan-kekhasan yang dimiliki. Keterampilan personal yang dimiliki. Keterampilan personal yang dimiliki oleh pembelajar, haruslah dibentuk dan dikembangkan secara terus menerus. Dengan cara demikian maka pembelajar akan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan ciri khas atau karakteristik yang ada pada dirinya. Selain keterampilan-keterampilan personal dibentuk, keterampilan sosial pembelajar juga perlu dibentuk. Pembentukan keterampilan sosial demikian tampak urgensinya msiswaala dilihat kedudukan pembelajar yang tidak saja sebagai makhluk individu melainkan juga sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, pembelajar haruslah dapat berinteraksi secara baik dengan lingkungan sosiaInya, sesama manusia. Maka dari itu, pembentukan keterampilan-keterampilan sosial pada diri pembelajar dimaksudkan untuk menyiapkan pembelajar agar dapat bergabung dan berinteraksi secara baik dengan lingkungan sosialnya. Dengan perkataan lain, jika pembentukan keterampilan personal dimaksud untuk mengembangkan potensi-potensi bawaan yang ada pada diri pembelajar maka keterampilan sosial antara lain dimaksudkan mengkomunikasikan keterampilan personal yang telah terbentuk dalam lingkungan sosiaInya. Pembentukan keterampilan kognitif dimaksudkan agar pembelajar secara terus-menerus menimba ilmu pengetahuan tanpa batas. Keterampilan kognitif pada diri pembelajar menjadikan pembelajar haus secara terus menerus terhadap ilmu pengetahuan. Dengan pengembangan yang terus menerus pembelajar tidak akan ketinggalan dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan yang demikian pesat. Dengan pembentukan keterampilan kognitif ini maka pembelajar memandang belajar bukan sebagai beban melainkan menjadi sebuah kebutuhan. Pembentukan keterampilan instrumental pada diri pembelajar, mengarahkan pembelajar sadar pada pembangunan yang sedang digalakkan. Jika keterampilan instrumental ini telah terbentuk pada diri pembelajar maka pembelajar punya kesadaran yang sedemikian dalam terhadap pembangunan yang sedang dilaksanakan. Dengan demikian ia mengambil bagian secara aktif di dalamnya, dan tidak sekedar sebagai penonton saja. Kesadaran untuk secara terus menerus membangun dirinya sendiri dan membangun masyarakat, lingkungan dan bangsanya adalah sasaran bagi pembentukan keterampilan instrumental ini. Keterampilan instrumental ini adalah tindak lanjut konkrit dari keterampilan-keterampilan yang ingin dibentuk sebelumnya keterampilan personal, sosial dan kognitif 3.3. Unsur – unsur dinamis yang terkait di dalam proses belajar Yang dimaksud dengan unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang dapat berubah dalam proses belajar. Perubahan unsur-unsur tersebut dapat berupa dan tidak ada menjadi ada atau sebaliknya, dari lemah menjadi kuat dan sebaliknya, dari sedikit menjadi banyak dan sebaliknya. Unsur-unsur dinamis tersebut meliputi motivasi, bahan belajar, alat bantu belajar, suasana belajar dan kondisi subjek pembelajar. Berikut ini akan dijelaskan tentang Motivasi dan upaya memotivasi siswa untuk belajar. Bahan belajar dan upaya penyediaannya. Alat bantu belajar dan upaya penyediaanya. Suasana belajar dan upaya pengembangannya. Kondisi subjek belajar dan upaya penyiapan dan peneguhannya. Motivasi dan Upaya Memotivasi Siswa Untuk Belajar Motivasi berasal dari kata Inggris motivation yang berarti dorongan, pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti mendorong, menyebabkan merangsang. Slotive sendiri berarti alasan, sebab, dan daya penggerak (Echols, 1984). Motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas rertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan (suryabrata, 1984). Secara serupa Winkels (1987) mengemukakan bahwa motif adalah adanya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu pula. Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal adanya motivasi belajar, yaitu motivasi yang diterapkan dalam kegiatan belajar. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar mengajar. kelangsungan belajar itu demi mencapai suatu tujuan (Winkels, 1987). Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi sangat sedikit yang tertinggal belajarnya dan sangat sedikit pula kesalahan dalam belajarnya (Palardi, 1975). Secara garis besar motivasi dapat dibedakan menjadi dua ialah intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam tanpa ada rangsangan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar. Ada beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Ini dapat dikenali melalui proses belajar mengajar di kelas, sebagaimana dikemukakan Brown (1981) sebagai berikut menarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh, tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan. mempunyai antusias yang tinggi seta mengendalikan perhatiannya terutama kepada guru, ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas, ingin identitas dirinya diakui oleh orang lain, tindakan, kebiasaan, dan moraInya selalu dalam kontrol diri, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali, dan selalu terkontrol oleh lingkungannya. Sardiman (1986) mengemukakan bahwa ciri-ciri motivasi yang ada pada diri seseorang adalah tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara terus menerus dalam waktu lama, ulet, menghadapi kesulitan, dan tidak mudah putus asa, tidak cepat puas atas prestasi yang diperoleh, menunjukkan minat yang besar terhadap bermacam-macam masalah belajar, lebih suka bekerja sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain, tidak cepat bosan dengan tugas-tugas yang rutin, dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepaskan apa yang diyakini, senang mencari dan memecahkan masalah. Beberapa upaya yang dapat ditempuh untuk memotivasi siswa agar belajar ialah Kenalkan siswa pada kemampuan yang ada pada dirinya sendiri. Dengan mengenal kemampuan dirinya, siswa akan tahu kelebihan dan kekurangannya. Dengan mengetahui kelebihan dirmya, ia mengukuhkan dan memperkuat kelebihan tersebut. Dengan mengetabui kekurangan yang ada pada dirinya, siswa akan berusaha menyempurnakan melalui aktivitas belajar. Di sini siswa akan timbul motivasi belajarnya. Bantulah siswa untuk merumuskan tujuan belajarnya. Sebab, dengan merumuskan tujuan belajar ini, siswa akan mendapatkan jalan yang jelas dalam melaksanakan aktivitas belajar. Siswa juga akan mempunyai target-target belajar, dan ia berusaha untuk mencapainya. Tunjukkan kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang dapat mengarahkan bagi pencapaian tujuan belajar. Dengan ditunjukkannya aktivitas-aktvitas yang dapat mencapai tujuan, siswa tersebut tidak melakukan aktivitas lain yang tidak ada kaitannya dengan pencapaian tujuan dan target belajar. Dengan cara demikian waktu dan tenaga siswa dapat secara efektif dan efisien dipergunakan mencapai target belajarnya. Kenalkanlah siswa dengan hal-hal yang baru. Sebab hal-hal baru ini dapat menghidupkan kembali hasrat ingin tahu siswa. Adanya rasa ingin tahu yang demikian besar, menimbulkan gairah bagi siswa untuk beraktifitas belajar. Buatlah variasi-variasi dalam kegiatan belajar mengajar, supaya siswa tidak bosan. Sebab, kebosanan pada diri siswa, termasuk dalam aktivitas belajar, hanya akan memperlemah motivasi saja. Adakan evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Sebab, evaluasi yang dilakukan terhadap keberhasilan belajar siswa ini, akan mendorong siswa untuk belajar. karena ingin dikatakan berhasil belajarnya. Berikan umpan balik terhadap tugas-tugas yang diberikan dan evaluasi yang telah dilakukan. Dengan adanya umpan balik, siswa akan mengetahui mana aktivitas belajarnya yang benar dan mana yang kurang benar, mana pekerjaannya yang sesuai dan mana pekerjaannya yang tidak sesuai. 2. Bahan Belajar dan Upaya Penyediaannya. Bahan belajar sangat penting bagi siswa yang melakukan aktivitas belajar. Tanpa ada yang dipelajari, kemungkinan siswa tidak bisa belajar dengan baik. Oleh karena itu, supaya siswa dapat belajar dengan baik maka bahan belajar ini harus tersedia. Yang dimaksud bahan belajar adalah sesuatu yang harus dipelajari oleh pembelajar dalam melaksanakan aktivitas belajarnya. Bahan ini, bisa berasal dari guru, bisa berasal dari buku-buku teks, paper makalah, artikel, disamping dapat berasal dari lapangan objek tertentu. Penyediaan bahan belajar ini sangat bergantung kepada tujuan belajar, karakteristik siswa, siasat belajar yang harus ditempuh oleh siswa dan faktor ketersediaaan tidaknya bahan belajar. Jika tujuan belajar yang ingin ditempuh diaksentuasikan pada penguasaan pengetahuan, mungkin bahan belajarnya akan lain dengan tujuan belajar yang diaksentuasikan pada penguasaan konsep-konsep maka pertyediaan bahan belajarnya lain sekali dengan tujuan belajar yang dimaksudkan untuk memperoleh pengalaman langsung. Karakteristik siswa juga mempengaruhi penyediaan bahan belajar. Pada siswa yang bertipe auditif, mungkin membutuhkan bahan belajar yang berlainan dengan siswa yang bertipe visual. Siasat belajar yang harus ditempuh oleh siswa juga menentukan bahan belajarnya. Siasat belajar dimana guru menjadi tokoh sentralnya, umumnya gurulah yang menjadi penyedia bahan belajar. Bahkan dalam siasat belajar semacam ini siswa menggantungkan bahan belajar yang dipelajari dari ceramah atau penyampaian yang dilakukan oleh gurunya. Sementara siasat belajar di mana siswa diharapkan bisa belajar secara mandiri, bahan belajar tersebut telah disediakan secara utuh sekaligus beserta petunjuk atau cara mempelajarinya. Pengajaran dengan bahan belajar modul dan balian belajar buku teks, adalah sekian dari banyak contoh dan siasat belajar mandiri oleh siswa. Apapun faktor yang menentukan bahan belajar ini, akhirnya juga bergantung kepada faktor ketersediaan tidaknya. Mudah didapatkan tidaknya bahan belajar ini, sangat menentukan penyediaan baban belajar. Apalagi kalau sulit atau tidak mudah didapatkan maka penyediaan bahan belajar ini sangat repot. Sungguhpun demikian bahan belajar bagi siswa haruslah diupayakan penyediaannya. Dalam penyediaan bahan belajar ini, faktor-faktor yang harus menjadi pertimbangan adalah Cukup menarik. Ini patut menjadi pertimbangan, agar bahan belajar tersebut menggugah rasa ingin tahu siswa dan menimbulkan hasrat belajar. Jika bahannya sendiri tidak menarik maka cara penyajiannya yang menaiik. Jadi kalau bahan belajar tersebut terpaksa tidak menarik, haruslah dikemas dengan menggunakan kemasan yang menarik. Isinya relefan. Relevan isi ini, lazimnnya dikaitkan dengan tujuan belajar. Isi bahan belajar haruslah mendukung dan memberi kontribusi bagi pencapain tujuan belajar. Relevan isi ini, juga berkaitan dengan faktor kondisional dan situasional siswa. Mempunyai sekuensi yang tepat. Sekuensi atau urutan penyajian ini sangat penting diperhatikan dalam penyediaan bahan belajar. Seharusuya sekuensi bahan ini dari yang sederhana menuju ke yang kompleks. Informasi yang dibutuhkan ada. Ini sangat penting, agar bahan belajar yang akan dipelajari tersebut tidak kering, Ada soal latihan. Ini sangat penting, agar siswa dapat menguji diri sendiri, seberapa banyak ia telah menguasai bahan yang dipelajari. Ada jawaban kunci untuk soal latihan. Kegunaan kunci jawaban bagi soal latihan ini adalah siswa dapat mencocokkan hasil-hasil latihannya dengan kunci. Ada tes yang sesuai. Tes yang sesuai ini, tentu bergantung kepada bahan belajarnya. Terdapat petunjuk untuk mengadakan perbaikan. Baban belajar harus dilengkapi dengan petunjuk bagaimana siswa harus memperbaiki belajarnya, jika ada diantara bahan belajar yang belum terkuasai. Ada petunjuk lanjutan untuk mempelajari bahan selanjutnya. Setelah berhasil menguasai bahan belajar tertentu siswa tidak akan menunggu petunjuk guru untuk mempelajari bahan selanjutnya. Alat Bantu Belajar dan Upaya Penyediaannya. Alat bantu belajar termasuk salah satu unsur dinamis dalam belajar, kesusukannya juga penting, oleh karena dapat membantu terhadap belajar siswa. Dengan sebuah alat bantu bahan belajar yang abstrak bisa konkrit. Dengan alat bantu bahan belajar yang tidak menarik bisa menjadi menarik. Dengan alat bantu bahan belajar yang meragukan dapat diyakinkan karena dapat dibuktikan secara empirik Alat bantu belajar lazim juga disebut media belajar dan piranti belajar, meskipun tidak semua media belajar dapat berfungsi sebagai alat bantu. Alat bantu belajar ada kalanya dibeli di toko-toko buku atau stationary. Namun juga adakalanya dibuat sendiri oleh pembelajar bersama-sama dengan gurunya. Pada kasus vang pertama pembelajar mendapatkannya sebagai pemberian. Hal-hal yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam upaya menyediakan alat bantu belajar adalah Jenis kemampuan apa yang ditargetkan untuk dikuasai oleh pembelajar. Faktor ketersediaan alat bantu tersebut Faktor keterjangkauannya Kepraktisan dan daya tahan alat bantu. Keefektifan dan keefisienan alat bantu Contoh alat bantu sederhana adalah pena, pensil, papan tulis, kapur tulis, penggaris, penghapus. Contoh alat bantu yang penggunaannya membutuhkan keterampilan tertentu adalah skala, rubrik, jangka, 0HP, video, tape recorder, dan media audiovisual lainnya. Beherapa upaya penyediaan bahan antara lain adalab Pembelian, jika mampu Pengajuan kepada pemerintah Permohonan bantuan melalui sponsor Membuat sendiri, jika bisa Menggerakkan dan mengajak para pembelajar untuk menciptakan dengan memanfaatkan alam sekitar Suasana Belajar dan Upaya Pengembangannya. Dalam pandangan tradisional suasana belajar yang kondusif adalah jika di dalam sebuah kelas terasa tenang sementara para siswa bisa mendengarkan apa yang diceramahkan gurunya. Oleh karena pandangan tradisional tersebut maka kelas yang baik dalam belajar mengajar adalah kelas yang siswanya duduk dengan tenang, berdiam diri sambil mendengarkan pengajaran yang dilakukan guru. Umumnya, siswa tidak berani mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang diceramahkan guru, terkecuali guru telah memberikan kesempatan. Dalam pandangan sekarang suasana belajar yang kondusif adalah suasana yang mendukung bagi terciptanya kegiatan belajar. Yaitu suasana yang interaktif dimana para siswa giat belajar. Suasana yang interaktif belajar di dalamnya, tentu tidak dibatasi ketika ditunggui oleh gurunya. Pada saat guru sedang menunggui, misalkan saja, siswa tetap aktif dan giat belajar. Suasana belajar yang kondusif demikian tidak terjadi dengan sendirinya. la harus dirancang oleh guru melalui sebuah rancangan pengajaran sebuah suasana belajar dikatakan kondusif msiswaala Siswa tekun mengerjakan sesuatu yang semestinya dikerjakan. Siswa aktif berinteraksi tidak saja hanya dengan gurunya melainkan aktif berinteraksi dengan siswa-siswa yang lain. Siswa secara bebas mengerjakan segala hal yang dapat mencapai tujuan belajarnya. Kreativitas siswa mendapatkan penghargaan yang sepantasnya, dan bukan sebaliknya. Agar suasana belajar tersebut kondusif maka upaya-upaya yang dapat dilakukan adalah Buatlah kontak pengajaran dengan para siswa Rancanglah aktivitas belajar siswa Berikan kebebasan kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya. Buatlah suasana yang demokratis agar tidak menakutkan bagi para siswa dalam beraktivitas. Rancanglah ruangan belajar sefleksibel mungkin hingga mudah diubah-ubah. Jangan gampang memberikan penghukumn terhadap siswa, lebih-lebih jika kepada siswa yang belum tentu bersalah. Hargailah siswa-siswa mencoba cara-cara dan metode-metode baru Kondisi Subjek Belajar dan Upaya Penyiapan dan Peneguhannya. Kondisi subjek belajar sebenarnya berbeda-beda. Kondisi subjek belajar yang kelihatannya samapun, msiswaala diteliti lebih dalam, akan kelibatan perbedaannya. Oleh karena itu, dalam kelompok siswa yang homogen pun, sebenarnya kalau dilihat lebih dalam akan tampak heterogenitasnya. Kondis subjek belajar dapat dibedakan atas hal-hal yang bersifat lahiriah, dan hal-hal yang bersifat batiniah atau hal-hal yang bersifat fisik dan hal-hal yang hersifat psikologis. Dari segi lahiriah atau fisik, subjek belajar bisa berbeda ukuran tubuhnya, kekuatan tubuhnya, kesehatan fisiknya, daya tahan fisiknya, kesegaran dan kebugaran jasmaninya. Mereka yang berada pada kondisi lebih, misalnya lebih besar/ tinggi. Dari segi psikis, kondisi subjek belajar juga berbeda dari segi intelegensinya, bakatnya, militansi kerjanya, motivasi instrinsik atau motivasi berprestasinya, kematangannya aspirasi dan ambisi-ambisinya. Mereka yang mempunyai inteligensi tinggi umumnya lebih gampang berhasil dibandingkan yang berintelegensi rendah. Demikian juga yang mempunyai bakat khusus, yang tinggi militansi kerjanya, yang tinggi motivasi intrinsiknya, yang besar ambisinya, dan yang lebih stabil emosinya. Oleh karena beragamnya kondisi subjek belajar dan tidak senantiasa menetapnya kondisi belajar tersebut maka harus ada upaya-upaya unruk menyiapkan mereka dan sekaligus meneguhkannya. Dengan penyiapan yang terancang dan dengan upaya-upaya peneguhan diharapkan mendukung aktivitas belajar. Upaya yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan kondisi objek belajar khususnya dari segi fisiknya adalah Memenuhi subjek belajar dengan gizi dan nutrisi-nutrisi yang diperlukan. Penyegaran fisik subjek belajar dengan olahraga atau latihan-latihan fisik seperti senam. Memeriksakan tubuh subjek belajar secara teratur kepada dokter agar dapat dicegah timbulnya penyakit yang memungkinkan terganggunya belajar mengajar. Sementara itu, upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan psikis subjek belajar adalah Memperkenalkan dengan lingkungan belajar yang mangkin baru bagi mereka. Memelihara keseimbangan emosi mereka, agar secara psikologis mereka merasa aman. Mengasah kondisi psikis mereka dengan latihan-latihan. Menerima mereka apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya sehingga subjek belajar tidak merasa tertolak oleh lingkungunya. 4. PENGERTIAN DAN CIRI – CIRI PEMBELAJARAN. 4.1. Pengertian pembelajaran yang ditarik dari pengertian populer Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistim pengajaran terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografl, slide, dan film audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruang kelas, perlengkapan audio visual juga komputer. Prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktek, belajar, ujian dan sebagainya. Rumusan tersebut tidak terbatas dalam ruang saja. Sistim pembelajaran dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas, atau di sekolah, karena diwamai dengan organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang saling berkaitan untuk pembelajaran peserta didik. 4.2. Pengertian pembelajaran yang ditarik dari pengertian belajar menurut ahli psikologi. Istilah belajar dan mengajar adalah dua peristiwa yang berbeda tetapi terdapat hubungan yang erat, bahkan terjadi kaitan dan interaksi saling mempengaruhi dan saling menunjang satu sama lain. Banyak ahli yang telah merumuskan pengertian mengajar berdasarkan pandangannya masing-masing. Perumusan dan tinjauan itu masing-masing memiliki kebaikan dan kelemahan. berbagai rumusan yang ada pada dasarnya berlandaskan pada teori tertentu. Mengajar adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peseta didik/siswa di sekolah. Rumusan ini sesuai dengan pendapat dalam teori pendidikan yang mementingkan mata ajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik. Dalam rumusan ini terkandung konsep-konsep sebagai berikut Pembelajaran merupakan persiapan di masa depan Masa depan kehidupan siswa ditentukan oleh orang tua. Mereka dianggap paling mengetahui apa dan bagaimana kehidupan itu. Itu sebabnya, orang tua berkewajiban menentukan akan dijadikan apa peserta didik. Sekolah berfungsi mempersiapkan mereka agar mampu hidup dalam masyarakat yang akan datang. Pembelajaran merupakan proses penyampaian pengetahuan Penyampaian pengetahuan dilaksanakan dengan menggunakan metode imposisi, dengan cara menuangkan pengetahuan kepada siswa. Umumnya guru menggunakan metode formal step dari J. Herbart berdasarkan asas asosiasi dan reproduksi atas tanggapan/kesan. Cara penyampaian pengetahuan tersebut berdasarkan ajaran dalann psikologi asosiasi. Tinjauan utama pembelajaran ialah penguasaan pengetahuan. Pengetahuan sangat penting bagi manusia. Barang siapa menguasai pengetahuan maka dia dapat berkuasa knowledge is power. Pengetahuan bersumber dari perangkat mata ajaran yang disampaikan di sekolah. Para pakar yang mendukung teori ini berpendapat bahwa mata ajaran berasal dari pengalaman-pengalaman orang tua, masa lampau yang berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Pengalaman-pengalaman itu diselidiki, disusun secara sistematis dan logis, sehingga tercipta yang kita sebut mata ajaran (H. Alberty 1953). Mata ajaran itu diuraikan, disusun dan dimuat dalam buku pelajaran dan berbagai referensi lainnya. Guru dipandang sebagai orang yang sangat berkuasa. Peranan guru sangat dominan. Dia menentukan segala hal yang dianggap tepat untuk disajikan kepada para siswanya. Guru dipandang sebagai orang yang serba mengetahui, berarti guru adalah yang paling pandai. Dia mempersiapkim tugas-tugas memberikan latihan-latihan dan menentukan peraturan kemajuan tiap siswa. Siswa selalu bersikap dan betindak pasif Siswa dianggap sebagai tong kosong, belum mengetahui apa-apa. Dia hanya menerima apa yang diberikan oleh gurunya. Siswa bersikap sebagai pendengar, pengikut, pelaksana tugas. Kebutuhan, minat, tujuan, abilitas dan lain-lain yang dimiliki oleh siswa diabaikan dan tidak mendapat perhatian guru. Kegiatan pembelajaran hanya berlangsung dalam kelas. Pembelajaran dilaksanakan dalam batas-batas ruang kelas saja, sedangkan pembelajaran di luar kelas tak pernah dilakukan. Tembok sekolah menjadi benteng yang kuat yang membatasi hubungan-hubungan dengan kehidupan masyarakat. Para siswa duduk pada bangku yang berdiri kokoh, tak bisa dipindah-pindahkan. Mereka duduk dengan rapi dan kaku secara rutin setiap hari. Ruangan kelas dipandang sebagai ruang penyelamat, ruang memberi kehidupan. Belajar dalam batas-batas ruangan itu adalah yang paling baik. Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah. Rumusan ini bersifat lebih umum bila dibandingkan dengan rumusan pertama, namun antara keduanya memiliki pola pikiran yang seirama. Implikasi dari rumusan ini adalah sebagai berikut Pembelajaran bertujuan membentuk manusia berbudaya. Peserta didik hidup dalam pola kebudayaan masyarakatnya. Manusia berbudaya adalah manusia yang mampu hidup dalam pola tersebut. Peserta didik diajar agar memiliki kemainpuan dan kepribadian sesuai dengan kehidupan budaya masyarakat itu. Pembelajaran berarti suatu proses pewarisan. Para siswa dipandang sebagai keturunan orang tua dan orang tua adalah keturunan neneknya dan seterusnya, demikian terus terjadi proses turun temurun. Dengan sendirmya apa yang dimiliki oleh nenek moyang pada masa lampau itu harus diwariskan kepada keturunan berikumya. Upaya pewarisan itu dilakukan metalui berbagai prosedur pengajaran, media hubungan pribadi dan sebagainya. Bila dilakukan melalui pengajaran maka proses yang telah dikemukakan dalam proses perumusan pertama berlaku dan dilaksanakan dengan teknik yang sama. Bahan pembelajaran bersumber dari kebudayaan. Yang termasuk kebudayaan adalah kebiasaan orang berpikir dan berbuat seperti kehidupan keluarga, cara menyediakan makanan, bahasa, pemerintahan, ukuran moral, kepercayaan agama, dan bentuk-bentuk ekspresi seni. Kebudayaan merupakan kumpulan daripada warisan sosial dalam masyarakat. Berdasarkan pada pengertian ini, kebudayaan itu bersifat non material dan bersifat abstrak ada dalam jiwa dan kepribadian manusia. Benda-benda bersifat material sesungguhnya adalah hasil dari keterampilan manusia (Worcester, 1969). Kebudayaan dan hasil kebudayaan diwariskan kepada siswa yang umumnya berupa benda-benda dan non benda, tertulis dan lisan, dan berbagai bentuk tingkah laku norma dan lain-lain. Siswa sebagai generasi muda ahli waris kebudayaan Generasi muda berfungsi sebagai generasi penerus. Mereka perlu dipersiapkan sedemikian rupa agar benar-benar siap melanjutkan hasil yang telah dicapai oleh generasi yang ada sekarang. Kebudayaan yang diwariskan kepada mereka harus dikuasai dan dikembangkan, sehingga mereka menjadi warga masyarakat yang lebih berbudaya. Dalam hal ini, diakui bahwa siswa sedang berada dalam tahap perkembangan dan menuju ketingkatan yang lebih dewasa, dalam arti, menjadi manusia yang berbudaya. Mereka harus mampu memanfaatkan teknologi, sebagai aspek dari kebudayaan, untuk kehidupannya serta mampu mengadakan penemuan-penemuan baru dan mengembangkan kebudayaan yang telah ada. Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik. Rumusan ini dianggap lebih maju dibandingkan dengan rumusan terdahulu, sebab lebih menitik-beratkan pada unsur peserta didik, lingkungan, dan proses belajar. Perumusan ini sejalan dengan pendapat dari Mc. Donald, yang mengemukakan sebagai berikut educational, in the sense used here, is a process or an activity which is directed at producing desirable changes in the behavior of human beings (Me. Donal, 1959) artinya Pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang bertujuan menghasilkan perubahan tingkah laku manusia. Implikasi dari pengertian tersebut adalah sebagai berikut Pendidikan bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah aku peserta didik. Pribadi adalah suatu sistem yang bersifat unik, terintegrasi dan terorganisasi yang meliputi semua jenis tingkah laku individu. Pada hakikatnya pribadi tidak lain daripada tingkah laku itu sendiri. Kepribadian mempunyai ciri-ciri (1). Berkembang secara berkelanjutan sepanjang hidup manusia, (2). Pola organisasi kepribadian berbeda-beda untuk setiap orang dan bersifat unik, (3). Kepribadian hersifat dinamis, terus berubah meialui cara-cara tertentu. Tingkah laku manusia memiliki dua aspek, yakni (1). Aspek objektif, yang bersifat struktural, yakni aspek jasmaniah, (2). Aspek subjektif, yang besifat fungsional, yakni aspek rohaniah. Kegiatan pembelajaran berupa pengorganisasian lingkungan Perkembangan tingkah laku seseorang adalah berkat pengaruh dari lingkungan. Lingkungan kita artikan secara luas, yang terdiri dari lingkungna alam dan lingkungan sosial. Lingkungan sosial sering lebih berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Melalui interaksi antara individu dan lingkunganya maka siswa memperoleh pengalaman, yang pada gilirannya berpengaruh terhadap perkembangan tingkah lakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa pendidikan adalah suatu proses sosialisasi di mana siswa didik disiapkan sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sekitamya. Sekolah berfungsi menyediakan lingkungan yang dibutuhkan bagi perkembangan tingkah laku siswa, antara lain menyiapkan program belajar, bahan belajar, metode mengajar, alat mengajar dan lain-lain. Selain dari itu, pribadi guru sendiri, suasana kelas, kelompok siswa, lingkungan di luar sekolah, semua menjadi lingkungan belajar yang bermakna bagi perkembangan siswa. Peserta didik sebagai suatu organisme yang hidup. Peserta didik memiliki berbagai potensi yang siap untuk berkembang, misalnya, kebutuhan, minat, tujuan, abilitas, intelegensi, emosi dan lain-lain. Tiap individu peserta didik mampu berkembang menurut pola dan caranya sendiri. Mereka dapat melakukan berbagai aktivitas dan mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Aktivitas belajar sesungguhnya bersumber dari dalam diri peserta didik. Guru berkewajiban menyediakan lingkungan yang serasi agar aktivitas itu menuju ke arah tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini guru bertindak sebagai organisator belajar bagi siswa yang potensial itu, sehingga tercapai tujuan pembelajaran secara optimal. Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik. Rumusan ini didukung oleh para pakar yang menganut pandangan bahwa pendidikan itu berorientasi kepada kebutuhan tuntutan masyarakat. Implikasi dari rumusan/ pengertian ini adalah sebagai berikut Tujuan pembelajaran Pembentukan warga negara yang baik adalah warga negara yang dapat bekerja di masyarakat. Seorang warga negara yang baik bukan menjadi konsumen, tetapi yang lebih penting ialah menjadi seorang produsen. Untuk menjadi seorang produsen maka dia barus memiliki keterampilan berbuat dan bekerja, menghasilkan barang-barang dan benda kebutuhan masyarakat. Motto yang dikemukakan benign habitat for good living, artinya seorang warga negara yang baik bila dapat menyumbangkan dirinya kepada kebidupan yang baik. Pembelajaran berlangsung dalam suasanan kerja. Program pembelajaran diselenggarakan dalam suasana kerja. dimana para siswa mendapat latihan dan pengalaman praktis. Karena itu, suasana yang diperlukan adalah suasana yang aktual, seperti dalam keadaan sesungguhnya. Para siswa mengerjakan hal-hal menarik minatnya dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Peserta didik/siswa sebagai calon warga negara yang memiliki potensi untuk bekerja. Siswa memiliki bermacam kemampuan, minat, dan Kebutuhan, antara lain kebutuhan ingin berdiri sendiri, ingin punya pekerjaan. Siswa tidak menginginkan berdiam dengan pasif, semua ingin melakukan kegiatan, bermain, atau bekerja. Energi mereka miliki perlu mendapat penyaluran sebagaimana mestinya. Jikalau energi itu tidak disalurkan maka dapat menyebabkan tingkah laku yang tidak diharapkan, Perumusan atas kebutuhan itu, pengembangan minat dan sikap, penyaluran energi yang berlebihan sebaiknya dilakukan dengan cara menyediakan kesempatan bekerja, mencari pengalaman yang praktis, dan memupuk keterampilan jasmaniah-rohaniah. Dengan berkembang kemampuan kerja maka tuntutan dan harapan masyarakat dapat dipenuhi. Pada dasamya tidak ada masyarakat yang menginginkan siswa-siswanya menjadi barisan penganggur. Guru sebagai pimpinan dan pembimbing bengkel kerja. Sesuai dengan tujuan tersebut, sekolah merupakan suatu ruang workshop dan oleh karenanya guru harus mampu memimpin dan membimbing siswa belajar bekerja dalam bengkel sekolah. Guru-guru harus menguasai program keterampilan khusus dan menguasai strategi pembelajaran keterampilan, serta menyediakan proyek-proyek kerja yang menciptakan berbagai kesibukan yang bermakna. Dalam hal mi, peranan guru dalam sekolah komprehensif adalah sangat penting. Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari. Pandangan ini didukung oleh para pakar yang berorientasi pada kehidupan masyarakat. Sekolah dari masyarakat adalah suatu integrasi. Pendidikan adalah di sini dan sekarang ini (G.E. Olson, 1945). Implikasi dari pengertian ini adalah sebagai berikut Tujuan pembelajaran ialah mempersiapkan siswa untuk hidup dalam masyarakat. Sekolah berfungsi menyiapkan siswa untuk menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan, mereka bukan dipersiapkan untuk menghadapi masa depan yang masih jauh, 10 atau 20 tahun ke depan, melainkan untuk memecahkan masalah seharihari dalam lingkungannya, di rumah dan di masyarakat. Kegiatan pembelajaran berlangsung dalam hubungan sekolah dan masyarakat. Masyarakat diartikan sebagai laboratorium belajar yang paling besar. Sumber-sumber masyarakat tak pernah habis sebagai sumber belajar. Prosedur penyelenggaraan ialah dengan membawa siswa ke dalam masyarakat dengan karyawisata, survei, berkemah dan lain-lain, atau dengan cara membawa masyarakat ke dalam sekolah sebagai nara sumber. Dengan demikian, masyarakat akan memberikan sumbangan yang besar terhadap pendidikan siswa, dan sebaliknya, sekolah akan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat. Sekolah juga berfungsi turut memperbaiki kehidupan masyarakat sekitamya. Siswa belajar secara aktif. Siswa bukan saja aktif belajar di laboratorium sekolah, mencari pengalaman kerja dalam berbagai lapangan kehidupan tetapi juga aktif bekerja langsung di masyarakat. Dengan cara ini, semua potensi yang mereka miliki menjadi hidup dan berkembang. Siswa turut merencanakan, berdiskusi, meninjau. membuat laporan, dan lain-lain, sehingga perkembangan pribadinya selaras dengan kondisi lingkungan masyarakatnya. Guru bertugas sebagai komunikator Guru juga bertugas sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat. Guru mempersiapkan rencana awal pembelajaran, kemudian menyusun rencana lengkap bersama para siswa sebagai persiapan melaksanakan di lapangan. Guru harus mengenal dengan baik keadaan masyarakat sekitarnya, supaya dapat menyusun proyek kerja bagi para siswa. Kelas lalu melakukan inventarisasi masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat, kemudian diupayakan pemecahannya. Pranan sebagai komunikator, bukan saja memerlukan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan apresiasi, namun diperlukan pula keterampilan berintegrasi dan bekeda sama dengan masyarakat. Berdasarkan teori-teori tersebut semakin jelaslah bahwa kegiatan dan proses pembelajaran itu sangat kompleks. Pandangan-pandangan yang telah dibahas itu, akan menjadi lebih jelas setelah mempelajari uraian-uraian berikutnya. 4.3 CIRI-CIRI PEMBELAJARAN Ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran, antara lain adalah Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran, dalam suatu rencana khusus. Kesaling tergantungan (interdependence), antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu kescluruhan. Tiap unsur bersifat essensial, dan memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem yang alami (natural). Sistem yang dibual oleh manusia, seperti sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem pemerintahan, semuanya memiliki tujuan. Sistim alami (natural) seperti sistem ekologi, sistem kehidupan hewan, memiliki unsur-unsur yang saling ketergantungan satu sama lain, disusun sesuai dengan rencana tertentu, tetapi tidak mempunyai tujuan tertentu. Tujuan sistem menuntun proses merancang sistem. Tujuan sistem pembelajaran agar siswa belajar. Tugas seorang perancang sistem ialah mengorganisasi tenaga. material, dan prosedur, agar siswa belajar secara efisien dan efektif. Dengan proses mendisain sistem pembelajaran si perancang membuat rancangan untuk memberikan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan sistem pembelajaran tersebut. TUJUAN DAN UNSUR-UNSUR DINAMIS PEMBELAJARAN. 5.1. Tujuan pembelajaran yang menunjang tercapainya tujuan belajar. Pembelajaran dimaksudkan terciptanya suasana sehingga siswaa belajar. Tujuan pembelajaran haruslah menunjang dan dalam tercapainya tujuan belajar. Dahulu, ketika pembelajaran dimaksudkan sebagai kadar penyampaian ilmu pengetahuan, pembelajaran tak terkait dengan belajar termasuk tujuannya. Sebab, jika guru telah menyampaikan ilmu pengetahuan, tercapailah maksud atau tujuan pembelajaran tersebut. Pembelajaran model dahulu itu, memang tidak dicoba terkaitkan dengan belajar itu sendiri. Pembelajaran lebih konsentrasi pada kegiatan guru dan tidak terkonsentrasi pada kegiatan siswa. Jika pada masa sekarang ini pembelajaran dicoba terkaitkan dengan belajar maka dalam merancang aktivitas pembelajaran, guru harus belajar dari aktivitas belajar siswa. Aktivitas belajar siswa harus dijadikan titik tolak dalam merancang pembelajaran. Implikasi dari adanya keterkaitan antara kegiatan pembelajaran dan kegiatan belajar siswa tersebut adalah usunnya tujuan pembelajaran yang dapat menunjang apainya tujuan belajar. Muatan-muatan yang termaktub dalam tujuan belajar, haruslah termaktub juga dalam tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang kongruen dengan tujuan belajar siswa adalah Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi waktu, yaitu setelah siswa belajar dan atau dibelajarkan. Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi substansinya, yaitu siswa bisa apa setelah belajar dan atau dibelajarkan. Punya kesamaan tercapainya tujuan dari segi cara mencapainya. Punya kesamaan takaran dalam pencapaian tujuan. Punya kesamaan dari segi pusat kegiatan, yaitu sama-sama berada pada diri siswa. 5.2. Unsur-unsur dinamis pembelajaran kongruen dalam proses belajar siswa/mahasiswa Motivasi belajar menuntut sikap tanggap dari pihak guru serta kemampuan untuk mendorong motivasi dengan berbagai upaya pembelajaran. Ada beberapa prinsip yang dapat digunakan oleh guru dalam rangka memotivasi siswa agar belajar, ialah Prinsip kebermaknaan siswa termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya, Prasyarat siswa lebih suka mempelajari sesuatu yang baru jika dia memiliki pengalaman prasyarat (prerekuisit). Model, siswa lebih suka memperoleh tingkah laku baru bila disajikan dengan suatu model perilaku yang dapat diamati dan di tim. Komunikasi terbuka siswa lebih suka belajar bila penyajian ditata agar supaya pesan-pesan guru terbuka terhadap pendapat siswa. Daya tarik siswa lebih suka belajar bila perhatiannya tertarik oleh penyajian yang menyenangkan/menarik. Aktif dan latihan siswa lebih senang belajar bila dia dapat berperan aktif dalam latihan/praktik dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran Latihan yang terbagi siswa lebih suka belajar bila latihan-latihan dilaksanakan dalamjangka waktu yang pendek. Tekanan instruksional siswa lebih suka belajar terus bila kondisi pembelajaran menyenangkan baginya. Keadaan yang menyenangkan siswa lebih suka belajar terus bila kondisi-kondisi pembelajaran menyenangkan bagmya. Sumber-sumber yang digunakan sebagai bahan belajar terdapat pada Buku pelajaran yang sengaja disiapkan dan berkenan dengan mata ajaran tertentu. Bahan-bahan tersebut dapat berupa sumber pokok dan sumber pelengkap. Pemilihan buku-buku sumber telah ditetapkan dalam pedoman kurikulum dan berdasarkan pilihan guru berdasarkan pertimbangan tertentu. Buku-buku tersebut mungkin telah tersedia di perpustakaan sekolah, atau harus dibeli di pasaran buku. Pribadi guru sendiri pada dasarnya merupakan sumber tak tertulis dan sangat penting serta sangat kaya dan luas, yang perlu dimanfaatkan secara maksimal. Itu sebabnya, guru senantiasa diminta agar terus belajar untuk memperkaya dan memperluas serta mendalami ilmu pengetahuan, sehingga pada waktunya dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan belajar yang berdaya guna bagi kepentingan proses belajar siswa. Sumber masyarakat, juga merupakan sumber yang paling kaya bagi bahan belajar siswa. Hal-hal yang tidak tertulis dalam buku dan belum terkuasai oleh guru, ternyata ada dalam, masyarakat berupa objek, kejadian dan peninggalan sejarah. Hal-hal tersebut dapat digunakan sebagai bahan belajar. Untuk itu, guru perlu menyiapkan program pembelajaran dalam upaya memanfaatkan masyarakat sebagai sumber bahan belajar bagi siswanya. Pengadaan alat-alat bantu belajar dilakukan oleh guru, siswa sendiri, dan bantuan orang tua. Namun, harus dipertimbangkan kesesuaian alat bantu belajar itu dengan tujuan belajar, kemampuan siswa sendiri, bahan yang dipelajari, dan ketersediaannya di sekolah. Prinsip kesesuaian ini perlu diperhatikan karena sering terjadi pemilihan dan penggunaan suatu alat bantu belajar ternyata tidak cocok untuk pengajaran dan ternyata tidak banyak pengaruhya terhadap keberhasilan belajar siswa. Prosedur yang harus ditempuh adalah Memilih dan menggunakan alat bantu yang tersedia di sekolah sesuai dengan rencana pembelajaran. Siswa memilih dan membuat sendiri alat bantu yang diperlukan, berdasarkan petunjuk dan bantuan guru. Membeli di pasaran bebas seandainya alat yang diperlukan itu ada di pasaran dan cocok dengan kegiatan belajar yang akan dilakukan. Untuk menjamin dan membina suasana belajar yang efektif, guru dan siswa dapat melakukan beberapa upaya sebapi berikut Sikap guru sendiri terhadap pembelajaran di kelas. Guru diharapkan bersikap menunjang, membantu, adil, dan terbuka dalam kelas. Sikap-sikap tersebut pada gilirannya akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggairahkan serta menciptakan antusiasme terhadap pelajaran yang sedang diberikan. Perlu adanya kesadaran yang tinggi di kalangan siswa untuk membina disiplin dan tata tertib yang baik di dalam kelas. Suasana yang disiplin ini juga ditentukan oleh perilaku guru, kemampuan guru memberikan pengajaran. serta suasana dalam diri siswa sendiri. Guru dan siswa berupaya menciptakan hubungan dan kerjasama yang serasi, selaras dan seimbang dalam kelas yang dijiwai oleh rasa kekeluargaan dan kebersamaan. Rasa tenggang rasa dan tanggungjawab untuk kepentingan bersama akan lebih efektif dibandingkan dengan suasana dengan persaingan, berusaha untuk kepentingan sendiri, dan pergaulan guru siswa yang renggang dan kaku. Subjek belajar yang berada dalam kondisi kurang mantap perlu diberikan binaan. Pembinaan kesehatan, penyesuaian bahan belajar dengan tingkat kecerdasan siswa, memperhatikan kesiapan belajar yang tepat waktunya, penyesuaian bahan, belajar dengan kemampuan dan bakatnya, dan memberikan pengalaman-pengalaman perekuisit, semua kondisi itu perlu terus dikontrol oleh guru. Sediakan waktu yang khusus untuk mengenal dan mengetahui dengan seksama semua kondisi subjek belajar. Bila diketahui terdapat ketidak-seimbangan dan gangguan pada kondisi mereka maka guru perlu segera melakukan upaya untuk memperbaiki dan meningkatkannya. 5.3. Unsur-unsur dinamis pembelajaran pada diri guru. Motivasi untuk membelajarkan siswa. Guru harus memiliki motivasi untuk membelajarkan siswa. Motivasi itu sebaiknya timbul dari kesadaran yang tinggi untuk mendidik peserta didik menjadi warga negara yang baik. Jadi guru memiliki hasrat untuk menyiapkan siswa menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan dan kemampuan tertentu. Namun, diakui bahwa motivasi pembelajaran itu sering timbul karena insentif yang diberikan, sehingga guru melaksanakan tugasnya sebaik mungkin. Kedua jenis motivasi itu diperlukan untuk membelajarkan siswa. Kondisi guru siap membelajarkan siswa. Guru perlu memiliki kemampuan dan proses pembelajaran, disamping kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan. Kemampuan dalam proses pembelajaran sering disebut kemampuan profesional. Guru perlu berupaya meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut agar senantiasa berada dalam kondisi siap untuk membelajarkan siswa. BAB II PRINSIP BELAJAR DAN APLIKASINYA 2.1. PRINSIP-PRINSIP BELAJAR YANG TERKAIT DENGAN PROSES BELAJAR Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memiliki persamaan dan perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa prinsip yamg relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan kemampuan mengajarnya. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/ berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual. 2.1.1 Perhatian dan Motivasi Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi belajar (Gage dan Berliner, 1984 335). Perhatian terhadap belajar akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih Ianjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya. Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (Gage dan Berliner, 1984 372). Motivation is the concept we use when we describe the force of action on or whitin an organism to initiate and direct behavior Demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbet L, 1986 3). Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan intelektual dan estetik sampai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan. Motivasi mempunyai kaitan yang crat dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianggap penting dalan, kehidupannya. Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan motivasinya. Karenanya, bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tridak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Sikap siswa, seperti haInya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya. Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang belajar matematika dan terdorong untulk belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya. Karenanya adalah kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada diri siswa terhadap mata pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya. Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sudah melakukan kegiatan, dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B.F. Skinner dengan operant conditioning-nya (Hal ini dibkarakan lebih lanjut dalam prinsip balikan dan penguatan). Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman dan sebagainya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertaanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya telapi didorong oleh keinginan naik kelas atau mendapat ijazah. Naik kelas dan mendapat ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar. Motif intrinsik dapat bersifat internal, datang dari diri sendiri, dapat juga bersifat eksternal, datang dari luar. Motif ekstrinsik bisa bersifat eksternal, walaupun lebih banyak bersifat ekstemal. Motif ekstrinsik dapat juga berubah menjadi motif intrinsik yang disebut transformasi motif. Sebagai contoh, seorang siswa belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan siswanya menjadi guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu ingin menyenangkan orang tuanya, tetapi setelah belajar heberapa lama di LPTK ia menyenangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu yang semula ekstrinsik menjadi intrinsik. Perhatian Perhatian erat sekali kaitannya dengan motivasi bahkan tidak dapat dipisahkan. Perhatian ialah pemusatan energi psikis (fikiran dan perasaan) terhadap suatu objek. Makin terpusat perhatian pada pelajaran, proses belajar makin baik dan hasilnya akan makin baik pula. Oleh karena itu guru harus selalu berusaha supaya perhatian siswa terpusat pada pelajaran. Memunculkan perhatian seseorang pada suatu objek dapat diakibatkan oleh dua hal. Pertama, orang itu merasa bahwa objek tersebut mempunyai kaitan dengan dirinya umpamanya dengan kebutuhan, cita cita, pengalaman, bakat, minat. Kedua, Objek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu yang lain dari yang lain, atau yang lain dari yang biasa, lain dari yang pada umumnya muncul. Perhatikan contoh kasus dibawah ini Rukiah, salah seorang siswa disuatu sekolah dasar sangat tertarik dengan penjelasan ibu gurunya tentang perpindahan penduduk, sehingga ia sungguh-sungguh memperhatikan pelajaran tersebut, karena ia pernah dibawa orang tuanya bertransmigrasi. Sekelompok siswa disuatu sekolah dasar pada suatu waktu mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian karena guru mengajarkan pelajaran tersebut dengan menggunakan alat peraga yang sebelumnya guru tersebut belum pernah melakukannya. Sekelompok siswa sedang asyik mengerjakan tugas kelompok, dalam pelajaran IPA. Kelihatannya mereka sangat sungguh-sungguh menerjakan tugas tersebut. Biasanya mereka belajar cukup mendengarkan ceramah dari guru. Ketiga contoh di atas menggambarkan siswa yang belajar dengan penuh perhatian akan tetapi penyebabnya berbeda. Contoh pertama, Rukiah belajar dengan penuh perhatian. Karena pelajaran tersebut memiliki kaitan dengan pengalamannya. Pelajaran tersebut ada kaitan dengan diri siswa. Pada contoh kedua, siswa belajar dengan penuh perhatian, karena guru mengajar dengan menggunakan alat peraga, (cara guru mengajar lain dan kebiasaannya) Demikian pula contoh ketiga, siswa belajar dengan penuh perhatian Karena guru menggunakan metode yang bervariasi tidak hanya ceramah). Dari uraian dan contoh di atas dapat disimpulkan, bahwa Belajar dengan penuh perhatian pada pelajaran yang sedang dipelajari, proses dan hasilnya akan lebih baik. Upaya guru memumbuhkan dan meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman, kebutuhan, cita-cita, bakat atau minat siswa. Menciptakan situasi pembelajaran yang tidak monoton. Umpamanya penggunaan metode mengajar yang bervariasi, penggunaan media, tempat belajar tidak terpaku hanya di dalam kelas saja. Coba anda pilih salah satu pokok bahasan dari salah satu mata pelajaran yang biasa anda ajarkan. Kemukakan upaya apa yang harus anda lakukan untuk Menarik perhalian siswa dengan cara mengalihkan pelajaran tersebut dengan diri siswa (umpamanya dengan pengalaman mereka). Menarik perhatian siswa dengan cara menciptakan situasi pembelajaran yang bervariasi (umpamanya dalam penggunaan metode mengajar) 2.2. KEAKTIFAN BELAJAR Kecendrungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa siswa adalah makhluk yang aktif. Siswa mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemampuan dan aspirasi sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila siswa aktif mengalami sendri. John Dewey, misalnya, mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri. Maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah (John Dewey 1916. dalam Dak ks, 19373 1). Menurut teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak sekadar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. (Gage and Berliner, 1984 267). Menurut teori ini siswa memiliki sifat aktif, konstruktif, dan mampu merencanakan sesuatu. Siswa mampu mencari, menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan. Thorndike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Mc. Keachk, berkenan dengan prinsip keaktifan, mengemukakan bahwa individu merupakan manusia belajar yang selalu ingin tahu (MC Keachk, 1976230 dari Gredler MEB terjemahan Munandir, 1991105). Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis misaInya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan basil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa belajar itu sendiri adalah akivitas yaitu aktivitas mental dan emosional. Bila ada siswa yang duduk di kelas pada saat pelajaran berlangsung, akan tetapi mental emosionalnya tidak terlibat aktif di dalam situasi pembelajaran itu, pada hakikatnya siswa tersebut tidak ikut belajar. Oleh karena itu, guru jangan sekali-kali membiarkan ada siswa yang tidak ikut aktif belajar. Lebih jauh dari sekedar mengaktifkan siswa belajar, guru harus berusaha meningkatkan kadar aktifitas belaiar tersebut. Kegiatan mendengarkan penjelasan guru, sudah menunjukkan adanya aktivitas belajar. Akan tetapi barangkali kadarnya perlu ditingkatkan dengan metode mengajar lain. Sekali untuk memantapkan pemahaman anda tentang upaya meningkatkan kadar aktivitas belajar siswa, coba anda tetapkan salah satu pokok bahasan dari salah satu mata pelajaran yang biasa diajarkan. Silahkan anda rancang kegiatan-kegiatan belajar yang bagaimana yang harus siswa anda lakukan, supaya kadar aktivitas belajair mereka relatif tinggi. Bila sudah selesai anda kerjakan, silahkan diskusikan dengan guru lain di sekolah anda atau guru sesama peserta program 2.3. KETERLIBATAN LANGSUNG DALAM BELAJAR Di muka telah dijabarkan bahwa belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa yang, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam teori pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggungjawab tehadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang belajar membuat tempe, yang paling baik apabila ia terlihat secara langsung dalam perbuatan (direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang menikmati tempe (demonstrating), apalagi sekadar mendengar orang bercerita bagaimana cara pembuatan tempe (telling). Pentingnya ketelibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan learning by doing-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok, dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator. Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata, namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan intemalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilat, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan. 2.4. PENGULANGAN BELAJAR Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat. mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti hainya pisau yang selalu diasah akan menjadi tajam maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan akan menjadi sempuma. Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori psikologi Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokoh yang terkenal Thorndikee. Berangkat dari salah satu hukum belajarnya law of exercise, ia mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. Pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar. Seperti kata pepatah practice makes perfect (Thorndike, 1931b20. dari Gredlei, Marget E Bell). Psikologi Conditioning yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Koneksionisme juga menekankan pentingnya pengulangan dalam belajar. Kalau pada Koneksionisme, belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons maka pada psikologi conditioning respons akan timbul bukan karena saja stimulus, tetapi juga oleh stimulus yang dikondisikan. Banyak tingkah laku manusia yang terjadi karena kondisi, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas karena mendengar bunyi lonceng, kendaraan berhenti ketika lampu Ialu lintas berwarna merah. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan, dan belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembiasaan tidak perlu selalu oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi dapat juga oleh stimulus penyerta. Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk respons yang benar dan membentuk kebiasaan-kebiasaan. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar tetap diperlukan latihan/ pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang menerapkan prinsip pengulangan (Gage dan Berliner, 1984 259). 2.5. SIFAT MERANGSANG DAN MENANTANG DARI MATERI YANG DIPELAJARI Teori Medan (Field theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa dalam, situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yang mempelajari bahan belajar maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahasa belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah di atasi, artinya tujuan belajar telah tercapai maka ia akan masuk dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada siswa timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menermakan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mempelajari dan menemukan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah mendan saja kurang menarik bagi siswa. Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan. 2.6. PEMBERIAN BALIKAN ATAU UMPAN BALIK DAN PENGUATAN BELAJAR Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh teori belajar operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori conditioning yang diberi kondisin adalah stimulusnya maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori belajar im adalah law of effect – nya Thorndike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang haik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengarub baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namum dorongan belajar itu menurut B.E Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi juga ada yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun negatif dapat memperkuat belajar (Gage dan Berliner, 1984 272). Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong siswa untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya siswa yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar lebih giat. Di sini nilai buruk dan dan rasa takut lidak naik kelas juga bisa mendorong siswa untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif. Di sini siswa mencoba menghindar dari peristiwa yang tidak menyenangkan maka penguatan negatif juga disebut escape conditioning. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa terdorong untuk belajar lebih giat dan bersemangat. 2.7. IMPLIKASI PRINSIP-PRINSIP BELAJAR Siswa sebagai primus motor (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran, dengan alasan apapun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya prinsip- prinsip belajar. Justru pada siswa akan berhasil dalam pembelajaran, jika mereka menyadari implikasi prinsip-prinsip belajar terhadap diri mereka. 2.7.1. Perhatian dan Motivasi Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu memberikan perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala pesan yang dipelajarinya. Pesan-pesan yang menjadi isi pelajaran seringkali dalam bentuk rangsangan suara, warna. bentuk, gerak, dan rangsangan lain yang dapat diindra. Dengan demikian siswa diharapkan selalu melatih indranya untuk memperhatikan rangsangan yang muncul dalam proses pembelajaran. Peningkatan/ pengembangan minat ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi (Gage dan Berliner, 1984373). Contoh kegiatan atau perilaku siswa, baik fisik atau psikis, seperti mendengarkan ceramah guru, membandingkan konsep sebelumnya dengan konsep yang baru diterima, mengamati secara cermat gerakan psikomotorik yang dilakukan guru, atau kegiatan sejenis lainnya. Selama kegiatan atau perilaku tersebut harus dilakukan oleh siswa secara sadar sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajarnya. Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh siswa bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan mengembangkan secara terus menerus. Untuk dapat membangkitkan dan mengembangkan motivasi belajar mereka secara terus menerus, siswa dapat melakukannya dengan menentukan atau mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai. menanggapi secara positif pujian atau dorongan dari orang lain, menentukan target atau sasaran penyelesaian tugas belajar, dan perilaku sejenis lainnya. Dari contoh-contoh perilaku siswa untuk meningkatkan dan membangkitkan motivasi belajar, dapat ditandai bahwa perilaku-perilaku tersebut bersifat psikis. 2.7.2. Keaktifan Sebagai primus motor dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dan produk belajar, membuat karya tulis, membuat kliping, dan perilaku sejenis lainnya. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa lebih lanjut menuntut keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran. 2.7.4. Keterlibatan Langsung/ Berpengalaman Hal apapun yang dipelajari siswa maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak ada seorangpun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Davies, 198732). Pernyataan ini secara mutlak menuntut adanya keterlibatan langsung dari tiap siswa dalam kegiatan belajar pembelajaran. Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak segan-segan mengerjakan segala tugas belajar yang dibeerikan kepada mereka. Dengan keterlibatan langsung ini, secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau berpengalaman. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi siswa misalnya adalah siswa ikut dalam pembuatan lapangan bola voli, siswa melakukan percobaan reaksi kimia, siswa berdiskusi untuk membuat laporan, siswa membaca puisi di depan kelas, dan perilaku sejenis lainnya. Bentuk perilaku keterlibatan langsung siswa tidak secara mutlak menjamin terwujudnya prinsip keaktifan pada diri siswa. Namun demikian, perilaku keterlibatan siswa secara langsung dalam kegiatan belajar pembelajaran dapat diharapkan mewujudkan keaktifan siswa. 2.7.5. Pengulangan Penguasaan secara penuh dari setiap langkah kemungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti (Davies, 198732). Dari Pernyataan inilah pengulangan masih diperlukan merasa bosan dalam melakukan pengulangan. Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi prinsip pengulangan contohnya menghafal unsur-unsur kimia setiap valensi, mengerjakan soal-soal lingkungan, menghafal nama-nama latin tumbuhan, atau menghafal tahun-tahun terjadinya peristiwa sejarah. 2.7.6. Tantangan Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pernyataan bahwa apabila siswa diberikan tanggungjawab untuk mempelajari sendiri maka ia lebih termotivasi untuk belajar, dan selanjutnya ia akan belajar dan mengingat secara lebih baik (Davies, 1987 32). Hal ini berarti siswa selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh, memproses, dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adalah tuntutan dimilikinya kesadaran pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh, memproses, dan mengolah pesan. Selain itu, siswa juga harus memiliki keingintahuan yang besar terhadap segala permasalahan yang dihadapinya. Bentuk-bentuk perilaku siswa yang merupakan implikasi dari prinsip tantangan ini diantaranya adalah melakukan eksperimen, melaksanakan tugas terbimbing maupun mandiri, atau mencari tahu pemecahan suatu masalah. 2.7.7. Balikan dan Penguatan Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar atau salah Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforcement) bagi penguatan bentuk-bentuk perilaku siswa yang memungkinkan diantaranya adalah dengan segera mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan terhadap skor atau nilai yang dicapai, atau menerima teguran dari guru atau orang tua karena hasil belajar yang jelek. 2.7.8. Perbedaan Individual Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo (kecepatan)nya sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi kecepatan belajar (Davies, 198732). Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan siswa lain, akan membantu siswa menentukan cara belaiar dan sasaran belajar bagi dirinya sendiri. Implikasi adalah, adanya prinsip perbedaan individual diantaranya adalah menentukan tempat duduk di kelas, menyusun jadwal belajar, atau adanya prinsip perbedaan individu bagi siswa berupa perilaku fisik maupun psikis. Untuk memperjelas implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa, anda dapat mengidentifikasi dari kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran sebagai indikatornya. 2.7.9. Perbedaan individual Belajar tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Tidak belajar, berarti tidak akan memperoleh kemampuan. Belajar dalam arti proses mental dan emosional terjadi secara individual. Jika kita mengajar disuatu kelas sudah barang tentu kadar aktivitas belajar para siswa beragam. Disamping itu, siswa yang belajar sebagai pribadi tersendiri, yang memiliki perbedaan dari siswa lain. Perbedaan itu mungkin dalam hal pengalaman, minat, bakat, kebiasaan belajar, kecerdasan, tipe belajar dan sebagainya. Guru yang menyamaratakan siswa menganggap semua siswa sama sehingga memperlakukan mereka sama kepada semua, pada prinsipnya bertentangan dengan hakikat manusia, khususnya siswa. Guru yang bijaksana akan menghargai dan memperlakukan siswa sesuai dengan hakikat mereka masing-masing. Suatu tindakan guru yang dipandang tepat terhadap seorang siswa, belum tentu tepat untuk siswa yang lain. Akan tetapi ada perlakuan yang memang harus sama terhadap semua. Demikian pula yang menyangkut pelajaran. Pelajaran mana yang harus dipelajari oleh semua siswa dan peIajaran mana yang boleh dipilih oleh siswa sesuai dengan bakat mereka. Perlakuan guru terhadap siswa yang cepat harus berbeda dari siswa yang termasuk lamban. Siswa yang lamban perlu banyak dibantu sedangkan siswa yang cepat dapa diberi kesempatan lebih dulu maju atau melakukan pengayaan. Di dalam menggunakan metode mengajar, guru perlu menggunakan metode mengajar yang bervariasi, sebab mungkin siswa yang kita ajar memiliki tipe belajar yang berbeda. Siswa yang memiliki tipe belajar yang auditif akan lebih mudah belajar melalui pendengaran. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih mudah belajar melalui penglihatan. Sedangkan siswa yang memiliki tipe belajar motorik akan lebih mudah belajar melalui perbuatan. Untuk keperluan itu, semua guru perlu memahami pribadi masing-masing yang menjadi bimbingannya. Oleh karena itu, catatan pribadi guru sangat bermanfaat. Setiap siswa perlu dicatat tentang kecerdasannya, bakatnya, tipe belajarnya, latar belakang kehidupan orang tuanya, kemampuan panca indranya, penyakit yang dideritanya, bahkan kejadian sehari-hari yang dianggap penting. Semua itu harus dicatat pada catatan pribadi guru. Buku catatan pribadi guru itu harus diisi secara rutin dan terus mengikuti pribadi siswa tersebut ke kelas dan ke jenjang pendidikan berikutnya. Buku catatan tiap siswa kelas 1 setelah mereka naik kelas II harus diserahkan pada guru kelas II untuk digunakan dan diisi dengan data baru, begitulah seterusnya sampai kejenjang pendidikan berikutnya. Adakah buku catatan pribadi tiap siswa dikelas tempat anda mengajar Bila ada, coba pelajari Data apa saja yang dicatat Kapan buku tersebut diisi Pernahkah buku catatan pribadi tersebut digunakan, dan untuk apa Bagaimana saran anda untuk pemanfaatan buku catatan pribadi tersebut data dan pengisiannya serta penggunaanya. Jika ternyata belum ada, coba buat sebuah model buku catatan pribadi siswa yang menurut anda cukup lengkap untuk keperluan pembimbingan belajar terhadap siswa. Itulah lima prinsip belajar telah kita diskusikan. Silahkan anda dalami berbagai sumber lain tentang belajar. Akan tetapi paling tidak ke-lima prinsip sebelumnya hendaknya menjadi pegangan kita di dalam melaksanakan pembelajaran siswa-siswa kita. Belajar terjadi pada suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari komponen atau unsur tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa dan guru. Sebagai suatu sistem, unsur-unsur pembelajaran tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Oleh karena itu, pemilihan dan penggunaan strategi belajar mengajar tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan unsur-unsur lain di dalam sistem pembelajaran. Yang menjadi unsur utama ialah tujuan pembelajaran. Semua unsur di dalam pembelajaran harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu tujuan pembelajaran harus ditetapkan lebih dulu. Bagaimana implikasi tujuan, bahan pelajaran, alat dan siswa terhadap penggunaan strategi belajar mengajar akan kita diskusikan pada kegiatan belajar berikutnya. Untuk memantapkan pemahaman anda terhadap materi yang anda pelajari, cobalah diskusikan hal-hal berikut bersama rekan-rekan anda Identifikasikanlah kegiatan pembelajaran yang anda rancang. Apakah kegiatan pembelajarannya termasuk belajar melalui pengalaman ataukah melalui pengamatan Kegiatan apa yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan motifasi belajar siswa Kegiatan apa yang dapat dilakukan guru untuk menarik perhatian siswa Untuk memudahkan anda dalam mendiskusikan hal di atas, bacalah rambu-rambu pengerjaan latihan berikut ini Ambillah salah satu rencana pembelajaran yang akan anda lakssiswaan. Identifikasi setiap langkah kegiatan pembelajaran yang akan anda tempuh. Dari hasil identifikasi ini anda akan mengetahui apakah kegiatan pembelajaran yang anda rancang lebih menekankan pada belajar melalui pengalaman (langsung dan tak langsung) ataukah melalui pengamatan. Untuk menjawab pertanyaan ini, anda hendaknya mengingat kembali materi yang membahas teknik-teknik membangkitkan motivasi belajar siswa. Untuk lebih meyakinkan anda observasilah teman anda yang sedang mengajar. Catatlah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan teman anda yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa. Selain anda harus mengingat kembali materi tentang teknik-teknik menarik perhatian siswa, anda juga dapat melakukan observasi atau meminta teman anda mengobservasi anda yang sedang mengajar. Catatlah kegiatan-kegiatan yang dapat menarik perhatian siswa selama kegiatan pembelajaran. Untuk membantu pemahaman anda mengenai materi yang telah kita diskusikan sebelumnya, berikut adalah beberapa rangkuman Belajar memiliki tiga atribut pokok Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan. Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik menyangkut kognitif psikomotorik maupun afektif. Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan lain. Perbedaan itu terdapat pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini ada pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya, perbedaan individu perlu diperhaikan pleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan individual. Umumnya, pelaksanaan pembelajaran di kelas melihat siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya. Pembelajaran yang bersifat klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara. Antara lain dengan penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan media instruksional akan membantu melayani perbedaan siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klasikal adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa yang pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi siswa yang kurang. Di samping itu, dalam memberikan tugas hendaknya disesuikan dengan minat dan kemampuan siswa sehingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang akan merasakan berhasil di dalam belajar. Sebagai unsur primer dan sekunder dalam pembelajaran maka dengan sendirinya dan guru terimplikasi adanya prinsip-prinsip belajar. Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam setiap kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Namun demikian, perlu disadari bahaya implementasi prinsip-prinsip belajar sebagai implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru tidak semuanya terwujud dalam setiap proses pembelajaran. BAB III MOTIVASI BELAJAR 1. Pengertian dan Pentingnya Motivasi Motivasi berasal dari kata Inggris motivation yang berarti dorongan, pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah to motivate yang berarti mendorong, menyebabkan dan merangsang. Motivate sendiri berarti alasan, sebab dan daya penggerak (Echols, 1984). Motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu tersebut amok melakukan aktifitas-aktifitas tertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan (Suryabrata, 1994). Secara serupa, Winkels (1987) mengemukakan bahwa motif adalah penggerak dalam diri seseorang mau melakukan aktifitas-aktifitas tertentu dalam mencapai suatu tujuan tertentu pula. Dalam kegiatan belajar mengajar, dikenal adanya motivasi belajar, yaitu motivasi yang diterapkan dalam kegiatan belajar. Motivasi belajar adalah keseluruhan dari penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai suatu tujuan (Winskel, 1987). Motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga yang mempunyai motivasi tinggi mempunyai energi linggi yang banyak untuk melaksanakan kegiatan belajar. Siswa yang mempunyai motiasi belajar tinggi sangat sedikit yang tertinggal belajarnya dan sangat sedikit putus kesalahan dalam belajarnya (Palardi, 1975). Ada beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Ini dapat dikenali dalam proses belajar mengajar di kelas, sebagaimana dikemukakan Brown (1981) sebagai berikut tertarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama kepada guru, ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas ingin identitas dirinya diakui oleh orang lain tindakan, kebiasaan, dan moralnya selalu dalam kontrol diri selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali dan selalu terkontrol oleh lingkungannya. Sardiman (1986) mengemukakan bahwa ciri-ciri motivasi yang ada pada diri seseorang adalah tekun dalam menghadapi tugas atau dapat bekerja secara terus menerus dalam waktu lama ulet dalam menghadapi kesulitan dan tidak mudah putus asa, tidak cepat puas atas prestasi yang diperoleh menunjukkan minat yang besar terhadap bermacam-macam masalah belajar lebih suka bekerja sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain tidak cepat bosan dengan tugas-tugas rutin dapat mempertahankan pendapatnya tidak mudah melepaskan apa yang diyakini senang mencari dan memecahkan masalah. Suatu hal yang penting adalah bahwa motivasi pada setiap tingkat yang di atas hanya dapat dibangkitkan apabila telah dipengaruhi tingkat motivasi di bawahnya. Siswa yang lapar, merasa tidak aman, yang tidak dikasihi, yang tidak diterima sebagai anggota masyarakat kelas, yang guncang harga dirinya, tidak akan dapat belajar dengan baik. Motivasi kelakuan manusia merupakan topik yang sangat luas. Banyak macam motivasi dan para ahli meneliti tentang bagaimana asal dan perkembangannya dan menjadi suatu daya dalam mengarahkan kelainan seseorang. Motivasi diakui sebagai hal yang sangat penting bagi pelajaran di sekolah. Ada sejumlah tokoh yang meneliti soal motivasi belajar ini. Hewitt (1968) mengemukakan bahwa attentional set merupakan dasar bagi perkembangan motivasi yakni yang bersifat sosial. artinya siswa itu suka bekerja sama dengan siswa-siswa lain dan dengan guru, ia mengharapkan penghargaan dari teman-temannya dan mencegah celaan mereka, dan ingin mendapatkan harga dirinya di kalangan kawan sekelasnya. Selanjutnya siswa itu memperoleh motivasi siswa menguasai pelajaran (material), termasuk penguasaan kemampuan intelektual. Dengan reinforcement yakni penghargaan atas keberhasilannya motivasi itu dapat dipupuk. Taraf motivasi tertinggi menurut Hewitt ialah motivasi untak achievement atau keberhasilan yang merupakan syarat agar siswa ini didorong oleh kemauannya sendiri dan merasa kepuasan dalam mengatasi tugas-tugas yang kian bertambah sulit dan berat. Bila taraf ini tercapai maka siswa itu sanggup untuk belajar sendiri. Penelitian lain mengemukakan pentingnya reinforcementt berupa pujian, penghargaan yang diberikan bila hasil belajar siswa mendekati bentuk kelakuan yang di inginkan, dan tidak perlu di tunggu sampai hasil belajarnya benar sepenuhnya. Siswa perlu diberitahukan tentang hasil pekerjaanya sehingga ia dapat menilai keberhasilannya dan kegagalannya. Akhirnya siswa itu harus meningkat dalam bentuk penghargaan dari yang konkrit kepada rasa puas atas keberhasilannya menurut standar yang ditentukannya sendiri. Pentingnya motivasi Secara konseptual motivasi berkaitan erat dengan prestasi atau perolehan belajar. Pembelajaran yang tinggi motivasi, umumnya tinggi pula perolehan belajarnya. Sebaliknya, pembelajaran yang rendah motivasinya, rendah pula perolehan belajarnya. Demikian juga pembelajaran yang sedang-sedang saja motivasinya, umumnya perolehan belajannya juga sedang-sedang saja. Banyak riset yang membuktikan bahwa tingginya motivasi dalam belajar berhubungan dengan tingginya prestasi belajar. Bahkan pada saat ini, kaitan antara motivasi dengan perolehan dan atau prestasi ini tidak hanya dalam belajar. Dalam kerjapun, motivasi ini juga sangat penting. Salah satu hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai motivasi umumnya juga mempunyai prestasi yang lebih tinggi. Pegawai atau karyawan yang mempunyai motivasi, selain berprestasi tinggi juga menunjukkan performansi profesional yang diharapkan atau di atas rata-rata teman atau sejawatnya. Bahkan dewasa ini, ada juga yangg mengembangkan motivasi berprestasi atau motivasi belajar ini menjadi motif berkompetensi. Yang dimaksud dengan berkompetensi adalah dorongan-dorongan untuk menguasai kompetensi keahliannya. Terbukti dengan jelas, bahwa mereka yang mempunyai motivasi dan kompetensi yang tinggi cenderung lebih mengusai bidang-bidangnya dibandingkan dengan mereka yang rendah motif kompetensinya. Oleh karena itu, motivasi belajar sangat penting dalam peningkatan perolehan belajar. Dalam khasanah kepustakaan kependidikan, motivasi sering-sering disebut secara berulang-ulang sebagai variabel yang banyak membentuk perolehan belajar. Bahkan, orang yang sukses di segala bidang, lebih banyak disebabkan oleh tingginya motivasi yang mereka punyai. Juga untuk belajar diperlukan motivasi motivation is and essential condition of learning. Hasil belajarpun banyak ditentukan oleh motivasi. Makin tepat motivasi yang kita berikan, makin berhasil proses pembelajaran itu. Motivasi menentukan intensitas usaha siswa belajar. Motivasi melepaskan energi atau tenaga yang ada pada seseorang. Setiap motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan. Motivasi setidaknya mempunyai tiga fungsi Mendorong manusia untuk berbuat jadi sebagal penggerak atau motor yang melepaskan energi. Menentukan arah perbuatan yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. (c) Menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dijalankan yang serasi guna mencapai tujuan itu, dengan menyampingkan perbuatan-perbuatan yang tak bermanfaat bagi tujuan ini. Seorang yang betul-betul bertekad menang dalam pertandingan, tak akan menghabiskan waktunya bermain karena tidak selaras dengan tujuan. Dalam bahasa sehari-hari, motivasi dinyatakan dengan hasrat, keinginan, maksud, tekad, dorongan, kebutuhan, kehendak, cita-cita, keharusan, kesedihan dan sebagainya. 2. Jenis Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik Motivasi dapat di bedakan atas motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam individu. Ausubel (1968) berpendapat bahwa motivasi yang dikaitkan dengan motivasi sosial tidak begitu penting dibandingkan dengan motivasi yang bertalian dengan penguasaan tugas dan keberhasilan. Motivasi serupa ini bersifat intrinsik dan keberhasilannya akan memberi rasa kepuasan. Selain itu, keberhasilan mempertinggi harga dirinya dan rasa kemampuannya. Dalam hal pertama, ia didorong oleh motivasi intrinsik yakni ia ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu. Dalam belajar telah terkandung tujuan menambah pengetahuan, intrinsic motivations are inherent in the learning situasions and meet pupil needs and purposes. Demikian pula bila didorong oleh prinsip for the pleasure of the activity. Motivasi belajar secara intrinsik sebenarnya memang telah ada. Ini sesuai dengan teori, yang memandang bahwa segala tindakan manusia, termasuk belajar, adalah karena terdapatnya tanggungjawab internal pada diri manusia itu. Manusia, dalam sudut pandang teori ini, memang termasuk makhluk yang baik, tinggi tanggungjawabnya, suka bekerja termasuk belajar, tinggi militansi kerja atau belajarnya, selain ingin berprestasi. Berarti, dalam diri manusia sebenarnya terdapat dorongan-dorongan yang kuat untuk belajar. Sungguhpun demikian, rekayasa lingkungan perlu diberikan agar seseorang tetap belajar. Rekayasa lingkungan antara lain dapat berupa motivasi ekstrinsik. Mengapa motivasi ekstrinsik perlu diberikan, tak lain karena seseorang tidak senantiasa bemda dalam keadaan menetap. Bisa terjadi, seseorang yang mempunyai motivasi belajar intrinsik yang demikian tinggi tiba-tiba melemah. Supaya melemahnya motivasi intrinsik ini tidak sampai berada pada tingkatan yang sangat rendah, perlu dikontrol dengan menggunakan motivasi ekstrinsik. Pada orang yang tingkat motivasi intrinsiknya rendah, justru motivasi ekstrinsik ini sangat diperlukan. Motivasi ekstrinsik yang diberikan secara tepat, justru secara berlahan dapat mencangkokkan motivasi intrinsik untuk belajar manakala belajar yang direkayasa dengan motivasi ekstrinsik tersebut telah menjadi kebiasaan bagi pembelajar. Bahkan kalau sudah sampai di tahap personal, seseorang akan tinggi motivasi belajarnya secara intrinsik. Adalah suatu kenyataan, bahwa siswa manusia itu tidak sama, termasuk motivasinya. Ketidaksamaan dalam motivasi intrinsik yang dipunyai ini, dapat dikurangi dengan memberikan motivasi ekstrinsik. Bila seorang belajar untuk mencari penghargaan berupa angka, hadiah, diploma, dan sebagainya, ini didorong oleh motivasi ekstrinsik, oleh sebab tujuan-tujuan itu terletak di luar perbuatan itu, yakni tidak terkandung di dalam perbuatan itu sendiri, The goal is artificially introduced. Tujuan itu bukan sesuatu yang wajar dalam kegiatan. Siswa-siswa didorong oleh motivasi intrinsik, bila mereka belajar agar lebih sanggup mengatasi kesulitan kesulitan hidup, agar memperoleh pengertian, pengetahuan, sikap yang baik, penguasaan kecakapan. Hasil-hasil itu sendiri telah merupakan hadiah. The reward of a thing well done is to have done it (Emerson). Ganjaran bagi sesuatu yang dilakukan dengan baik ialah bila telah dilakukan. Jadi motivasi ekstrinsik disini tidak perlu. Akan tetapi di sekolah sering digunakan motivasi ekstrinsik seperti angka-angka, pujian, ijazah, kenaikan tingkat, celaan, hukuman, dan sebagainya. Motivasi ekstrinsik dipakai oleh sebab pelajaran-pelajaran sering tidak dengan sendirinya menarik dan guru sering kurang mampu untuk membangkitkan minat siswa. Membangkitkan motivasi tidak mudah. Untuk itu guru perlu mengenal siswa dan mempunyai kesanggupan Kreatif untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan serta minat siswa. 3. Motivasi dalam Belajar dan Unsur-Unsur yang mempengaruhi motivasi belajar Motivasi sangat krusial dalam belajar dan pembelajaran. Namun pula, motivasi belajar juga dipengaruhi oleh banyak unsur antara lain cita-cita aspirasi pembelajar, kemampuan pembelajar, kondisi pembelajar, kondisi lingkungan belajar, dan unsur-unsur dinamis belajar, serta pembelajaran dan upaya-upaya guru dalam membelajarkan pembelajar. Oleh karena itu, unsur-unsur yang mempengaruhi tersebut, perlu diketahui dan diperhatikan oleh guru yang membelajarkan pembelajar. Agar dapat mendukung lebih optimal terhadap motivasi belajar. Jika unsur-unsur yang mempenguuhi tersebut tidak diketahui dan tidak diperhatikan, bisa menjadi penyebab rendahnya motivasi belajar para pembelajar. Sebagai konsekuensi atas perhatian guru terhadap unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar dan unsur-unsur yang mempengamhi tersebut, guru hendaknya senantiasa berupaya meningkatkan motivasi belajar. Upaya meningkatkan motivasi belajar tersebut dilakukan dengan cara mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar, mengoptimalkan unsur-unsur belajar/ pembelajaran, mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman kemampuan yang dimiliki oleh pembelajar dan mengembangkan cita-cita dan aspirasi pembelajar. Ausubel mengatakan adanya hubungan antara motivasi dan belajar. Motivasi bukan mempakan syarat mutlak untuk belajar tak perlu lebih dahulu ditunggu adanya motivasi sebelum kita mengajarkan sesuatu. Bahkan kita dapat mengabaikan motivasi dan memusatkan perhatian kepada pengajaran itu sendiri. Bila belajar itu berhasil maka akan timbul motivasi itu dengn sendirinya dan keinginan untuk lebih banyak belajar. Sukses dalam belajar akan membangkitkan motivasi untuk belaiar. Menurut Skinner (1968), masalah motivasi bukan soal memberikan motivasi, akan tetapi mengatur kondisi belajar sehingga memberikan reinforcement. Motivasi yang dianggap lebih tinggi tarafnya daripada penguasaan tugas ialah achievement motivation yakni motivasi untuk mencapai atau menghasilkan sesuatu. Motivasi ini lebih mantap dan memberikan dorongan kepada sejumlah besar kegiatan, termasuk yang berkaitan dengan pelajari di sekolah. McClelland (1965) yang menyelidiki berbagai hal yang dapat mempertinggi motivasi ini, misalnya dengan merumuskan tujuan dengan jelas, mengetahui kemajuan yang dicapai, merasa turut bertanggungjawab, dan lingkungan sosial yang menyokong. Peneliti lain, White (1959) mengemukakan konsep kompetensi. Motivasi kompetensi mempunyai dasar biologis, jadi juga terdapat pada binatang, antara lain motivasi menyelidiki aktivitas manipulasi. Ada pula peneliti yang mencari motivasi positif yang dinyatakan dengan istilah mastery, ego involvement (keterlibatan diri), dan lain-lain. White berpendapat bahwa kegiatan siswa tak dapat dijelaskan dengan dorongan untuk memuaskan kebutuhan makan, minum, dan sebagainya. Akan tetapi karena kegiatan untuk berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya yang memberikan rasa mampu. Setiap orang ingin menguasai lingkungannya. Walaupun teori-teori motivasi berbeda-beda, nanum dalam praktek pendidikan penerapannya sama. Pelajar harus diberikan ganjaran (reward) berupa pujian, angka yang baik, rasa keberhasilan atas hasil belajarnya, sehingga ia lebih tertarik oleh pelajaran. Keberhasilan dalam interaksi dengan lingkungan belajar, penguasaan tujuan program pendidikan memberikan rasa kepuasan dan karena ini merupakan sumber motivasi yang terus menerus bagi pelajar, sehingga ia sanggup belajar sendiri sepanjang hidupnya, yang dapat dianggap sebagai salah satu hasil pendidikan yang paling penting. Unsur-Unsur Yang Mempengaruhi Motivasi Ada beberapa unsur yang mempengaruhi motivasi belajar. Unsur-unsur tersebut adalah Cita-cita/ aspirasi pembelajar Kemampuan pembelajar Kondisi pembelajar Kondisi lingkungan belajar Unur-unsur dinamis belajar dan pembelajaran Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar Unsur-unsur tersebut dijelaskan sebagaimana pada uraian berikut Cita-Cita/ Aspirasi Pembelajaran Setiap manusia senantiasa mempunyai cita-cita atau aspirasi tertentu di dalam hidupnya temasuk pembelajar. Cita-cita atau aspirasi ini senantiasa ia kejar dan ia perjuangkan. Meskipun rintagan yang ditemui sangat banyak dalam mengejar cita-cita dan aspirasi tersebut, seseorang tetap berusaha semaksimal mungkin karena hal tersebut berkaitan dengan cita-cita dan aspirasinya. Oleh karena itu, cita-cita dan aspirasi sangat mempengaruhi terhadap motivasi belajar seseorang. Seseorang yang bercita-cita menjadi dokter, pada saat masih sedang belajar dijenjang pendidikan dasar, tentu menggemari mata pelajaran-mata pelajaran dan bacaan-bacaan yang berkaitan erat dengan ilmu kesehatan. Meskipun mata pelajaran tersebut masih terintegrasi dengan mata pelajaran IPA, ia akan lebih bergairah dengan mata pelajaran tersebut. Oleh karena itu. ia akan lebih temotivasi mempelajari mata pelajaran tersebut dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya. Sebaliknya seseorang yang kebetulan berstatus mahasiswa dan dahulunya bercita-cita menjadi ahli hukum tetapi ia dipaksa oleh orang tuanya mengambil jurusan teknik elektro. Dapat dipastikan kesungguhan belajarnya akan berkurang karena apa yang ia pelajari tidak sesuai dengan cita-cita dan aspirasinya. Ketidaksungguhan dalam belajar demikian ini tentu lantaran jurusan yang dipaksakan oleh orang tuanya tidak cocok dengan cita-cita dan aspirasinya. Motivasinya menjadi kendor dan bisa jadi, pada saat-saat masih di sekolah menengah ia tinggi motivasi belajarnya sebaliknya pada saat sudah menjadi mahasiswa motivasi yang tinggi tersebut berubah menjadi rendah. Itulah sebabnya cita-cita dan aspirasi pembelajaran ini perlu diperhitungkan dalam rangka meningkatkan motivasi belajar seseorang. Sebab cita-cita atau aspirasi ini mempengaruhi motivasi belajar. Jika kaitan antara cita-cita atau aspirasi pembelajar dengan motivasi dan perolehan belajar ini diskemakan seperti tampak dibawah ini Kemampuan Pembelajar Kemampuan manusia satu dengan yang lain tidaklah sama. Menuntut seseorang sebagaimana orang lain dari bingkai penglihatan demikian tentulah tidak diberikan. Sebab, orang yang mempunyai kemampuan rendah akan sangat susah menyerupai orang yang mempunyai kemampuan tinggi dan sebaliknya orang yang berkemampun tinggi, akan menjadi malas jika dituntut sebagaimana mereka yang berkemampuan rendah. Oleh karena itu, kemampuan pembelajar ini haruslah diperhatikan dalam proses belajar pembelajaran. Kemampuan pembelajar erat hubungannya dan bahkan mempengaruhi motivasi belajar pembelajar. Bisa terjadi, seseorang menjadi rendah motivasi belajarnya terhadap bidang tertentu oleh karena yang bersangkutan rendah kemampuannya di bidang tersebut. Jika kaitan antara kemampunn pembelajar dengan motivasi dan perolehan belajar ini diskemakan sebagai berikut Kondisi pembelajar Kondisi pembelajar dapsat dibedakan atas kondisi fisiknya dan kondisi psikologisnya. Dua macam kondisi ini, fisik dan psikologis, umumnya saling mempengamhi satu sama lain. Jiwa yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat. Dalam realitasnya juga berlaku kebalikannya. Bila seseorang kondisi psikologisnya tidak sehat, bisa berpengaruh juga terhadap ketahanan dan kesehatan fisiknya. Sangatlah jelas dan sering dirasakan oleh siapapun jika kondisi fisik dalam keadaan lelah, umumnya motivasi belajar seseorang akan menurun. Sebaliknya jika kondisi fisik berada dalam keadaan bugar dan segar, motivasi belajar bisa meningkat. Berarti, kondisi fisik seseorang mempengaruhi motivasi belajarnya. Orang yang sudah sangat lelah tidak baik kalau belajar. Demikian juga kalau sedang sakit, tidak bails untuk dipaksa belajar. Dalam kondisi psikologis terganggu, sebutlah misalnya stress, juga tidak bisa mengkonsentrasikan diri terhadap hal-hal yang dipelajari. Kmena tidak bisa konsentrasi, maka gairah belajarnya menurun. Keadaan demikian ini, bisa menjadikan seseorang belajar merasa terpaksa dan tidak banyak bemotivasi. Jelaslah bahwa kondisi pembelajar, baik yang bersifat fisik maupun psikis, sama-sama berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Ada kalanya seseorang yang pada masa-masa sebelumnya bemotivasi belajar tinggi, tiba-tiba menjadi rendah hanya karena kondisi fisik dan psikologisnya terganggu atau sakit. Tidak jarang, seseorang yang motivasi belajarnya biasa-biasa saja, tiba-tiba berubah karena kondisi fisik dan psikologisnya dalam keadaan prima. Jika diskemakan, kondisi pembelajar dalam kaitannya dengan motivasi dan perolehan belajar adalah sebagai berikut Kondisi lingkungan belajar Sudah umum diketahui bahwa yang menentukan motivasi belajar seseorang, selain faktor individu juga faktor lingkungan. lebih-lebih lingkungan belajar. Sebab, individu secara sadar ataukah tidak, senantiasa tersosialisasi oleh lingkungannya. Lingkungan belajar ini meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Yang dimaksud dengan lingkungan fisik adalah tempat dimana pembelajar tersebut belajar. Apakah tempat belajarnya nyaman ataukah tidak, apakah tempatnya segar atau pengap. Hal-hal demikian ini berpengaruh terhadap motivasi belajar. Demikian juga yang amburadul, tidak memberikan gairah bagi belajar seseorang. Sebaiknya tempat yang teratur, yang tertata rapi, mendorong seseorang bergairah belajar. Tempat belajar yang berisik oleh suara bisa menganggu belajar, yang tenang, bisa menimbulkan gairah belajar. Jadi lingkungan fisik berpengaruh terhadap motivasi belajar. Lingkungan sosial adalah suatu lingkungan seseorang dalm kaitannya dengan orang lain. Contohnya berupa lingkungan sepermainan, lingkungan sebaya, kelompok belajar. Sungguhpun faktor pribadi pribadi seseorang lebih menentukan terhadap diri sendiri tetapi harus diakui bahwa lingkungan sosial juga menentukan motivasi belajar seseorang. Contohnya jika dalam lingkungan sosial seseorang tidak terbiasa dengan aktivitas belajar maka bukan budaya belajar itu yang dikembangkan oleh seseorang. Dalam lingkungan yang kompetitif untuk belajar, seseorang yang berada dilingkungan tersebut akan terbawa serta untuk belajar seperti orang lain, baik secara sadar atau tidak. Kaitan antara kondisi lingkungan belajar dengan motivasi dan perolehan belajar adalah sebagai berikut Unsur-Unsur Dinamis Belajar dan Pembelajaran Unsur dinamis belajar dan pembelajaran meliputi hal-hal sebagai berikut Motivasi dan upaya memotivasi siswa untuk belaiar Bahan belajar dan upaya penyediannya Alat bantu belajar dan upaya penyediaannya Suasana belajar dan upaya pengembangannya Kondisi subjek belajar dan upaya penyiapan dan peneguhannya Oleh karena itu, unsur-unsur dinamis demikian ini patut diperhatikan agar motivasi belajar pembelajar menjadi tinggi. tingginya motivasi belajar berimplikasi bagi maksimainya perolehan belajar pembelajar. Unsur dinamis belajar dan pembelajaran serta perolehan belajar pembelajar jika dokaitkan antara unsur-unsur dinamis dalam belajar dengan motivasi dan perolehan belajar adalah sebagai berikut Upaya Guru dalam Membelajarkan pembelajar Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar juga berpengaruh terhadap motivasi belajar. Guru yang tinggi gairahnya dalam membelajarkan pembelajar akan menjadikan pembelajar juga bergairah belajar. Guru yang sungguh-sungguh dalam membelajarkan pembelajar, menjadikan tingginya motivasi belajar si pembelajar. Pada guru yang demikian umumnya mempersiapkan diri dengan matang dan senantiasa memberikan yang terbaru dan terbaik kepada pembelajar. Oleh karena yang di berikan tersebut menarik. Terbaik dan mungkin terbaru. Maka tingkat aktualitasnya sangat tinggi dimata pembelajar. Sebagai akibatnya, hal-hal yang disajikan oleh guru menjadi menarik dimata pembelajar. Menariknya hal-hal yang diberikan ini hisa menjadikan tingginya motivasi pembelajar. Sebaliknya pada guru yang tidak bergairah dalam membelajarkan pembelajar, umumnya mengulang saja pelajaran yang di berikan dari tahun ketahun. Proses belajar pembelajar terasa kering dan kehilangan nuansa. Akibat dari proses belajar pembelajaran demikian ini, pembelajar tidak bergairah dan menyebabkan kemungkinan kehilangan motivasi. Hal demikian bisa lebih parah lagi. manakala guru yang membelajarkan tersebut sudah puas dengan keadaan yang demikian ini. Oleh karena itu, upaya guru untuk membelajarkan pembelajar sangat krusial dalam meningkatkan motivasi pembelajar. Jika di skemakan antara upaya guru untuk membelajarkan pembelajar dengan motivasi dan perolehan belajar pembelajar adalah sebagai berikut Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Upaya belajar senantiasa bergelombang. Adakalanya bergerak naik dan adakalanya bergerak turun. Tidak jarang motivasi belajar hanya mendatar saja. Oleh karena demikian watak motivasi tersebut maka diperlukan upaya untuk meningkatkannya. Dengan demikian, motivasi belajar yang di punyai oleh pembelajar bisa cenderung naik dan atau minimal Menetap. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan motivasi pembelajar, yaitu Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar Mengoptimalkan unsur-unsur dinamis belajar/ pembelajaran Mengoptimalkan pemanfaatan pengalaman/ kemampuan yang telah dimiliki dalam belajar Mengembangkan cita-cita/ aspirasi dalam belajar Secara berturut-turut, ketiga cara tersebut di kemukakan sebagai berikut Mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar Ada beberapa prinsip yang harus dipedomani dalam belajar. Prinsip tersebut adalah Prinsip perhatian dan motivasi belajar Prinsip keaktifan belajar Prinsip keterlibatan langsung pembelajar Prinsip pengulangan belajar Prinsip sifat perangsang dan menantang dari materi yang dipelajari Prinsip pemberian balikan dan penguruan dalam belajar Prinsip perbedaan individual antar belajar Ketujuh prinsip ini diterapkan secara optimal agar pembelajar mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar. Ada dua cara dalam mengoptimalkan penerapan prinsip belajar tersebut. Pertama, menyusun strategi-strategi sehingga prinsip-prinsip tersebut dapat terterapkan secara optimal. Strategi disini, dari pandangan-pandangan dan temuan-temuan teoritik dapat pula digali dari kiat guru sendiri. Temuan-temuan ahli psikologi pendidikan dan temuan-temuan ahli pengajaran digali hingga dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. Kedua, menjauhkan kendala-kendala yang ditemui dalam mengoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar. Kendala demikian ini patut dijauhkan, agar tidak mengganggu bagi penerapan prinsip-prinsip belajar. Mengoptimalkan Unsur-Unsur Dinamis Belajar dan Pembelajaran Mengingat unsur-unsur belajar dan pembelajaran dapat mempengaruhi motivasi maka ia perlu di optimalkan penerapannya. Pengoptimalan demikian ini perlu dilakukan agar motivasi belajar siswa juga optimal. Cara mengoptimalkan unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran adalah pertama, menyediakan secara kreatif berbagai unsur belajar pembelajaran tersebut dalam setting belajar pembelajaran. Penyediaan secara kreatif ini perlu dilakukan, karena umumnya ketika tidak ada inisiatif dari guru, siswa hanya menerima kondisi tersebut apa adanya. Contohnya peralatan pengajaran yang tidak tersedia dapat disediakan dengan merancang sendiri bersama-sama dengan pembelajar. Kedua, memanfaatkan sumber-sumber di luar sekolah sehingga keterbatasan yang dimiliki oleh sekolah dapat ditanggulangi. Hal demikian dapat dilakukan dengan banyak mengadakan kerjasama dengan sejumlah lembaga di luar sekolah bahkan di luar dunia pendidikan. Mengoptimalkan Pemanfaatan Pengalaman/ Kemampuan Yang Telah Dimiliki Dalam belajar Setiap pembelajar mempunyai kemampuan dan pengalamn-pengalaman tertentu yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kemampuan dan pengalaman yang berbeda demikian ini hendaknya tidak justru menjadi konstrain dalam aktivitas belajarnya. Kemampuan atau pengalaman masa Ialu ini bisa didapatkan oleh pembelajw melalui aktivitas belajar, dan bisa juga didapatkan oleh pembelajar melalui aktivitas lain atau aktivitas non belajar. Pengalaman dan kemampuan masa Ialu ini bisa menjadi konstrain untuk belajar berikutnya, tetapi tidak jarang bisa mendukung aktivitas belajar. Pengalaman dan kemampuan masa lain bisa menjadi konstrain belajar, manakala dipandang bertentangan dengan pengalaman belajar berikutnya oleh pembelajar. Pengalaman dan kemampuan masa Ialu bisa mendukung terhadap aktivitas belajar manakala sesuai dengan pengalaman belajar berikutnya. Tidak itu saja pengalaman atau kemampuan masa lalu malahan bisa menjadi prasyarat bagi pengalaman berikutnya. Jika kondisi yang terakhir ini terjadi maka pembelajar tidak dapat mempelajari mata pelajaran berikutnya tanpa yang bersangkutan telah mempunyai kemampuan dan pengalaman yang diprasyaratkan. Cany, dkk (1981) menyebut pengalaman dan kemampuan demikian dengan istilah entry behavior. Yang harus diupayakan guru agar kemampuan atau pengalaman masa lalu justru mendukung terhadap aktivitas belajar adalah Biarkan pembelajar dapat menangkap apa yang dipelajari sekarang ini dari perspektif kemmpuan dan pengalaman masa lalunya. Jangan dipaksa menggunakan perspektif gurunya. Kaitkan aktivitas belajar pada masa sekarang ini dengan kemampuan dan pengalaman yang sudah dipunyai oleh pembelajar. Gali dulu pengalaman dari kemampuan yang sudah dimiliki oleh pembelajar melalui tes lisan atau tertulis sebelum menyampaikan materi berikutnya. Beri kesempatan kepada pembelajar untuk membandingkan apa yang sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimiliki. Mengembangkan Cita-Cita/ Aspirasi Dalam Belajar Cita-cita adalah sesuatu yang dikejar oleh seseorang. Kegiatan-kegiatan seseorang, utamanya kegiatan belajar. Lebih banyak teraksentuasi pada pengejaran dan atau pencapaian cita-cita atau aspirasi tersebut. Maka dari itu, cita-cita atau aspirasi tersebut harus senantiasa dikembangkan dalam pembelajaran. Penjurusan yang ada di sekolah-sekolah tidak lain adalah demi penampungan aspirasi dan cita-cita yang berbeda dari masing-masing pembelajar. Demikian juga dengan adanya kurikulum muatan lokal, yang antara daerah yang satu dengan yang lain berbeda. Dalam rangka menampung aspirasi dan cita-cita yang berbeda antara, pembelajar di daerah satu dengan daerah lainnya. Persoalannya adalah, apakah memang benar bahwa dalam pemilihan jurusan tersebut memang benar-benar sesuai dengan cita-cita dan aspirasi pembelajar Mengingat yang menjadi pertimbangan dalam penjurusan tersebut tidak semata-mata cita-cita dan aspirasi melainkan banyak hal lain seperti daya tampung masing-masing jurusan, tersedia tidaknya prasarana dan sarana. Aspirasi atau cita-cita dapat dikembangkan dalam belajar pembelajaran, melalui beberapa langkah sebagai berikut Kenalilah aspirasi dan cita-cita pembelajar. Pengenalan ini dapat dilakukan dengan melakukan penyebaran daftar isian yang dapat memuat sejumlah cita-cita atau aspirasi pembelajar. Dari sejumlah aspirasi atau cita-cita tersebut, pembelajar merangking dari yang paling diminati sampai dengan yang paling tidak diminati. Pengenalan aspirasi ini dapat dilakukan dengan mengadakan tes minat kepada pembelajar. Dengan tes minat, akan diketabui jenis-jenis pekerjaan apa di masa depan yang paling diminati dan menjadi cita-cita pembelajar. Hasil pengenalan atas cita-cita aspirasi tersebut dapat dikomunikasikan kepada siswa dan orang tuanya. Orang tua ini patut juga diberi tahu, agar tidak memaksakan kehendaknya kepada putra-putrinya, karena mungkin pembelajar tersebut mempunyai cita-cita atau aspirasi yang berbeda dengan orangtuanya. Sediakan program-program yang dapat mengembangkan aspirasi dan cita cita tersebut. Setelah program-program tersebut disediakan, barulah para pembelajar diberi kesempatan untuk mengambil program yang sesuai dengan aspirasi dan cita-citanya. Persoalannya hanyalah, apakah mungkin hal demikian dilakukan di sekolah-sekolah kita mengingat kurikulum yang tersentralkan dari pusat Jenis Motivasi dapat dibedakan menjadi dua jenis Motivasi Primer Dan Motivasi Sekunder Motivasi Primer Motivasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Motif-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani manusia. Manusia adalah makluk berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh oleh insting atau kebutuhan jasmaninya. Ahli lain, Freud berpendapat bahwa insting memiliki empat ciri, yaitu tekanan, sasaran, objek dan sumber. Tekanan adalah kekuatan yang memotivasi individi untuk bertingkah laku. Semakin besar energi dalam insting maka tekanan terhadap individu semakin besar. Sasaran insting adalah kepuasan atau kesenangan. Kepuasan tercapai, bila tekanan energi dalam insting berkurang. Sebagai ilustrasi, keinginan makan berkurang bila individu masih kenyang. Objek insting adalah hal-hal yang memutuskan insting. Hal-hal yang memutuskan insting tersebut dapat berasal dari luar individu atau dari dalam individu. Adapun sumber insting adalah keadaan kejasmaniahan individu. Segenap insting manusia dapat di bedakan menjadi dua jenis, yaitu insting kehidupan (life instinct) dan insting kematian (death instinct). Insting kehidupan terdiri dari insting yang bertujuan memelihara kelangsungan hidup. lnsting kehidupan tersebut berupa makan. minum, istirahat, dan memelihara keturunan. Insting kematian tertuju pada penghancuran seperti, merusak, menganiaya, atau membunuh orang lain atau diri sendiri. Menurut Freud energi bekerja memelihara keseimbangan fisik. Insting bekerja seumur hidup. Yang mengalami perubahan adalah cara pemuasan atau objek pemuasan. Motivasi Sekunder Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Hal ini berbeda dengan motivasi primer. Sebagai ilustrasi, orang yang lapar akan tertarik pada makanan tanpa berpikir. Untuk memperoleh makanan tersebut orang harus bekerja terlebih dahulu. Agar dapat bekerja dengan baik, orang harus belajar bekerja. Bekerja dengan haik merupakan motivasi sekunder, bila orang bekerja dengan baik maka ia memperoleh gaji berupa uang. Uang tersebut berupa penguat motivasi sekunder, Uang merupakan penguat umum. Setelah ia bekerja dengan baik maka ia dapat membeli makanan untuk menghilangkan rasa lapar. Menurut beberapa ahli, manusia adalah makluk sosial. Perilakunya tidak hanya terpengaruh oleh faktor biologis saja. Tetapi juga faktor-faktor sosial. Perilaku manusia terpengaruh oleh tiga komponen penting seperti afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah aspek emosional. Komponen ini terdiri dari motif sosial, sikap, dan emosi. Komponen kognitif adalah aspek intelektual yang terkait dengan pengetahuan. Komponen konatif adalah terkait dengan kemauan dan kebiasaan bertindak. Perilaku motivasi sekunder juga terpengaruh oleh adanya sikap. Sikap adalah suatu motif yang dipelajari. Ciri-ciri sikap, yakni merupakan kecenderungan berpikir, merasa, kemudian bertindak memiliki daya dorong bertindak relatif bersikap tetap kecenderungan melakukan penilaian dapat timbul dari dari pengalaman, dapat dipelajari atau berubah. Perilaku juga terpengaruh oleh emosi. Emosi menunjukkan adanya sejenis kegoncangan seseorang. Kegoncangan tersebut disertai proses jasmani, perilaku dan kesadaran. Emosi memiliki fungsi sebagai pembangkit tenaga, pemberi informasi pada orang lain, pembawa pesan dalam hubungan dengan orang lain, dan sumber informasi tentang diri seseorang. Perilaku juga terpengaruh oleh adanya pengetahuan yang dipercaya. Pengetahuan yang dipercaya tersebut adakalanya berdasarkan akal, ataupun tak berdasar akal sehat pengetahuan tersebut dapat mendorong terjadinya perilaku. BAB IV PENDEKATAN CBSA DALAM PEMBELAJARAN 1. KONSEP CBSA DALAM PEMBELAJARAN Cara belajar siswa aktif merupakan suatu upaya dalam pembaruan pendidikan dan pembelajaran. Kendatipun cara ini tergolong baru, namun sesungguhnya konsep ini telah lama dikembangkan, hanya perwujudannya yang masih baru dalam sistem pembelajaran di sekolah-sekolah kita. Karena itu, ada baiknya guru-guru mengenal dan memahaminya lebih seksama agar mampu menerapkan secara efektif. 1.1. Pengertian Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) CBSA adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menitik beratkan pada keaktifan siswa, yang merupakan inti dari kegiatan belajar. Pada hakekatnya, keaktifan belajar terjadi dan terdapat pada semua perbuatan belajar, tetapi kadamya yang berbeda tergantung pada kegiatannya, materi yang dipelajari dan tujuan yang hendak dicapai. Dalam CBSA, kegiatan belajar diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti mendengarkan, berdiskusi, membuat sesuatu, menulis laporan, memecahkan masalah, memberikan prakarsa/gagasan, menyusun rencana, dan sebagainya- Keaktifan itu da yang dapat diamati dan ada pula yang tidak dapat diamati secara langsung. Setiap kegiatan tersebut menuntut keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam proses pembelajaran melalui asimilasi, dan akomodasi kognitif untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, serta pengalaman langsung dalam rangka membentuk keterampilan (motorik, kognitif dan sosial), penghayatan serta internalisasi nilat-nilai dalam pembentukan sikap (Raka Joni, 1980, h. 2). Sejak dimunculkannya pendekatan CBSA dalam lingkungan pendidikan ditanah air, konsep CBSA telah mengalami perkembangan yang cukup jauh. Pendekatan CBSA dinilai sebagai suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional guna memperole hasil belajar yang bempa perpaduan antara matra kognitif, afekisi. dan psikomotorik, (A. Yasin, 1984,h.24). Dalam kerangka sistem belajar mengajar, terdapat komponen proses yakni keaktifan fisik, mental, intelektual dan emosional dan komponen produk, yakni hasil belajar berupa keterpaduan aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Secara lebih rinci komponen produk tersebut mencakup berbagai kemampuan mengamati, menginterprestasikan, meramalkan. mengkaji, menggeneralisasikan, menemukan, mendiskusikan, dan mengkomunikasikan hasil penemuan. Aspek-aspek kemampun tersebut dikembangkan secara terpadu melalui sistem pembelajaran berdasarkan pendekatan CBSA. 1.2. Rasional CBSA dalam pembelajaran Penerapan dan pendayagunaan konsep CBSA dalam pembelajaran merupakan kebutuhan dan sekaligus sebagai keharusan dalam kaitannya dengan upaya merealisasikan Sistem Pendidikan Nasional untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang pada gilirannya berimplikasi terhadap sistem pembelajaran yang efektif. Siswa sebagai peserta didik dipandang dari dua sisi yang berkaitan, yakni sebagai objek pembelajaran dan sebagai subjek yang belajar. Siswa sebagai subjek dipandang sebagai manusia yang potensial sedang berkembang, memiliki keinginan-keinginan-harapan dan tujuan hidup, aspirasi dan motivasi dan berbagai kemungkinan potensi lainnya. Siswa sebagai objek dipandang sebagai yang memiliki potensi yang perlu dibina, diarahkan dan dikembangkan melalui proses pembelajaran. Karena itu proses pembelajaran harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip manusiawi (humanistik), misainya melalui suasana kekeluargaan terbuka dan bergairah serta berpariasi sesuai dengan keadaan perkembangan siswa bersangkutan. Pelaksanaan proses pembelajaran dititik beratkan pada keaktifan siswa belajar dan keaktifan guru menciptakan lingkungan belajar yang serasi dan menantang. Penerapan CBSA dilakukan dengan cara mengfungsionalisasikan seluruh potensi manusiawi siswa melalui penyediaan lingkungan belajar yang meliputi aspek-aspek bahan pelajaran, guru, media pembelajaran, suasana kelas dan sebagainya. Cara belajar di sesuaikan dengan minat dan pemberian kemudahan kepada siswa untuk memperoleh pemahaman, pendalaman, dan pengendapan sehingga hasil belajar berintemalisasi dengan pribadi siswa. Dalam kondisi ini semua unsur pribadi siswa aktif seperti emosi, perasaan, intelektual, penginderaan, fisik dan sebagainya. CBSA dapat berlangsung dengan efektif, bila guru melaksanakan peran dan fungsinya secara aktif dan kreatif, mendorong dan membantu serta berupaya mempenguruhi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan belajar yang telah ditentukan. Keaktifan guru dilakukan pada tahap-tahap kegiatan perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan tindak lanjut pembelajaran. Peranan guru bukan sebagai orang yang menuangkan materi pelajaran kepada siswa, melainkan bertindak sebagai pembantu dan pelayan bagi siswanya. Siswa aktif belajar sedangkan guru memberikan fasilitas belajar, bantuan dan pelayanan. Beherapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru ialah menyiapkan lembaran kerja Menyusun tugas bersama siswa Memberikan informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan Memberikan bantuan dan pelayanan kepada siswa apabila siswa mendapat kesulitan Menyampaikan pertanyaan yang bersifat asuhan Membantu mengarahkan rumusan kesimpulan umum Memberikan bantuan dan pelayanan khusus kepada siswa yang lambat Menyalurkan bakat dan minat siswa Mengamati setiap aktivitas siswa. Kegiatan-kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berdasarkan pendekatan CBSA tidak diartikan guru menjadi pasif, melainkan tetap harus aktif namun tidak bersikap mendominasi siswa dan menghambat perkembangan potensinya. Guru hendanya bertindak sebagai fasilitator. 1.3. Kadar Cara Belajar Siswa Aktif Kadar CBSA ditandai oleh semakin banyaknya dan bervariasinya keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Semakin banyak dan semakin beragamnya keaktifan dan keterlibatan siswa maka semakin tinggi pula kadar ke-CBSA-annya. Sebaliknya, semakin sedikit keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar maka berarti semakin rendah kadar CBSA tersebut. Kadar CBSA itu dalam rangka sistem belajar mengajar menunjukkan ciri-ciri, sebagai berilmu Pada tingkat masukan, ditandai oleh Adanya keterlibatan siswa dalam merumuskan kebutuhan pembelajaran sesuai dengan kemampuan, minat, pengalaman, motivasi, aspirasi yang telah dimiliki sebagai baban masukan untuk melakukan kegiatan belajar. Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun rancangan belajar dan pembelajaran, yang menjadi acuan baik bagi siswa mupun bagi guru. Adanya keterlibatan siswa dalam memilih dan menyediakan sumber bahan pembelajaran. Adanya keterlibatan siswa dalam pengadaan media pembelajaran yang akan digunakan sebagai alat bantu belajar. Adanya kesadaran dan keinginan belajar yang tinggi serta motivasi untuk melakukan kegiatan belajar. Pada tingkat proses, kadar CBSA ditandai dengan Adanya keterlibatan siswa secara fisik, mental, emosional, intelektual, dan personal dalam proses belajar. Adanya berbagai keaktifan siswa mengenal, memahami, menganalisis, berbuat, memutuskan, dan berbagai kegiatan belajar lainnya yang mengandung unsur kemandirian yang cukup tinggi. Keterlibatan secara aktif oleh siswa dalam menciptakan suasana belajar yang serasi, selaras dan seimbang dalam proses belajar dan pembelajaran. Keterlibatan siswa menunjang upaya guru menciptakan lingkungan belajar untuk memperoleh pengalaman belajar serta turut membantu mengorganisasikan lingkungan belajar itu, baik secara individual maupun secara kelompok. Keterlibatan siswa dalam meneari imformasi dari berbagai sumber yang berdaya guna dan tepat guna bagi mereka sesuai dengan rencana kegiatan belajar yang telah mereka rumuskan sendiri. Keterlibatan siswa dalam mengajukan prakarsa, memberikan jawaban atas penanyaan guru, mengajukan penanyaan/ masalah dam berupaya menjawabnya sendiri, menilai jawaban dari rekannya, dan memecahkan masalah yang timbul selama berlangsungnya proses belajar mengajar tersebut. Pada tingkat produk, kadar CBSA ditandai oleh Ketertibatan siswa dalam menilai diri sendiri, menilai teman sekelas. Keterlibatan siswa secara mandiri mengerjakan tugas menjawab tes dan mengisi instrumen penilaian lainnya yang diajukan oleh guru. Keterlibatan siswa menyusun laporan baik tertulis maupun lisan yang berkenaan dengan hasil belajar. Keterlibatan siswa dalam menilai produk-produk kerja sebagal hasil belajar dan pembelajaran. Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat ditentukan derajat kadar CBSA dalam suatu proses belajar mengajar, dan bila mungkin di klasifikasikan menjadi kadar tinggi, kadar sedang, dan kadar rendah. Kendatipun tampak bahwa keaktifan guru sangat menonjol, namun tidak berarti keaktifan guru di abaikan. Tanpa upaya dan pengaruh serta arahan guru sebagai fasilitator dan pengorganisasian belajar maka kadar CBSA yang diinginkan tak mungkin tercapai. Guru tetap bertanggungjawab menciptakan lingkungan belajar yang mampu mengundang/ menantang siswa untuk belajar. 1.4. Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA Pembelajaran berdasarkan CBSA menuntut kondisi-kondisi tertentu untuk menjamin kadar CBSA yang tinggi guna mencapai tujuan pembelajaran atau hasil belajar siswa pada tingkat optimal. Penyelenggaraan pembelajaran CBSA tersebut ditandai oleh indikator-indikator sebagai berikut Derajat partisipasi dan responsif siswa yang tinggi. Para siswa berperan serta secara aktif dan bersikap responsif dalam proses pembelajaran. Siswa tidak tinggal diam hanya menunggu stimuli yang disampaikan oleh guru, melainkan berperan aktif menentukan stimuli misalnya merumuskan suatu masalah dan mencari jawaban serdiri (responsif) atas masalah tersebut. Pada waktu guru menyajikan suatu topik, siswa aktif-responsif mempertanyakan materi yang terkandung di dalamnya. Kedua contoh tersebut sebagai landa, bahwa siswa berperan serta dalam proses pembelajaran. Keterlibatan siswa dalam pelaksanaan pembuatan tugas. Pada dasarnya sejak disusunnya perencanaan tugas-tugas, para siswa telah dapat diaktifkan peran sertanya. Siswa dapat mengajukan usul dan minat tugas yang diinginkannya dengan asumsi bahwa tugas tersebut sesuai dengan kemampuannya. Pada waktu pembuatan tugas, siswa melaksanakan kegiatan kelompok atau dengan belajar mandiri. Pada waktu penilaian tugas (hasil pekerjaannya), siswa hendaknya aktif menilai tugas-tugas temannya dan hasil kerjanya sendiri dalam bentuk menilai dirinya sendiri (self evaluation). Hal ini menunjukan, bahwa tersedia berbagai kemungkinan dimana siswa dapat berperan aktif dalam pelaksarman tugas-tugas yang dikondisikan dalam pembelajaran. Peningkatan kadar CBSA dalam proses pembelajaran juga ditentukan oleh faktor guru. Guru hendaknya menyadari tujuan-tujuan belajar yang ingin dicapai, baik dalam arti efek instruksional maupun efek pengiring, dan dalam pada itu memiliki wawasan dan penguasaan yang memadai tentang bermacam-macam stategi belajar mengajar yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan belajar. Sudah barang tentu penguasaan teknik yang mantap juga merupakan persyaratan sebelum seorang guru bisa secara Kreatif merancang dan menginformasikan program belajar mengajar (T.R aka Joni, 1985, h. 18), Pendekatan CBSA pada dasarnya dapat diterapkan pada semua strategi dan metode mengajar, walaupun kadaannya berbeda-beda. Penggunaan metode mengajar, secara bervariasi dapat memberikan peluang penerapan CBSA dengan kadar yang tinggi. Namun demikian, pemilihan metode tersebut tetap harus dilandasi oleh tujuan yang hendak dicapai, bahan pelajaran yang hendak dipelajari, kondisi subjek belajar itu sendiri (motivasi, pengalaman awal, kondisi kesehatan, keadaan mental, dan lain-lain), serta penguasaan guru terhadap metode tersebut. Dengan demikian, keaktifan siswa belajar tetap terarah, terbimbing, dan diharapkan mencapai hasil secara optimal. Penyediaan media dan peralatan serta berbagai fasilitas belajar tetap diperlukan, agar tercipta lingkungan belajar yang menantang dan merangsang serta meningkatkan kegiatan belajar siswa. Pengetahuan dan keterampilan dalam bidang kemediaan dan teknologi hardware sangat disarankan. Media dan alat merupakan alat bantu bagi siswa kendatipun mereka diminta untuk memilih dan menggunakannya sendiri sesuai dengan aktivitas belajarnya. Keaktifan belajar berdasarkan CBSA tidak jarang menimbulkan kesulitan balajar pada siswa, misalnya teknik-teknik belajar, memilih bahan, menilai hasil kegiatan, tim masalah-masalah lain. Itu sebabnya, bimbingan dan pembelajaran remedial pada waktu tertentu diperlukan untuk membantu siswa bersangkutan, sehingga kecepatan belajar dan penyelesaian tugas-tugas tetap terus berlangsung menyertai rekan-rekannya yang tidak mendapat kesulitan. Kondisi lingkungan kelas/ sekolah turut berpengaruh terhadap pelaksanaan pembelajaran berdasarkan CBSA. Pengaturan, dan pembinaan lingkungan ini perlu mendapat dari pihak guru melalui kerja sama dengan guru-guru lainnya serta para siswa sendiri. Termasuk dalam lingkungan kelas juga suasana. disiplin kelas yang baik. 2. PENERAPAN CBSA Pendekatan CBSA dapat diterapkan dalam pembelajaran dalam bentuk dan teknik Pemanfaatan waktu luang Pemanfaatan waktu luang di rumah oleh siswa memungkinkan dilakukanya kegiatan belajar aktif, dengan cara menyusun rencana belajar, memilah bahan untuk dipelajari, dan menilai penguasaan bahan sendiri. Jika pemanfaatan waktu tersebut dilakukan secara seksama dan berkesinambungan akan memberikan manfaat yang baik dalam menunjang keberhasilan belajar di sekolah. Pembelajaran Individual Pembelajaran individual adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik perbedaan individu tiap siswa, seperti minat, bakat, kecerdasan, dan sebagainya. Guru dapat mempersiapkan/ merencanakan tugas-tugas belajar bagi para siswa, sedang pilihan dilakukan oleh siswa masing-masing, dan selanjutnya tiap siswa aktif belajar secara perseorangan. Teknik lain, kegiatan belajar dilakukan dalam bentuk kelompok, yang terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan dan minat bakat yang sama. Belajar kelompok Belajar kelompok memiliki kadar CBSA yang cukup tinggi. Teknik pelaksanaannya dapat dalam bentuk kerja kelompok, diskusi kelompok, diskusi kelas, diskusi terbimbing, dan diskusi ceramah. Dalam situasi belajar kelompok, masing-masing anggota dapat mengajukan gagasan, pendapat, pertanyaan, jawaban, kritik dan sebagainya. Siswa aktif berpartisipasi, berelasi, dan berinteraksi satu dengan yang lainya. Bertanya jawab Kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa, antara siswa dengan siswa, dan antara kelompok siswa dengan kelompok lainnya memberikan peluang cukup banyak bagi setiap siswa belajar aktif. Kadar CBSA-nya akan lebih besar jika pertanyaan-pertanyaan timbul dan diajukan oleh pihak siswa dan dijawab oleh siswa lainnya. Guru bertindak sebagai pengatur lalulintas atau distributor, dan dianggap perlu guru melakukan koreksi dan perbaikan terhadap pertanyaan dan jawaban-jawaban tersebut. Belajar Inquiry/discovery (belajar mandiri) Dalam strategi belajar ini siswa melakukan proses mental dan intelektual dalam upaya memecahkan masalah. Dia sendiri merumuskan suatu masalah, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan serta mengaplikasikan hasil belajarnya. Dalam konteks ini, keaktifan siswa belajar memang lebih menonjol, sedangkan kegiatan guru hanya mengarahkan, membimbing, dan memberikan fasilitas yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan inquiry-nya. Strategi dan kemampuan inquiry ini, akan diuraikan lebih lanjut dalam pembahasan mengenai keterampilan proses sebagai bagian dari CBSA. Pengajaran unit Strategi pengajaran ini berpusat pada suatu masalah atau suatu proyek. Pada tahap-tahap kegiatan belajar ditempuh tahap-tahap kegiatan utama, yakni tahap pendahuluan dimana siswa melakukan orientasi dan perencanaan awal tahap pengembangan dimana siswa melakukan kegiatan mencari sendin informasi selanjutnya menggunakan informasi itu dalam kegiatan praktik, tahap kegiatan kulminasi, dimana siswa mengalami kegiatan penilaian, pembuatan laporan dan tiddak lanjut. Berdasarkan beberapa contoh strategi pembelajaran tersebut di atas maka semakin jelas tentang bagai mana penerapan pendekatan CBSA tersebut dalam proses pembelajaran. kendatipun dengan kadar yang berbeda-beda. 3. PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SEBAGAI BAGIAN DARI CBSA 3.1. Rasional keterampilan proses dalam pembelajaran Pembelajaran adalah suatu proses interaksi (hubungan timbal balik) antara guru dengan siswa. Dalam proses tersebut memberikan bimbingan dan menyediakan berbagai kesempatan yang dapat mendorong siswa belajar dan untuk memperoleh pengalaman sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tercapainya tujuan pembelajaran ditandai oleh tingkat penguasaan kemampuan dan pembentukan kepribadian. Proses pembelajaran melibatkan berbagai kegiatan dan tindakan yang perlu dilakukan oleh siswa untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Kesempatan untuk melakukan kegiatan dan perolehan hasil belajar ditentukan oleh pendekatan yang digunakan oleh guru-siswa dalam proses pembelajaran tersebut. Suatu prinsip untuk memilih pendekatan pembelajaran ialah belajar melalui proses mengalami secara langsung untuk memperoleh basil belajar yang bermakna. Proses tersebut dilaksanakan melalui interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Dalam proses ini siswa bermotivasi dan sering melakukan kegiatan belajar yang menarik dan bermakna bagi dirinya. Ini berarti, peranan pendekatan belajar mengajar sangat penting dalam kaitannya dengan keberhasilan belajar. Dalam kurikulum telah ditegaskan, bahwa penerapan pendekatan dalam proses belajar mengajar diarahkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar dalam diri siswa supaya mampu menemukan dan mengelola perolehannya. Pendekatan ini disebut pendekatan proses. Proses pembelajaran yang menerapkan pendekatan ini mengacu kepada siswa agar belajar berorientasi pada belajar bagaimana belajar (Depdikbud, 1980). 5.3.2 Pengertian keterampilan proses dan kaitannya dengan CBSA Pendekatan dalam keterampilan proses ialah pendekatan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan sejumiah kemampuan fisik dan mental sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi pada diri siswa. Kemampuan-kemampun fisik dan mental tersebut pada dasarnya leiah dimiliki oleh siswa meskipun masih sederhana dan perlu dirangsang agar menunjukkan jati dirinya. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Keterampilan-keterampilan itu sendiri menjadi roda penggerak dan penemuan dan pengembangan fakta dan konsep serta pertumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai. Seluruh gerak atau tindakan dalan proses belajar mengajar akan menciptakan kondisi cara belajar siswa aktif (Conny Se, 1990). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa dengan keterampilan proses, siswa berupaya menemukan mengembangkan konsep dalam materi ajaran. Konsep-konsep yang telah dikembangkan ini berguna untuk menunjang pengembangan kemampuan selanjutnya. Interaksi antara kemampuan dan konsep melalui proses balajar mengajar selanjutnya mengembangkan sikap dan nilai pada diri siswa misalnya kreativitas, kritis, ketelitian, dan kemampuan memecahkan masalah. Pendapat yang senada diungkapkan oleh Gagne yang merumuskan pengertian keterampilan proses dalam bidang ilmu pengetahuan alam (sains) pengetahuan tentang konsep-konsep dari prinsip-prinsip yang dapat diperoleh siswa bila dia memilhi kemampum-kemampuan dasar tertentu, yaitu keterampilan proses sains yang dibutuhkan untuk menggunakan sains. Keterampilan-keterampilan dalam bidang sains itu meliputi mengamati, menggolongkan, berkomunikasi, mengukur, mengenal dengan menggunakan hubungan ruang/ waktu, menarik kesimpulan menyusun definisi operasional, mengendalikan variabel. menafsirkan data, dan bereksperimen. Berdasarkan konsep pemikiran di atas maka pendekatan keterampilan proses diartikan sebagai pendekatan dalam perencanaan pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas dan kreativitas. siswa untuk mengembangkan kemampuan fisik dan mental yang sudah dimiliki ketingkat yang lebih tinggi dalam memproses perolehan belajamya. Hal ini menunjukkan, bahwa ketempilan proses erat kaitannya dengan CBSA. 3.3. Kemampuan keterampilan dasar yang perlu dilatih dalam keterampilan proses Keterampilan proses sebagai suatu pendekatan proses pembelajaran mengarah pada pengembangan kemampuan fisik dan mental yang mendasar sebagai pendorong untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi pada diri siswa. Ada tujuh jenis kemampuan yang hendak dikembangkan melalui proses pembelajuan berdasarkan pendekatan keterampilan proses, yakni Mengamati Siswa harus mampu menggunakan alat-alat inderanya melihat, mendengar, meraba, mencium dan merasa. Dengan kemampuan ini, dia dapat mengumpulkan data/ informasi yang relevan dengan kepentingan belajarnya. Menggolongkan/ mengklasifikasikan Siswa harus terampil mengenal perbedaan dan persaman atas hasil pengamatannya terhadap suatu objek, serta mengadakan klasifikasi berdasarkan ciri khusus, tujuan, atau kepentingan tertentu. Pembuatan klasifikasi memerlukan kecermatan dalam melakukan pengamatan. Menafsirkan (menginterpretasikan) Siswa harus memiliki keterampilan menafsirkan fakta, data, informasi, atau peristiwa. Keterampilan ini diperlukan untuk melakukan percobaan atau penelitian sederhana. Meramalkan Siswa harus memiliki keterampilan menghubungkan data, fakta, dan informasi. Siswa dituntut terampil mengantisipasi dan meramalkan kegiatan atau peristiwa yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang. Menerapkan siswa harus mampu menerapkan konsep yang telah dipelajari dan dikuasai ke dalam situasi dan pengalaman baru. Keterampilan ini digunakan untuk menjelaskan tentang apa yang akan terjadi dan dialami oleh siswa dalam proses belajarnya. Merencanakan penelitian siswa harus mampu menentukan masalah dan variabel-vatiabel yang akan diteliti, tujuan, dan ruang lingkup penelitian. Dia harus menentukan langkah-langkah kerja pengumpulan dan pengolahan data serta prosedur melakukan penelitian. Mengkomunikasikan Siswa harus mampu menyusun dan menyampaikan laporan secara sistimatis dan menyampaikan perolehannya, baik proses maupun hasil belajarnya kepada siswa lain dan peminat lainnya. 3.4. Penerapan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran Bentuk penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran adalah pemecahan masalah atau inquiry (penemuan). Pengertian pemecahan masalah Masalah pada hakekatnya merupakan bagian dalam kehidupan manusia. Tiap orang tidak pernah luput dari masalah, baik yang bersifat sederhana maupun yang sulit. Masalah yang sederhana dapat dijawab melalui proses berpikir yang sederhana, sedangkan masalah yang rumit memerlukan langkah-langkah pemecahan yang rumit pula. Masalah pada hakekatnya adalah mengundang jawaban. Suatu pertanyaan mempunyai peluang tertentu untuk dijawab dengan tepat, bila pertanyaan itu dirumuskan dengan baik dan sistematis. lni berarti, pemecahan suatu masalah menuntut kemampuan tertentu pada diri individu yang hendak memecahkan masalah tersebut. Pemecahan masalah adalah suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan suatu masalah dan memecahkannya berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. Proses pemecahan masalah memberikan kesempatan peserta didik berperan aktif dalam mempelajari, mencari dan menemukan sendiri informasi data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, dan kesimpulan. Dengan kata lain, pemecahan masalah menuntut kemampuan memproses infomasi untuk membuat keputusan tertentu. Kemampuan memecahkan masalah harus ditunjang oleh kemampuan penalaran, yakni kemampuan melihat hubungan sebab akibat. Kemampuan penalaran memerlukan upaya peningkatan kemampuan dalam mengamati, bertanya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Pemikiran terarah pada hal-hal yang bertalian dengan upaya mencari jawaban terhadap persoalan yang dihadapi. Upaya ini memerlukan berpikir kneatif dan kemampuan menjajaki bidang-bidang baru serta menghasilkan temuan-temuan baru. Para peserta didik harus dilatih tentang tata cara memecahkan masalah dengan mengembangkan kemampun berpikir yang terarah untuk menghasilkan gagasan mengenai berbagai kemungkinan memecahkan masalah, dalam kaitannya dengan upaya mencapai tujuan. Langkah-langkah pemecahan masalah Dalam proses pembelajaran, di samping perlunya penalaran yang baik, juga penting menguasai lingkungan langkah-langkah memecahkan masalah secara tepat. Langkah-langkah tersebut pada umumnya terdiri dari Siswa menghadapi masalah, artinya dia menyadari adanya suatu masalah tertentu Siswa merumuskan masalah, artinya menjabarkan masalah dengan jelas Siswa merumuskan hipotesis, artinya merumuskan kemungkinan-kemungkinan jawaban atas masalah tersebut, yang masih perlu diuji kebenarannya Siswa mengumpulkan dan mengolah data/ informasi dengan teknik dan prosedur tertentu BAB V KONSEP DASAR EVALUASI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN 1. PENGERTIAN KEDUDUKAN DAN SYARAT-SYARAT UMUM EVALUASI Mengapa evaluasi hasil belajar pembelajaran perlu dilakukan Karena dengan evaluasilah, akan diketahui apakah proses belajar mengajar, dimana pembelajaran dan guru berinteraksi, telah mencapai sasaran yang dikehendaki ataukah belum. Secara rinci, alasan-alasan bagi perlunya evaluasi pembelajar adalah sebagai berikut Kemampuan mengajar guru akan diketahui, setelah diadakan evaluasi. Taraf penguasaan pembelajaran terhadap materi pelajaran yang diberikan akan diketahui setelah diadakan evaluasi. Letak kesulitan pembelajar akan diketahui setelah diadakan evaluasi. Tingkat kesukaran dan kemudahan bahan pelajaran yang diberikan pembalajar akan diketahui setelah diadakan evaluasi. Termanfaatkan di dalamya sarana dan fasilitas pendidikan akan diketahui setelah adanya evaluasi. Remedi-remedi apa saja yang dapat diberikan kepada pembelajaran yang mengalami kesulitan juga. akan diketahui setelah melihat hasil Tujuan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan akan diketabui seberapa tingkat pencapaiannya setelah diadakan evaluasi. Pembelajar dapat dikelompokkan kedalam kelompok mana juga akan diketahui setelah evaluasi. Pembelajar mana yang perlu mendapatkan prioritas dalam bimbingan penyuluhan, dan mana yang tidak menjadi prioritas akan diketahui setelah evaluasi. Jelaslah bahwa evaIuasi sangat penting dilakukan guna memberikan pelayanan sebaik mungkin, dari lebih jauh sangat penting bagi pencapaian tujuan pendidikan. 1.1. Pengertian evaluasi Kata evaluasi merupakan serapan dari kata evaluation dalam Bahasa Inggris, yang lazim diartikan dengan penaksiran atau penilaian. Kata kerjanya adalah evaluate yang berarti menaksir atau menilai. Sedangkan orang yang menilai atau menaksir disebut sebagai evaluator (Echols, 1975). Secara harfiah kata evaluasi berasal dan bahasa Inggris Evaluation dalam bahasa Arab al-taqdir dalam bahasa Indanesia berarti penilaian. Akar katanya adalah value dalam Bahasa Arab al-qimah dalam bahasa Indanesia berarti nilai. Dengan demikian secara harfiah, evaluasi pendidikan (educationnal evaluation al-Taqdir al-Tarbawiy) dapat diartikan sebagai penilaian-penilaian dalam (bidang) pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Adapun dari segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwind Wandt dam Gerald W. Brown (1977) Evaluation refers to act or process to determining the value of something. Menurut definisi ini maka istilah evaluasi itu menunjuk kepada atau mengandung pengertian suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Apabila definisi evaluasi yang dikemukakan oleh Edwin Wandt dan geral W Brown itu untuk memberikan definisi tentang evaluasi pendidikan maka evaluasi pendidikan itu dapat diberi pengertian sebagai suatu tindakan atau kegiatan (yang dilaksanakan dengan maksud) atau suatia proses (yang berlangsung dalam rangka) menetukan nulai dari segala sesuatu dalam dunia pendidikan (yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan, atau yang terjadi di lapangan pendidikan). Atau singkatnya Evaluasi pendidikan adalah kegiatan atau proses penentuan nilai pendidikan, sehingga dapat diketahui mutu atau hasil-hasilnya. Mengingat sangat luasnya pembicaraan tentang penilaian pendidikan maka dalam buku ini, pembicaraan hanya akan dibatasi pada penilaian atau evaluasi yang dilaksanakan di sekolah. Berbicara tentang pengertian evaluasi pendidikan, di tanah air kita, lembaga administrasi negara mengemukakan batasan mengenai Evaluasi Pendidikan sebagai berikut Proses/ kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibanding tujuan yang telah ditentukan Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan. Secara teminologis, evaluasi dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut Grounlund (1976) mengartikan evaluasi sebagai berikut …. a sistematk process of determining the extent to which instructional objectives are achieved by the pupil. Nurkancana (1983) menyatakan bahwa evaluasi dilakukan berkenaan dengan proses kegiatan untuk menentukan nilai sesuatu. Raka Joni (1975) mengartikan evaluasi sebagai berikut suatu proses dimana kita mempertimbangkan sesuatu barang atau gejala dengan mempertimbangkan patokan-patokan tertentu, patokan-patokan mana mengandung pengertian baik tidak baik, memadai tidak memadai, memenuhi syarat tidak memenuhi syarat dengan perkataan lain kita menggunakan Value Judgement. Berdasarkan pengertian pengertian di atas, sangatlah jelas bahwa evaluasi adalah suatu proses menentukan nilai seseorang dengan menentukan patokan-patokan tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Evaluasi hasil belajar pembelajaran adalah suatu proses menentukan nilai prestasi belajar pembelajar dengan menentukan patokan patokan tertentu guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan sebelumnya. 1.2. Perbedaan Pengukuran dan Penilaian Sebelum dilakukan evaluasi, terlebih dahulu dilakukan pengukuran. Secara etimologis, pengukuran merupakan terjemahan dari measurement (Echols,1975). Secara terminologis, pengukuran diartikan sebagai suatu usaha untuk mengetahui sesuatu sebagaimana adanya. Oleh karena sesuatu yang diukur itu bermaksud diketahui secara apa adanya maka dalam pengukuran sedikitpun penafsiran mengenai sesuatu. Sebagaimana adanya mengandung sesuatu pengertian bahwa sesuatu yang diukur tidak boleh dibandingkan dengan sesuatu yang lainnya. Jika pengertian evaluasi dan pengukuran tersebut ditarik ke setting belajar dan pembelajaran maka dapat dikemukakan pengertian sebagai berikut Pengukuran adalah suatu upaya atau aktivitas yang dimaksudkan untuk mengetahui belajar pembelajaran sebagaimana adanya, meliputi hasil belajar pembelajaran, proses belajar pembelajaran, mereka yang terlibat dalam belajar pembelajaran (pembelajar dan guru). Penilaian atau evaluasi adalah suatu aktivitas yang bermaksud menentukan nilai belajar pembelajaran (baik belumnya/ tidaknya, berhasil belumnya/ tidaknya, memadai belum/ tidaknya, belajar pembelajaran, yang meliputi hasil belajar, proses belajar, dan mereka yang terlibat dalam belajar pembelajaran). Oleh karena pengukuran adalah salah satu kegiatan yang berada dalam evaluasi maka orang yang mengevaluasi sebenarnya juga melakukan aktivitas pengukuran. Evaluasi pendidikan, dengan demikian juga mencakup pengukuran pendidikan. Evaluasi belajar pembelajaran juga mencakup pengukuran belajar dan pembelajaran. 1.3. Pengertian Evaluasi Dalam Proses Pendidikan Berbicara tentang pengertian istilah evaluasi pendidikan ditanah air kita, Lembaga Administrasi Negara mengemukakan batasan mengenai evaluasi pendidikan sebagai berikut Evaluasi pendidikan adalah Proses atau kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan, dan Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan. Bertitik tolak dari uraian di atas maka apabila definisi tentang evaluasi pendidikan itu dituangkan dalam bentuk bagan berikut. Bagan tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa dalam proses penilaian dilakukan pembandingan antara informasi-infomasi yang telah berhasil dihimpun dengan kriteria tertentu, untuk kemudian diambil keputusan atau dirumuskan kebijaksanaan tertentu. Kriteria atau tolak ukur yang dipegangi tidak lain adalah tujuan yang sudah ditentikan terlebih dahulu sebelum kegiatan pendidikan itu dilaksanakan. BAGAN TENTANG EVALUASI PENDIDIKAN 2. KEDUDUKAN EVALUASI DALAM PROSES PENDIDIKAN Kedudukan evaluasi dalam belajar dari pembelajaran sungguh sangat penting, dan bahkan dapat dipandang sebagai bagian yang tak terpisalikan dengan keseluruhan proses belajar dan pembelajaran. Penting karena dengan evaluasi atom diketahui apakah belajar dan pembelajaran tersebut telah mencapai tujuuan ataukah belum. Dengan evaluasi juga akan diketahui faktor-faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan pembelajaran tersebut berhasil dari faktor-faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan pembelajaran tidak atau belum berhasil. Tidak hanya itu, dengan evaluasi juga diketahui dimanakah letak kegagalan dan kesuksesan belajar dan pembelajaran. Padahal dikehuinya hal tersebut, akan dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam mengadakan perbaikan belajar dan pembelajaran. Evaluasi juga punya kedudukan yang tak terpisahkan dari belajar dan pembelajaran secara keseluruhan, karena strategi belajar dan pembelajaran, proses belajar dan pembelajaran menempatkan evaluasi sebagai salah satu langkahnya. Hampir semua ahli prosedur sistem instruksional menempatkan evaluasi ini sebagai langkah-langkahnya. Perhatikan pula langkah-langkah pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli berikut, pasti kita akan tahu betapa tidak dapat terpisahkan evaluasi tersebut dengan keseluruhan proses belajar dan pembelajaran. Menurut Kauffman, langkah-langkah yang harus ditempuh dalitm belajar pembelajaran adalah dengan menggunakan model pemecahan masalah sebagai berikut Identifikasi masalah. Menentukan syarat-syarat dan altematif pemecahan masalah Memilih strategi pemecahan masalah. Melaksanakan pemecahan msalah. Menentukan keefektifan hasil Mengadakan revisi atas keseluruhan langkah a sampai dengan Iangkah e. Jelaslah bahwa langkah e (menentukan keefektifan hasil) pada dasarnya tidak berbeda dengan evaluasi itu sendiri. Dan dari langkah menentukan keefektifan hasil tersebut baru dapat dilakukan revisi atas keseluruhan langkah sebelumnya. Menurut Glaser, proses belajar pembelajaran haruslah menempuh prosedur-prosedur sebagai berikut Merumuskan teori pembelajaran (instuctional objectives), Memutuskan situasi permulaan siswa, Menentukan prosedur pembelajaran, Penilaian terhadap perfomansi, dan Umpan balik. Jelaslah bahwa evaluasi (sebagaimana pada langkah d) sangat diperlukan dan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam proses belajar pembelajaran. Hal serupa dapat juga dibaca pada prosedur belajar pembelajaran yang dikemukakan para ahli berikut. Menurut Kemp topics and general purposes, student characteristicts, learning objectives, Subjek content, Pre test, Teaching/ learning activities and resources, dan Evaluation. Menurut Gelder Merumuskan tujuan instruksional, Analisis situasi, Menentukan aktivitas guru, aktivitas pembelajar, mata pembelajaran dan alat bantu pembelajaran, dan Evaluasi. Menurut model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem lnstruksional) Merumuskan tujuan, Mengembangkan alat evaluasi, Merumuskan kegiatan belajar pembelajaran, Mengembangkan program kegiatan, dan Pelaksanaan kegiatan belajar pembelajaran. DAFTAR BACAAN Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran, PT Rajagrafindo, edisi ke 9 Jakarta. Djamara, S. B. dan Zain Awan. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Penerbit Rhineka Cipta, Cetakan ke tiga, Agustus, Jakarta. Hamalik, O. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar, Sinar Baru. Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta Bumi Aksara Handayani,Dewi. 2003. Pengertian Hasil Belajar. HYPERLINK http//id.shvoong.com/social-sciences/education/2046047-pengertian-definisi-hasil-belajar-dari/ http//id.shvoong.com/socialsciences/education/2046047-pengertian-definisi-hasil-belajar-dari/ (27/01/11) Nasution,S. 1995. Berbagai pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. JakartaBumi Aksara Natawijaya, Rochman. 2005. Aktivitas Belajar. Jakarta Depdiknas Sadiman,Arief S. 2007. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta PT Raja Grafindo Persada Roestiyah, N. K. 2008. Strategi Belajar Mengajar Penerbit Rhineka Cipta, Cetakan ke tujuh, Jakarta Slameto.2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta PT. Rineka Cipta Soetarno.2001. Pembelajaran Efektif. Bandung Dunia baru Sudjana, Nana. 2000. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung Sinar Baru Sukmadinata, N. S. 2004. Landasan Psikologis Proses Pendidikan. Penerbit PT Remaja Rosdakarta, Cetakan ke dua, Oktober, Bandung. Tohirin. 2005, Psikologi Pembelajaran PAI, Rineka Cipta, Jakarta. Usman, M. U. dan Setiawati, L. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Penerbit PT Remaja Rosdakarta, Cetakan pertama Bandung. Usman, Moh.Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung. Remaja Rosdakarya PAGE MERGEFORMAT 178 Tujuan Peralatan Metode Materi / Bahan Pelajaran Sumber Cara Belajar / Kegiatan CITA-CITA / ASPIRASI PEMBELAJAR MOTIVASI BELAJAR PEMBELAJAR PEROLEHAN BELAJAR PEMBELAJAR Kemampuan Pembelajaran Motivasi Belajar Pembelajaran Perolehan Belajar Pembelajaran Kemampuan Pembelajaran Motivasi Belajar Pembelajaran Perolehan Belajar Pembelajaran Kemampuan Pembelajaran Motivasi Belajar Pembelajaran Perolehan Belajar Pembelajaran Unsur dinamis belajar dan pembelajar Motivasi Belajar Pembelajaran Perolehan Belajar Pembelajaran Upaya guru membelajarkan Pembelajaran Motivasi Belajar Pembelajaran Perolehan Belajar Pembelajaran Hasil-hasil pendidikan yang telah dapat dicapai Proses / Kegiatan Pencapaian Tujuan Tujuan Pendidikan yang telah ditentukan Y, dXiJ(x(I_TS1EZBmU/xYy5g/GMGeD3Vqq8K)fw9
xrxwrTZaGy8IjbRcXI
u3KGnD1NIBs
RuKV.ELM2fiVvlu8zH
(W uV4(Tn
7_m-UBww_8(/0hFL)7iAs),Qg20ppf DU4p
MDBJlC5
2FhsFYn3E6945Z5k8Fmw-dznZxJZp/P,)KQk5qpN8KGbe Sd17 paSR 6Q